Dimensi Gerakan Sosial, Perilaku, dan Perilaku Kolektif Dalam Hubungan Antar-Kelompok


Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya, yaitu Perkembangan dan Dinamika Hubungan Antar-Kelompok, yang merupakan bahan ajar kelas XI IPS. Saya merasa perlu segera menuliskan bahan ajar yang dibelajarkan pada Kamis, 10 Maret 2011 yang tidak optimal karena tiba-tiba listrik padam, karena ini merupakan bagian akhir dari bahan ajar yang akan diulangantengahsemesterkan mulai 22 Maret 2011.

Dimensi Gerakan Sosial (social movement)

Hubungan antar-kelompok, baik yang berbentuk hubungan antar-ras, antar-etnik, antar-agama, antar-generasi, antar-jenis kelamin, antara penyandang cacat mental atau fisik dengan mereka yang sehat jasmani atau rohani, ataupun antara orang-orang konformis dengan para penyimpang, sering melibatkan gerkan sosial, baik yang diprakarsai oleh pihak-pihak yang menginginkan perubahan maupun oleh pihak-pihak yang mempertahankan keadaan.

Contoh gerakan sosial adalah seperti yang diberitakan dalam Majalah Times 13 November 1989 bahwa kaum homoseks di Amerika Serikat memperjuangkan hak untuk menjadi rohaniawan agama Katholik dan berbagai sekte dalam agama Protestan, untuk menjadi anggota angkatan bersenjata, dan untuk menjadi guru di sekolah.

Di berbagai negara kita juga sering mendengar kaum perempuan berorganisasi dalam gerakan pembebasan kaum perempuan dan menentang praktik diskriminasi serta pelecehan seksual.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan gerakan sosial?

Gerakan sosial merupakan suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat. Gerakan sosial merupakan salah salah satu bentuk perilaku kolektif, tetapi berbeda dengan perilaku kolektif pada umumnya. Pada gerakan sosial ditemukan adanya “tujuan dan kepentingan bersama”. Pada perilaku kolektif pada umumnya, setelah para supporter sepak bola itu merusak stadion dan mobil-mobil yang diparkir, stasiun kereta api, atau fasilitas umum lainnya, karena tidak mempunyai tujuan dan kepentingan bersama, kemudian berhenti begitu saja.

Gerakan sosial ditandai oleh adanya tujuan jangka panjang, yaitu untuk mengubah atau mempertahankan keadaan tertentu atau institusi yang ada di dalam masyarakat. Sepertihalnya gerakan mahasiswa Indonesia pada tahun 1965-1966 yang dilancarkan hampir setiap hari, bertujuan mengubah kebijakan ekonomi pemerintahan (pembubaran kabinet, penurunan harga, dan pembubaran Partai Komunis Indonesia).  Gerakan mahasiswa di Amerika Serikat menentang perang Vietnam pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an baru berakhir setelah pasukan Amerika Serikat meninggalkan Vietnam Selatan. Contoh lain, gerakan mahasiswa di China yang akhirnya ditindas dengan kekuatan militer di lapangan Tienanmen, merupakan upaya untuk memperjuangkan demokratisasi di Republik Rakyat China. Demikian juga Green Peace yang merupakan gerakan sosial internasional yang melawan semua praktik yang menurut mereka akan mengancam pelestarian lingkungan hidup.

Ada ciri lain yang dikemukakan para sosiolog, bahwa gerakan sosial dalam melakukan perjuangannya mengambil cara-cara yang berada di luar institusi, misalnya pemogokan, pawai dan demonstrasi tanpa izin, mogok makan, intimidasi, konfrontasi dengan aparat keamanan, dan sebagainya.

Gerakan sosial bermacam-macam bentuknya. Apabila dilihat berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yang dikehendaki, maka adalah

  1. Alternative Social Movements
  2. Redemtive Social Movements
  3. Reformative Social Movements
  4. Transformative Social Movements

Perhatikan tabel berikut!

