Antara Team Teaching dan Mengajar di Sekolah Lain; mana yang lebih berfungsi meningkatkan mutu pendidikan?


Mengajar minimal 24 jam perminggu inilah yang sekarang menjadi persoalan besar bagi guru-guru dalam jabatan baik guru swasta maupun guru PNS. Hal ini dikarenakan oleh berbagai hal di antaranya sebelum turunnya Undang-Undang no. 14 tentang guru dan dosen serta Peraturan Pemerintah no. 74 tahun 2008 tentang guru bahwa guru dipersyaratkan mengajar minimal 18 jam pelajaran perminggu disamping itu memang ada hal-hal lain yang dapat menyebabkan beban tatap muka guru dalam mengajar menjadi kurang dari 24 jam pelajaran perminggu.

Menurut Pedoman Perhitungan beban mengajar guru yang dikeluarkan Direktorat Jendral PMPTK Departemen Pendidikan Nasional tahun 2008 penyebab kekurangan jam mengajar tersebut antara lain adalah sebagai berikut: (1) Jumlah peserta didik dan rombongan belajar terlalu sedikit, (2)  jumlah Jam pelajaran dalam struktur kurikulum terlalu sedikit, (3) Jumlah guru di satu sekolah untuk mata pelajaran tertentu terlalu banyak, dan, (4) Sekolah pada daerah terpencil atau sekolah khusus yang kondisinya terjadi karena populasinya sedikit.

Dalam Buku Pedoman tersebut Pemerintah memberikan alternatif solusi bagi guru-guru yang jam tatap mukanya belum mencapai 24 jam perminggu diantaranya adalah dengan : (1) mengajar di sekolah atau madrasah lain baik negeri maupun swasta pada Kabupaten/kota yang sama sesuai mata pelajaran yang diampu, (2)  Menjadi Guru Bina/Pamong pada SMP Terbuka, (3) Menjadi Tutor pada program kelompok belajar Paket A, Paket B, dan Paket C.

Dalam pelaksanaannya, alternatif-alternatif tersebut banyak diabaikan oleh dinas pendidikan kota/kabupaten, sehingga banyak guru yang telah lolos sertifikasi melalui portofolio tetapi tidak menerima tunjangan profesi disebabkan oleh ketidakmampuan memenuhi kewajiban mengajar 24 jam/minggu.

Pada bulan Agustus 2009, terbit Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahub 2009, yang pada pasal 3 ayat 5 memberikan solusi kepada para guru yang tidak dapat memenuhi beban kerja 24 jam/minggu dapat memenuhi dengan: (1) mengajar mata pelajaran yang paling sesuai/serumpun atau matapelajaran yang tidak ada pengampunya, (2) mengelola taman bacaan, (3) menjadi tutor paket A, B, atau C, (4) menjadi guru bina/pamong pada sekolah terbuka, (5) menjadi pengelola program keagamaan, (6) mengelola Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM), (7) sebagai guru/instruktur pada kegiatan MGMP/KKG, (8) memberikan kegiatan mandiri terstruktur dalam bentuk pemberian tugas kepada peserta didik, (9) membina siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, (10) membina pengembangan diri peserta didik, (10) kegiatan lain yang berkaitan dengan pendidikan masyarakat, (11) melaksanakan pembelajaran bertim (team teaching), dan/atau  (12) kegiatan pembelajaran perbaikan (remedial).

Di antara alternatif-alternatif tersebut, yang paling banyak dibicarakan adalah mengajar di sekolah lain dan pembelajaran bertim, di mana dinas pendidikan kabupaten/kota lebih cenderung menyarankan untuk alternative yang pertama, mengajar di sekolah lain, dan menolak atau menidakbolehkan pembelajaran bertim (team teaching) sebagai solusi penambahan beban mengajar.

Melaksanakan Team Teaching

Prinsip umum team teaching adalah, ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung di sebuah kelas, di situ ada lebih dari satu guru. Sebenarnya ada beberapa model team teaching, dan kemungkinan lebih dari satu model dapat di lakukan dalam satu jam pelajaran.

