Guru Menghadapi Ujian Nasional; Dilema antara Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Materi


Adalah kenyataan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 34 Tahun 2007, Ujian nasional (UN) untuk SMP/MTs, SMA/MA akan diberlakukan. UN sebagai model pengujian, sebenarnya bukan hal baru. Meskipun tidak persis sama, pada 1945–1968, pemerintah menyelenggarakan Ujian Negara, dan mulai 1982 sampai diberlakukannya UAN, UNAS atau UN, pemerintah menyelenggarakan EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Yang menjadikan UN menarik perhatian dan pro kontra antara lain karena fungsinya sebagai salah satu pertimbangan lulus-tidaknya siswa dari suatu jenjang pendidikan, dan adanya ketentuan tentang nilai minimal sebagai kriteria kelulusan. Untuk lulus UN 2008, seorang siswa harus memiliki nilai rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dan tidak ada nilai di bawah 4,25, atau memiliki nilai minimal 4,00 untuk salah satu mata pelajaran yang diujikan, tetapi untuk nilai lima mata pelajaran yang lain minimal 6,00.

Rujukan permendiknas tentang UN, di samping, tentu saja, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, juga Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang pada Bab X Bagian Kesatu pasal 63 menyebutkan, bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: (1) penilaian hasil belajar oleh pendidik, (2) penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, dan (3) penilaian hasil belajar oleh Pemerintah. UN merupakan kegiatan penilain belajar oleh pemerintah. Sebagaimana disebutkan dalam permen tersebut, bahwa Ujian Nasional, yang selanjutnya disebut UN, adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Sedangkan untuk apa UN dilaksanakan, disebutkan dalam permen tersebut bahwa UN merupakan salah satu pertimbangan untuk (1) pemetaan mutu satuan dan/atau program pendidikan, (2) seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (3) penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan, dan (4) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.

Diselenggarakannya UN memang diwarnai berbagai pandangan baik yang pro maupun kontra di antara para ahli dan pemerhati pendidikan, anggota DPR, dan tokoh politik, maupun di kalangan para pendidik dan para siswa. Bahkan, di beberapa tempat sempat muncul gerakan masyarakat (demonstrasi) menentang dilaksanakan UN.

Apapun wacana yang berkembang, dengan diterbitkannya permendiknas nomor 34 tahun 2007 pada tanggal  5 November 2007, UN untuk tingkat SMP/MTs dan SMA/MA tetap akan berlangsung dan mau tidak mau harus dihadapi oleh setiap yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan SMP/MTs maupun SMA/MA, apakah itu kepala dinas provinsi, kepala dinas kabupaten/kota, kepala sekolah, guru, dan tentu saja, siswa.

Kalangan yang mau tidak mau harus berhadapan dengan UN adalah para guru pengampu mata pelajaran yang di-UN-kan, seperti guru mapel Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Ekonomi, Geografi, Sosiologi, dan sebagainya.  Apa yang harus diperbuat, strategi apa yang akan ditempuh, kiat apa yang harus dilaksanakan sehingga para siswanya dapat lulus UN, paling tidak untuk matapelajaran yang diampunya.

Dilema yang dihadapi para guru antara lain adalah pengembangan kurikulum yang berbasis kompetensi, dihadapkan pada UN yang cenderung berbasis materi. Hal ini terkait dengan pengembangan metode dan strategi pembelajaran di kelas. Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang memungkinkan suatu sekolah mengembangkan kurikulumnya sendiri, banyak guru di sekolah telah mengembangkan metode dan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik siswa sebagai peserta didik dan kompetensi yang diharapkan dapat dikuasai oleh para siswanya. Meskipun ada standar kompetensi lulusan, tetapi capaian kompetensi pun akhirnya sangat bervariasi sesuai dengan karakteristik dan kadar kemampuan siswa. Dapat jadi, seorang siswa sangat mengusai satu kompetensi, tetapi tidak begitu baik untuk kompetensi yang lain.

Ujian nasional hadir dengan keseragaman secara nasional, tanpa memperhatikan perbedaan karakteristik, jangankan antar-peserta didik, antar-daerah pun tidak. Maka, sesungguhnya semangat dan jiwa ujian nasional sangat bertentangan dengan semangat kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memungkinkan sekolah mengembangkan sesuai dengan karakteristiknya sendiri, yang notabene telah dikembangkan oleh setiap sekolah.

