Empat Belas Prinsip Pembelajaran Sesuai Kurikulum SMA/MA 2013. Akan konsistenkah?


Hampir satu tahun Kurikulum SMA/SMA 2013 diterapkan di sekolah-sekolah menengah (SMA/MA) yang ditunjuk. Pada umumnya sekolah-sekolah eks RSBI. Para peserta didik yang menggunakan kurikulum baru itu dua bulan lagi akan naik ke satu jenjang kelas yang lebih tinggi, menjadi kelas XI SMA/MA. Dan, menurut informasi, pada tahun ajaran 2014/2015 semua sekolah “harus” menerapkan kurikulum baru untuk kelas X maupun XI. Hal ini pun menuai reaksi dan masalah yang tersendiri, tentang matrikulasi pokok-pokok materi, pendekatan, metode dan strategi pembelajaran, dan yang jelas sistem penilaian. Kurikulum lama menggunakan rentang nilai 1-100, sedang kurikulum baru menggunakan rentang 1-4. Bagaimana konversinya? Rapot (LHBS) kelas X menggunakan kurikulum lama, tetapi nanti akan menggunakan kurikulum baru. Desakan untuk share pengalaman tentang pelaksanaan kurikulum baru dari teman-teman di MGMP pun muncul. Pada tulisan ini hanya akan mengantarkan (memperkenalkan) tentang pendekatan, metode, dan strategi pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum baru. Continue reading

Hasil Konvensi UN dulu itu …


Ujian-Nasional-UNKonvensi Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mulai 26 sampai dengan 27 September 2013 ternyata bukan untuk membicarakan penting tidaknya atau perlu tidaknya UN di sekolah dasar dan menengah.  Konvensi itu bertujuan (hanya) untuk mencari model penyelenggaraan UN yang kredibel, reliabel, dan akuntabel.   jadi, apapun keadaannya, UN bagi pemerintah (Kemdikbud) harus tetap berlangsung, karena UN adalah salah satu keharusan dalam pembangunan pendidikan di Indonesia, walaupun beberpa elemen pelaku dan penggiat pendidikan konsisten menyuarakan pandangan bahwa UN tidak diperlukan untuk pembangunan pendidikan yang lebih manusiawi dan lebih baik, berdasarkan pertimbangan berbagai hal, termasuk belum meratanya mutu pendidikan di Indonesia. Terkait dengan hal tersebut, bersamaan dengan Konvensi UN Resmi, juga berlangsung Konvensi UN oleh masyarakat, yang tampaknya apapun hasilnya tak akan pernah dilirik oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Continue reading

Sosiologi dalam Kurikulum SMA/MA 2013


kurikulum-baruAkhirnya, setelah mengalami revisi, pembelajaran sosiologi di SMA sesuai Kurikulum 2013 jelas sudah wujudnya. Kalau dalam draft terdahulu akan digabungkan dengan Antropologi, dan ini mendapatkan banyak reaksi dari para ahli Sosiologi di perguruan tinggi, karena perkawinan antara Sosiologi dengan Antropologi dalam pembelajarannya di SMA diprediksi akan melahirkan kekacauan konsep, mengingat ada beberapa perbedaan sudut pandang dan metodologi di antara keduanya dalam melakukan peng(k)ajian terhadap masyarakat. Continue reading

Nilai, Norma, dan Sanksi


28330_1466537586607_1328553993_31252599_4765338_nApabila kita hendak mempelajari kebudayaan suatu masyarakat, pada dasarnya kita mempelajari nilai (value) yang dianut oleh sebagian besar warga masyarakat tersebut. Nilai merupakan ide atau gagasan mengenai kehidupan yang dikehendaki. Jika kita mengungkapkan nilai yang dianut oleh seseorang, maka kita    sama saja dengan mengungkapkan anggapan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang pantas dan tidak pantas, yang mulia atau yang hina, menurut orang tersebut. Nilai akan menjadi preferensi dan menjadi pedoman atau panduan bagi para penganutnya dalam melakukan pilihan-pilihan, dan mengindikasikan apa yang dianggap berharga bagi orang tersebut.