Team teaching tradisional adalah sebuah model dimana dua orang guru mengajar dalam satu kelas dan mereka berbagi tanggung jawab yang sama dalam mengajar pada siswa-siwanya dan secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran selama jam pelajaran berlangsung. Misalnya, salah satu guru melaksanakan pembelajaran, sedangkan guru yang satunya lagi menulis atau membuat catatan di papan tulis.  Sekali lagi, ini team teaching model tradisional. Model-model yang lebih menantang dan signifikan dapat meningkatkan mutu pendidikan, antara lain: (1) “Supported Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching dimana salah seorang guru menyampaikan materi ajar dan satu guru lainnya melakukan kegiatan tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan rekan satu timnya tadi, (2) “Parallel Instruction” adalah sebuah bentuk team teaching yang pelaksanaannya siswa dibagi menjadi dua kelompok dan masing-masing guru dalam kelas tersebut bertanggungjawab untuk mengajar masing-masing kelompok, (3) “Differencaiated Split Class” adalah team teaching yang pelaksanaannya dengan cara membagi siswa ke dalam dua kelompok berdasarkan tingkat ketercapaiannya. Salah satu guru melakukan pengajaran remedial kepada siswa yang tingkat pencapaian kompetensinya kurang (tidak mencapai KKM) sedang guru yang lain melakukan pengayaan kapada mereka yang telah mencapai dan/atau yang telah melampaui tingkat ketercapaian kompetensinya (mencapai atau melebihi KKM), (4) “Monitoring Teacher” adalah model lain dari team teaching. Model ini dilaksanakan dengan cara salah satu guru dipastikan melakukan peran sebagai pengajar yang memberikan pembelajaran di kelas, sedangkan yang lainnya berkeliling kelas memonitor perilaku dan kemajuan siswa.

Di dalam satu jam pelajaran team teaching dapat diterapkan lebih dari satu model yang berbeda dari model-model team teaching yang telah disebutkan di atas tadi.

Dampak Positif Team Teaching

Dalam team teaching sekelompok guru, bekerja bersama-sama, merencanakan, melakukan proses pembelajaran, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran kepada sekolompok siswa (satu kelas). Maka setidaknya, kelemahan dalam hal tertentu pada diri seorang guru, dapat ditutup oleh guru yang lain.

Dalam prakteknya, team teaching mempunyai format yang berbeda-beda tetapi pada umumnya team teaching merupakan strategi dalam mengorganisasikan guru, sehingga dapat memacu percepatan dan peningkatan mutu  pembelajaran.

Kelompok atau team terdiri atas guru-guru yang  mempunyai kompetensi dan keahlian yang mungkin saja berbeda, tapi mereka harus bergabung dalam satu team work untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran pada jam pelajaran dan kelas atau rombongan belajar yang sama. Untuk memfasilitasi proses ini ruang kelas yang biasa diergunakan dapat ditata sedemikian rupa sehingga menyenangkan.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh sekelompok penulis yang tergabung dalam State University Amerika yang mengatakan bahwa team dapat terdiri atas satu mata pelajaran saja atau pun interdisiplin, artinya terdiri atas lebih dari satu mata pelajaran, atau bahkan team dapat terdiri dari guru yang berasal dari sekolah yang berbeda.

Sebuah team dapat pula menggabungkan guru baru dengan guru yang sudah berpengalaman, sehingga dapat terjadi levelling mechanisme, guru baru dengan sengaja atau tidak sengaja belajar kepada guru yang sudah berpengalaman.

Idealnya dalam sebuah team teaching, guru-guru yang terlibat memunculkan inovasi-inovasi pembelajaran, atau  memodifikasi jumlah siswa dalam satu kelas, lokasi belajar, dan alokasi waktu yang telah ditentukan sejauh tidak menyalahi aturan.  Kepribadian guru,  suara, nilai-nilai yang dibawakan oleh lebih dari satu guru, dalam sebuah kegiatan belajar-mengajar,  dan juga pendekatan yang berbeda-beda serta variasi penggunaan media akan menjadi menarik perhatian para peserta didik, dan dapat menghindari kebosanan.  Sehingga harapannya,  dengan team teaching akan menanambah efektifitas dan efisiensi pembelajaran .