 

Tipe Perubahan Yang Dikehendaki
Perubahan Perorangan Perubahan Sosial
Besarnya Perubahan Yang Dikehendaki Perubahan Sebagian ALTERNATIVE SOCIAL MOVEMENTS REFORMATIVE SOCIAL MOVEMENTS
Perubahan Menyeluruh RODEMPTIVE SOCIAL MOVEMENTS TRANSFORMATIVE SOCIAL MOVEMENTS

Keterangan tabel:

  1. Alternative Social Movements, merupakan gerakan sosial yang menginginkan perubahan pada sebagian perilaku perorangan, misalnya gerakan anti-merokok, anti-narkoba, kampanye anti AIDS, dan sebagainya.
  2. Redemptive Social Movements, merupakan gerakan sosial yang menginginkan perubahan menyeluruh pada perilaku perorangan, misalnya gerakan agar orang-orang untuk bertobat dan mengubah cara hidupnya dengan lebih merujuk pada ajaran agama
  3. Reformative Social Movements, merupakan gerakan sosial yang menginginkan perubahan pada segi-segi tertentu masyarakat, misalnya gerakan kaum perempuan untuk memperoleh hak-haknya sama dengan kaum laki-laki, gerakan kaum homoseks untuk mendapatkan pengakuan akan gaya hidup mereka, dan sebagainya.
  4. Transformative Social Movements, merupakan gerakan sosial yang menginginkan perubahan menyeluruh dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya gerakan kaum Khmer Merah yang ingin mengubah masyarakat Kamboja sebagai masyarakat komunis, Revolusi di Uni Soviet tahun 30-an, Revolusi China pada tahun 1949, dan sebagainya.

Klasifikasi lain tentang gerakan sosial dikemukakan oleh Kornblum, yaitu (1) revolutionary movements, (2) Reformist Movements, dan (3) conservative movements.

Revolutinary Movements merupakan jenis gerakan sosial yang menginginkan perubahan yang menyeluruh pada sendi-sendi kehidupan masyarakat, baik itu sistem sosial, sistem budaya, sistem ekonomi, maupun sistem politiknya.

Misalnya, revolutionary Movements masyarakat Rusia pada tahun 1917 yang berhasil mengubah sistem sosial, budaya, ekonomi, maupun politik Rusia menjadi sistem komunis. Demikian juga yang terjadi di China pada 1949. Kedua peristiwa ini memenuhi syarat revolusi yang dikemukakan oleh Antony Giddens, bahwa sebuah revolusi itu; (1) melibatkan gerakan sosial secara massal, (2)  menghasilkan proses reformasi atau perubahan, dan (3) menggunakan ancaman dan kekerasan.

Reformative atau reformist Movements merupakan gerakan sosial yang menginginkan perubahan pada segi-segi tertentu kehidupan masyarakat. Misalnya gerakan Boedi Oetomo (1908) atau Syarikat Islam (1912) yang menginginkan terpenuhinya hak-hak memperoleh pendidikan di kalangan pribumi.

Sedangkan conservative movements, merupakan gerakan sosial yang mempertahankan suatu keadaan atau isntitusi yang ada dalam masyarakat.

Dimensi perilaku dan perilaku kolektif

Dimensi perilaku dalam hubungan antar-kelompok dapat berupa diskriminasi atau menempatkan anggota-anggota kelompok lain dalam jarak sosial tertentu.

Diskriminasi merupakan the differential treatment (perlakuan yang berbeda) terhadap orang-orang yang memiliki kategori tertentu. Kriteria tertentu ini bisa warna kulit dan ciri-ciri fisik-biologis yang lain (ras, jenis kelamin, penyandang cacat tertentu), agama, daerah, etnik, kelompok sosial, dan  sebagainya.

Dalam banyak masyarakat dan negara sering kaum perempuan lebih kesulitan memperoleh hak-haknya dalam pendidikan dan pekerjaan daripada kaum laki-laki.

Apa yang dimaksud dengan jarak sosial (social distance)?

Diskriminasi yang merupakan perlakuan berbeda terhadap orang-orang berkategori tertentu, akan menghasilkan jarak sosial, yaitu derajat penerimaan atau kesediaan untuk menerima orang-orang berkategori tertentu, dalam hal pertemanan, menikah, bekerja di kantor yang sama, menjadi anggota dalam tim kerja tertentu, bertetangga atau tinggal dalam satu kawasan, atau sekedar kenal saja, dan sebagainya.

Salah satu indicator jarak sosial adalah perilaku menjauhi orang-orang dari kelompok tertentu. Pernikahan antar etnis akan menunjukkan jarak sosial tertentu di antara kelompok etnis yang bersangkutan, karena pernikahan tidak saja akan menyatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang berbeda etnis itu, melainkan juga para kerabatnya. Kesediaan orang tua menerima menantu dari etnis lain menunjukkan tidak adanya jarak sosial yang jauh. Bandingkan dengan perilaku endogamy pada beberapa kelompok. Demikian juga perilaku berteman di antara orang-orang yang berbeda etnis atau berbeda agama atau kategori yang lain.