Agat tidak terjebak pada wacana dan pro kontra tentang perlu tidaknya, atau pantas tidaknya, UN diberlakukan, harus kita sadari bahwa UN akan tetap berlangsung, meskipun ”kita” tidak sepakat. Maka, yang lebih penting adalah, sebagai guru, apa yang harus kita perbuat. Penulis menyampaikan beberapa prasaran sebagai berikut. Pertama, mengubah metode dan strategi pembelajaran dari berorientasi kompetensi, sesuai tuntutan kurikulum,  menjadi berorientasi materi, menyesuaikan diri dengan tuntutan UN. Setidaknya, hal ini dilakukan menjelang dilaksanakan UN, misalnya pada kelas XII semester 2.

Kedua, Memampatkan standar isi sehingga selesai pembelajarannya pada Kelas XII Semester 1. Waktu yang tersisa, sepanjang kelas XII semester 2, digunakan untuk mempersiapkan siswa menghadapi UN. Kegiatan utama yang dilaksanakan adalah latihan soal yang disusun mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan UN 2008, yang merupakan lampiran dari permendiknas Nomor 34 Tahun 2007.

Ketiga, Mengidentifikasi dan menginventarisasi pokok bahasan dan subpokok bahasan Kurikulum SMA 1994, standar kompetensi dan kompetensi dasar Kurikulum 2004, dan standar isi (PP Nomor 22 Tahun 2006) yang ber-irisan (berinterseksi) sebagai materi penyusunan soal-soal latihan atau prediksi UN. Hal ini dilakukan karena SKL UN 2008 merupakan irisan dari ketiga kurikulum itu. Kompetensi dasar atau materi yang menjadi materi UN adalah yang terdapat diketiganya. Misalnya, dalam mata palajaran sosiologi sebagaimana yang penulis ampu, kompetensi dasar (KD) mengenai fungsi sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji hubungan masyarakat dan lingkungan, tidak perlu dibuat sebagai materi latihan, karena KD itu hanya terdapat pada standar isi (SI) dan kurikulum SMA 1994. Pada Kurikulum 2004, tidak ada kompetensi dasar tersebut.  Sedangkan KD tentang sosialisasi sebagai proses pembentukan kepribadian, harus dibuat sebagai materi atau bahan latihan UN, karena KD tersebut dijumpai baik pada pokok bahasan/sub pokokbahasan Kurikulum SMA 1994, SK dan KD Kurikulum 2004, maupun SI PP Nomor 22 Tahun 2006.

Keempat, melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), guru-guru menyusun soal bersama untuk digunakan sebagai latihan (prediksi) UN. Soal yang disusun bersama sangat penting artinya bagi siswa, agar siswa dapat terbiasa menghadapi soal-soal yang dibuat oleh bukan gurunya. Jangan sampai siswa hanya terbiasa dengan ”bahasa” dan ”gaya”  soal guru kelasnya. Apabila soal bersama tidak mungkin disiapkan, yang dapat dilakukan adalah pertukaran soal latihan antar-sekolah. Target yang penting dalam kaitan ini adalah siswa terbiasa dengan bahasa dan gaya soal yang bermacam-macam, tidak hanya yang dibuat oleh guru kelasnya.

Kita songsong UN SMA yang berlangsung pada 22, 23 dan 24 (utama) dan 28, 29 dan 30 (susulan) April 2008 dengan penuh asa dan optimisme, sebab dari sekarang masih cukup waktu untuk bersama-sama dengan siswa kita masing-masing dan didukung oleh segenap stake-holder sekolah untuk menggali potensi dan mempersiapkan diri mencapai prestasi gemilang di Ujian Nasional. Memang, keberhasilan dalam UN  khususnya dan pendidikan pada umumnya, tidak saja ditentukan oleh guru, tetapi juga kesiapan siswa dalam menghadapi ujian, sarana dan prasarana yang ada di sekolah, letak sekolah, kultur sekolah, dan sebagainya, tetapi setidaknya guru dalam hal ini merupakan faktor dominan.

Akhirnya, semoga ada manfaat yang dapat diambil, meskipun sedikit dan kurang berarti.

——————————————-

*) Dimuat  di Halaman Opini Harian Umum Kedaulatan Rakyat Tanggal 8 Maret  2008

**) Agus Santosa, Guru Sosiologi SMA Negeri 3 Yogyakarta, Jalan Yos Sudarso 7 Yogyakarta, telepon 520512, 512856, 556443, faksimili 556443, e-mail: agssant@yahoo.co.id.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s