Dalam pelaksanaan team teaching, guru guru yang tergabung haruslah kompak dan tidak mementingkan dirinya sendiri, harus saling bekerja sama, mendiskusikan pembelajaran, mulai dari penyusunan silabus, pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pemilihan materi ajar, penentuan atau pembuatan media pembelajaran yang efektif, penentuan metode pembelajaran yang cocok untuk materi yang disepakati serta menyusun penilaian untuk proses pembelajaran maupun hasil belajar.

Dengan adanya kerjasama yang saling menguntungkan antara guru yang tergabung dalam team teaching tersebut yang seluruh anggota teamnya berkonsentrasi untuk membuat siswa belajar secara efektif, inovatif, kreatif, menantang dan menyenangkan, maka pekerjaan guru secara individu akan semakin ringan dan pembelajaran akan semakin tidak membosankan siswa, sebab pekerjaan yang dilakukan oleh satu team akan lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan individu.

Kelemahan dari Team Teaching

Dalam melaksanakan team teaching para guru dituntut untuk mempunyai waktu ekstra dalam sinkronisasi pemikiran, pendapat dan ide-ide cemerlang agar dalam menghadapi kelas mereka adalah satu kesatuan yang kompak dan solid, dan ini perlu pembiasaan serta kedisiplinan yang tinggi. Sebab apabila salah satu anggota team tidak disiplin dan tidak mau berbagi pengalaman maka akan rusaklah team teaching yang dibentuk tersebut.

Jadi, memang tidak selamanya team teaching itu akan sukses atau berhasil, tentunya ada beberapa kelemahan dari team teaching. Di antara kelemahan-kelemahan tersebut muncul karena anggota team sendiri.

Beberapa kelemahan team teaching: (1) sebagian guru resisten terhadap satu macam metode pengajaran saja yaitu pengajaran single teacher teaching sehingga team teaching dirasakan suatu hal yang mengungkungnya, (2) Sebagian guru tidak suka dengan anggota teamnya sehingga hal ini akan menghambat kerjasama diantara anggota team, (3) Sebagian lainnya merasa bahwa mereka bekerja lebih banyak dan lebih keras, namun gajinya sama dengan anggota teamnya yang nota bene bekerjanya lebih malas, (4) Ada pula yang tidak mau berbagi ilmu dengan anggota teamnya, karena mereka merasa susah untuk mendaptkan ilmu tersebut sehingga mereka menikmatinya sendiri, (5) team teaching memerlukan energi dan pemikiran lebih banyak dibanding dengan mengajar secara individu.

Mungkin masih ada lagi kelemahan kelemahan yang lain, namun penulis yakin bahwa kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi sejauh seluruh anggota team dan mereka yang ada di luar team –mungkin pimpinan sekolah dan juga pihak-pihak yang berwenang mengambil keputusan– menyadari bahwa team teaching akan lebih baik dari individual teaching,  maka kelemhan-kelemahan tersebut dapat diatasi dengan baik.

Mengajar di sekolah lain

Alternatif lain adalah mengajar di sekolah lain. Ini cenderung disarankan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota.  Keuntungan apa yang dapat diambil dari guru mengajar di tempat lain dalam konteks peningkatan mutu pendidikan tidak mudah ditemukan, kecuali barangkali pemerataan mutu pendidikan, kalau guru yang mengajar di tempat lain tersebut memang memiliki kompetensi bagus.

Selebihnya adalah masalah-masalah, antara lain: (1) guru yang bersangkutan kurang focus perhatiannya karena harus berbagai dengan anak didiknya yang ada di sekolah lain, (2) manajemen waktu/jadwal pelajaran. Beberapa guru memerlukan tambahan waktu yang sangat signifikan, bisa sampai 12 jam pelajaran. Hal ini banyak terjadi di sekolah favorit untuk program tertentu, misalnya IPS, yang jumlah rombongan belajarnya minimal. Ketika seorang guru hanya mengajar di sekolah induknya 12 jam/minggu, ia harus mencari tambahan di sekolah lain 12 jam/minggu. Maka ia akan mengajar di sekolah lain tidak hanya satu atau dua hari, tetapi bisa saja tiga hari, artinya guru tersebut harus meninggalkan sekolahnya dua atau tiga hari, padahal dalam kenyataannya tugas guru di sekolah tidak hanya mengajar, tetapi juga sebagai guru piket/jaga harian, wali kelas, tim adhoc kegiatan sekolah, dan lain-lain yang semuanya tidak diperhitungkan sebagai tugas profesi guru, kecuali kepala sekolah dan wakil kepala sekolah (SMA/SMP) atau kepala instalasi, kepala bengkel (SMK).