Apa yang dimaksud dengan perilaku kolektif?

Kecenderungan orang-orang adalah berperilaku dengan berpedoman pada institusi yang berlaku. Perilaku orang-orang di pasar akan berpedoman pada institusi ekonomi, demikian juga perilaku orang ketika di mimbar politik, akan memedomani ketentuan-ketentuan pada isntitusi politik. Ketika seseorang masuk ke dalam sebuah masjid, maka perilaku orang itu pun akan menyesuaikan diri dengan ketentuan-ketentuan baku cara berperilaku di masjid.

Namun, terkadang kita melihat sejumlah anggota masyarakat secara berkelompok atau berkerumun menampilkan perilaku yang tidak berpedoman pada institusi yang ada, misalnya sekelompok massa menghacurkan tempat ibadah dari agama yang berbeda dengan mereka, supporter sepakbola merusak stadium dan fasilitas umum serta kendaraan yang diparkir di sekitarnya, sekolompok orang menyerang desa yang diidentifikasi merupakan tempat praktik ajaran yang mereka anggap sesat, dan sebagainya.

Termasuk dalam perilaku kolektif adalah perilaku para nasabah bank berbagai kota yang menarik dananya. Pada tahun 1992, ketika Bank Summa kalah kliring dan izin operasinya dicabut oleh pemerintah, maka isu bahwa bank swasta lain juga akan mengalami hal yang sama, mendorong orang-orang (nasabah bank) di berbagai kota beramai-ramai mendatangi bank di mana mereka menjadi nasabahnya untuk menarik dana yang ia simpan, baik dalam bentuk rekening tabungan, deposito berjangka, rekening Koran, dan memindahkannya ke bank-bank milik pemerintah. Demikian juga, ketika terdengar isu, pemerintah akan mendevaluasi rupiah, orang-orang pun berduyun-duyun membelanjakan uangnya untuk memborong barang atau ke bank untuk menukarkan uangnya dengan valuta asing.

Dari contoh-contoh tersebut kita dapat mengambil pengertian tentang perilaku kolektif sebagai perilaku yang (1) dilakukan oleh sejumlah besar orang secara bersama-sama, (2) tidak bersifat rutin, dan (3) merupakan tanggapan terhadap rangsangan tertentu.

Untuk lebih dapat memahami tentang perilaku kolektif, coba renungkan peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi di masyarakat kita, misalnya (1) peristiwa penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di berbagai tempat, (2) peristiwa kerusuhan di Temanggung, (3) gerakan massa menentang pemilhan pengurus PSSI, dan sebagainya.

Sumber:

Kamanto Sunarto. 200. Pengantar Sosiologi Edisi Revisi. Jakarta: Penerbit FE UI.

About these ads

7 thoughts on “Dimensi Gerakan Sosial, Perilaku, dan Perilaku Kolektif Dalam Hubungan Antar-Kelompok

  1. luarr biasaa. sy harus lebih sering2 buka web ini buat belajar sosiologi, dan mungkin bs merembet ke psikologi sosial.

  2. fotomdengan keterangan sbb :Polisi mencoba mencegah warga untuk melakukan aksi anarki terhadap jamaah Ahmadiyah yang sedang berkumpul di rumah Suparman.

    sepertinya itu bukan tindakan anarki, karena islam tidak mengenal anarki, apalagi akan rancu jika anarki diidentikan dengan penyerangan terhadap kelompok lain, sepertinya itu adalah perilaku vandal, mohon di chek kemabali penggunaan kata dan istilah.

  3. ASSALAMUALAIKUM WR, WB ,

    Nyuwun sewu pak.. saya ibu rumah tangga yang bingung karena anak2 kurang bisa belajar sosiologi suwun sanget alhamdullilah saya bisa belajar kepada pakarnya sekali lagi matur suwun sanget

    • Ibu Tri … maturnuwun sempat mampir di blog saya …
      Blog ini memang dibuat untuk memudahkan komunikasi bahkan interaksi dengan –khususnya anak2 murid saya– tetapi lebih dari itu — blog ini (semoga) dapat menjadi media belajar sosiologi bagi siapa saja, termasuk –tentu saja– diri saya sendiri ….
      Sekali lagi, makasih Bu … smoga tidak bingug lagi ….

      Salam
      Agus Santosa
      SMA Negeri 3 Yogyakarta

  4. Pingback: Platini: Liga Champions Rindukan Juventus – Republika Online | www.AgenBola855.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s