Setiap kelompok atau masyarakat mengembangkan harapan mengenai cara-cara yang benar untuk merefleksikan nilai-nilainya. Para sosiolog menggunakan norma (norm) untuk menggambarkan harapan-harapan tersebut, atau aturan perilaku, yang berkembang dari nilai-nilai suatu kelompok/masyarakat.  Continue reading

Penyerderhanaan Masalah Dalam Konflik Horizontal


Ada artikel bagus yang saya temukan pagi hari ini di Koran Tempo. Artikel yang ditulis oleh Suhardi Alius, Kepala Divisi Humas POLRI ini kiranya akan dapat lebih menjelaskan tentang permasalahan yang muncul atau menjadi sumber dari konflik sosial horizontal, sebagaimana telah mulai dipelajari oleh anak-anak SMA pada kelas XI IPS.

“Konflik adalah fenomena sosial yang selalu ditemukan di dalam setiap masyarakat”, demikian Suhardi Alius memulai artikelnya. Konflik tidak pernah bisa dihilangkan karena setiap hubungan sosial mempunyai potensi menghasilkan konflik. Semakin demokratis sebuah negara, semakin besar kemungkinan terjadinya konflik di dalam masyarakat, karena gesekan-gesekan antar-kelompok di dalam masyarakat semakin intens. Continue reading

Ringkasan Materi Kelas XII: Modernisasi, Urbanisasi, Modernisasi dan Pembangunan


Pengertian Modernisasi

Modernisasi dapat diartikan sebagai proses perubahan dari corak kehidupan masyarakat yang “tradisional” menjadi “modern”, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Teori modernisasi dibangun di atas asumsi dan konsep-konsep evolusi bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah (linier), progresif dan berlangsung perlahan-lahan, yang membawa masyarakat dari tahapan yang primitif kepada keadaan yang lebih maju. Continue reading

Pembelajaran Sosiologi dan Multikulturalisme


Salah satu hidden kurikulum pembelajaran sosiologi adalah pemahaman para siswa mengenai keadaan riel masyarakat kita yang bersifat multikultural. Secara spesifik, materi tentang multikulturalisme diajarkan di SMA Kelas XI Program IPS, walaupun secara kontekstual telah dibelajarkan sejak SD dan SMP melalui pembelajaran IPS. Masalahnya adalah, walaupun hal tersebut telah dibelajarkan kepada murid-murid sejak SD sampai dengan SMA, tetapi penghayatan tentang multikulturalisme oleh masyarakat masih merupakan masalah. Hubungan di antara kelompok-kelompok etnis, sosial, politik, maupun kebudayaan dalam masyarakat kita masih sering diwarnai dengan persoalan stereotype, ethnosentrisme, dan bahkan primordialisme.  Dalam masyarakat masih dapat disaksikan adanya orang-orang dari suatu kelompok etnik, sosial, politik, agama, dan lain-lain yang masih enggan berinteraksi dengan orang-orang dari kelompok lain, bahkan berpandangan bahwa eksistensi kelompok lain merupakan suatu gangguan, sehingga ketiadaan kelompok lain merupakan harapan. Demikian juga konflik-konflik yang dilatarbelakangi oleh perbedaan kepentingan-kepentingan politik, agama, ataupun aliran. Continue reading

Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia


Tulisan ini utamanya disarikan dari sebuah buku yang ditulis oleh Dr.  Nasikun -Fisipol Universitas Gadjah Mada, diterbitkan oleh Grafiti Pers, pada tahun 1984 (cetakan pertama). Sudah cukup lama memang, tetapi karena keadaan struktur sosial masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk ini telah sedemikian rupa keadaaannya, maka ketika buku ini dibaca pada tahun 2011, permasalahan-permasalahan yang diungkapkan pada buku ini pun –rasanya– masih relevan. Bahan lain yang melengkapi tulisan ini adalah tulisan Dr. Nasikun di sebuah seminar di Surabaya Tahun 1990.   Continue reading