Mana yang lebih berfungsi meningkatkan mutu pendidikan?

Team Teaching sebagai salah satu solusi menggenapi kewajiban beban mengajar 24 jam/minggu seringkali menjadi perdebatan di antara guru, kepala sekolah, dan pihak dinas pendidikan. Hal ini karena bisa saja ketidakjelasan pelaksanaan Team Teaching tersebut.  Memang ada guru yang melaksanakan team teaching  sebatas namanya saja, yang penting ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung dalam satu kelas ada lebih dari satu orang guru, mengenai apa yang dikerjakan oleh guru guru dalam team teaching tersebut tidak terlalu diperhatikan.  Nah, team teaching yang seperti inilah yang kadang-kadang membuat pimpinan sekolah atau pihak dinas pendidikan kabupaten/kota tidak mau menerimanya, bahkan ada dengan tegas melarang team teaching sebagai solusi penambahan beban mengajar, dan menyarankan untuk mencari tambahan jam mengajar di sekolah lain.

Dalam prakteknya, mencari tempat mengajar di sekolah lain tidaklah mudah. Sebab, sekolah lain pun menghadapi masalah yang sama. Bahkan sekolah swasta pun harus memperlakukan guru mereka sama seperti guru PNS yang harus memenuhi 24 jam pelajaran perminggu. Artinya tidak semua guru dapat melakukan hal tersebut, apalagi bagi guru yang memang berdasarkan struktur kurikulum jam pelajarannya sedikit misalnya hanya 2 jam pelajaran perminggu, kelebihan formasi guru, serta rombongan belajarnya juga sedikit.

Oleh karena itu, apabila ada pihak dinas pendidikan kabupaten/kota tidak membolehkan (melarang) para gurunya untuk memenuhi beban mengahar 24 jam/mg   dengan  team teaching,  justru akan kontra produktif. Guru yang telah bersertifikat profesi guru, tetapi karena jam tatap mukanya kurang dari 24 jam/mg tidak diakui profesionalitasnya, dapat saja justru frustrasi dan kehilangan ethos kerja karena tidak dapat menerima tunjangan profesi, meskipun bisa saja guru tersebut mempunyai kompetensi yang tinggi dalam pengelelolaan kelas, strategi mengajar, maupun penggunaan berbagai sumber belajar.  Profesionalitasnya tidak akan diakui karena kewajiban beban mengajarnya tidak terpenuhi. Hal ini bertentangan dengan adanya pilar ketiga dari peningkatan mutu pendidikan yaitu meningkatkan kesejahteraan guru.

Saya pribadi seorang guru di sebuah SMA, yang rombongan belajar untuk program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang saya ampu minimal, sehingga jumlah jam per minggu untu mata pelajaran yang saya ampu hanya 22 jam pelajaran, dengan dua orang guru pengampu.

Jadi, ketidakmampuan saya memenenuhi kewajiban mengajar 24 jam/minggu bukanlah kesalahan saya, melainkan karena srtruktur kurikulum, jumlah rombongan belajar, dan formasi guru.

Adakah solusi untuk saya? Rotasi ke sekolah lain? Siap!

About these ads

8 thoughts on “Antara Team Teaching dan Mengajar di Sekolah Lain; mana yang lebih berfungsi meningkatkan mutu pendidikan?

  1. hal lain yg juga penting adalah hasil dari pembelajaran tersebut…dan perbandinngan dalam jangka panjang utk murid yg berbeda2…akan stabilkan pencpaian yg di peroleh semua siswa secara rata2…

  2. Saya setuju dengan pendapat bahwa kita adalah guru dan atasannya adalah kepala sekolah. Berarti tugas kita di sekolah adalah di”beri”oleh kepala sekolah. Kalau tugas mengajar kita kurang, maka yang disalahkankan bukan kita(guru) tetapi haruslah yang memberi tugas ( kepala sekolah).
    Hal negatif yang timbul apabila kebijakan sekarang diterapkan :
    1. Suasana sekolah tak kondusif. Ada sebagian guru yang kecewa, misal: jam mengajarnya terambil oleh guru lain.
    2. Banyak guru yang mengemis ke sekolah lain untuk minta tugas mengajar, ini jelas merendahkan dirinya sendiri.
    3. Kenakalan siswa akan meningkat, karena siswa akan berkurang termonitor oleh guru, karena gurunya banyak yang mempunyai tugas diluar demi mengejar 24 jam.
    Hal yang bijaksana adalah sebenarnya sebagai berikut :
    1. tugas guru 24 jam adalah sebagai patokan kepala sekolah dalam memberi tugas kepada guru, dan bukanlah sebagai patokan beban tugas guru. Artinya apabila kurang, jangan merugikan guru.
    2. Tugas guru sebaiknya menggunakan hari kerja fulltime. Misalnya : guru wajib 4 hari kerja pukul 07.00-16.00. Masalah mengatur tugasnya adalah kepala sekolah. Guru hanya siap menerima tugas. Kepala sekolah harus kreatif , bagaimana cara memberdayakan guru selama 4 hari tersebut. Malah kalau dihitung jam , maka lebih dari 24 jam. Dengan demikian guru jangan dipusingkan dengan mencari tugas ( LUCUUU). Bayangkan, “polisi wajib menilang 24 kendaraan/minggu, jika tidak nilang tetangga”, ” dokter gigi wajib cabut 24 gigi/mg, jika tidak , cabut gigi tetangga”, “bidan wajib membantu persalinan 24 orang/mg, jika tidak membantu persalinan siapa?.
    Marilah kepada rekan-rekan untuk mengusulkan suatu aturan yang lebih bijaksana.
    Jika guru disuatu sekolah berlebih, kenapa tidak dimutasi ?, guru harus siap dimuatsi. Malahan lebih baik , tipa 4 th sekali harus ada rolling guru.
    jadi janganlah membuat aturan yang membuat suasana sekolah tidak kondusif.

  3. wow … makasih atas komennya yang mencerahkan …. yang Anda utarakan semua betul dan saya setuju …. tentang dampak dari guru menggenapi 24 jam dengan mengajar di sekolah lain telah kami rasakan juga … di beberapa tempat malah diterapkan standar ganda, di satu sisi guru harus berada di sekolah 37,5 jam, tetapi juga harus memenuhi beban mengajar 24 jam/minggu … akhirnya ketika dua standar itu — yang sebenarnya berbeda– diterapkan … terjadi benturan ketentuan. Tidak mungkin guru berada di sekolah 37,5 jam per minggu kalau harus mengajar 24 jam dengan tambahn tigas di sekolah lain.

    Banyak guru seperti saya sudah tidak berdaya menghadapi ketentuan ini, tinggal bisa dengan usaha yang paling lemah … berdoa, semoga pengambil keputusan dicerahkan pemikirannya dan diampuni dosa-dosanya atas kebijakan yang menganiaya guru.
    terimakasih.

  4. saya sangat seuju jikka masalah beban kerja diselesaikan dengan pembelajaran bertim, melihat paparan diatas bahwa kelemahan pembelajaran bertim adalah pada gurunya. bukan model pembelajarannya
    dengan pembelajaran bertim, akan meningkatkan kompetensi guru, kkarena merasa selalu dimonitor oleh teman sejawatnya

  5. Pingback: Pembelajaran Bertim Solusi Beban Kerja Guru « ICT Barito Timur

  6. alhamdulillah, saya sangat setuju kekurangan 24 jam diselesaikan bertim, supaya ada dampak terhadap peningkatan mutu pendidikan monitor..monitor….., harus ada bedanya pembelajaran bertim dan individu

  7. Menurut pemahaman saya dalam memahami pasal 3 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahub 2009, “Pembolehan” team teaching itu khusus untuk guru.
    1) guru kondisi khusus
    2) guru berkahlian khusus
    3) guru atas pertimbangan kepentingan nasional
    Jadi diluar ketiga kondisi itu team teaching tidak diperbolehkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s