Saya dan Sosiologi …


Ketika pertama kali datang ke SMA Negeri Godean, Oktober 1987,  saya memperkenalkan diri kepada wakil kepala sekolah (Drs. Sunaryo,  sekarang pengawas SMA di Kabupaten Bantul) sebagai seorang yang mendapatkan surat tugas dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kanwil Depdikbud) sebagai guru Geografi. Berbahagia sekali,  wakil kepala sekolah menerima baik kedatangan saya.  Guru-guru lain yang waktu itu jumlahnya masih sedikit, tampak senang juga menyambut saya sebagai teman baru mereka. Mungkin mereka berfikir, ada tambahan tenaga untuk babat alas membuka kemudian mengembangkan sekolah unit baru bernama SMA Negeri Godean. Waktu itu saya masih 27 tahun (berdasar dokumen, saya lahir 22 April 1960, yang bener menurut berbagai data dan sumber yang dipercaya, saya lahir 2 Februari 1962. Lucu, ya – bisa ulang tahun dua kali dalam setahun) dan masih tampak  lincah, karena tidak segemuk (baca: semakmur) sekarang.

Dalam pembicaraan berikutnya,  setelah berkenalan dengan beberapa  guru yang sedang berada di ruang guru dan karyawan di kantor tata usaha,  pak Naryo menyatakan kepada saya. “Pak, kulo suwun panjenengan  kejawi ngasto pelajaran  geografi, ugi kerso ndobel kaliyan pelajaran sosiologi …!” Lha dallah,  sosiologi itu mahluk apa lagi. Geografi saja saya merasa tidak begitu menguasai, ini tambah lagi dengan sosiologi. Tapi waktu itu optimis juga, mengingat dalam kuliah sosiologi yang diampu  oleh Profesor Sumantri, saya selalu mendapat nilai A.  Tapi, bagaimanapun juga karena sosiologi bukan merupakan latar belakang pendidikan saya, ada perasaan minder juga, meskipun sedikut. Dan, memang akhirnya tidak ada pilihan kecuali harus mengajarkan dua mata pelajaran: geografi dan sosiologi.

Nah, berawal dari terpaksa mengajarkan sosiologi itulah saya menjadi agak tahu tentang sosiologi.  Saya tertantang untuk tahu lebih banyak tentang sosiologi.  Saya beli buku-buku sosiologi pengantar, yang ditulis oleh Soerjono Soekanto, Mayor Polak,  Hasan Sadli,  Kamanto Soenarto, mendampingi buku sosiologi pertama yang saya beli “Setangkai Bunga Sosiologi” yang ditulis oleh Selo Soemardjan (yang dapat disebut sebagai Bapaknya Sosiologi Indonesia) dan Soelaiman Soemardi.

Dari hari ke hari saya mengajarkan sosiologi, saya merasa lebih asyik dengan sosiologi daripada dengan geografi. Sampai pada suatu saat, kelas saya dikunjungi oleh ibu pengawas sekolah (Ibu Dra. Suwarni, Alm).  Mengajar saya di kelas itu disupervisi.  Persiapan mengajar saya –administrasi pembelajaran: mulai dari analalisis materi, program tahunan, program semester, satuan pelajaran, rencana pelajaran, rencana evaluasi, dan lain-lain– diperiksa. Strategi mengajar saya dilihat.  Grogi juga mengajar ditunggu dan dilihat oleh seorang pengawas.

Pelajaran hari itu pun usai. Ibu pengawas meminta saya untuk berbincang-bincang sebentar di ruang guru. Waktu itu saya bangga dan mungkin besar kepala, Ibu pengawas mengatakan kepada saya bahwa administrasi pembelajaran saya bagus, dan cara mengajar saya sangat baik. Meskipun Ibu pengawas juga memberikan kepada saya masukan-masukan perbaikan. Misalnya menyatakan bahwa saya terlalu banyak menggunakan ungkapan-ungkapan Jawa, baju saya agak kurang rapi karena saya menggulung  lengan baju saya …(makasih, bu. Tapi maaf, sampai hari ini saya masih suka menggulung lengan baju saya …)

“Panjenengan saya kirim ke Malang, ya …” Ibu pengawas memberi tahu saya. Saya bertanya: “untuk apa, Bu?” Ibu Pengawas menjawab: “Penataran Instruktur Sosiologi Tingkat SMA”. “Nderek, Bu”,  jawab saya.

Nah, tahun 1994 saya pergi ke Malang untuk ditatar sebagai instruktur mata pelajaran sosiologi.  Dari malang, saya mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi tentang sosiologi, karena bisa bertemu dengan dosen-dosen sosiologi dari Universitas Brawijaya, Airlangga, dan IKIP Malang. Beberapa beliau saya telah lupa namanya. Tapi saya masih sangat ingat Profesor Sutandyo Wignyo Subroto (UNAIR), dan mas Irawan dan mbak Siti Purwaningsih dosen muda dari IKIP Malang.

Dr. Nasikun

Di antara pengalaman-pengalaman beberapa kali mengikuti diklat instruktur, ada satu pengalaman yang sangat luar biasa: semalam bersama Dr.  Nasikun. Waktu itu ada sessi Dr. Nasikun, berakhir pukul 21.00. Di ruang makan, saya bertemu mas Irawan (karena mas Irawaan asli Pandean Sari Yogyakarta, saya jadi sangat akrab). “Mas, ikut yo — ngobrol2 sama pak Nasikun”, ajaknya.  “Okey …” jawab saya. Dan, kami berdua langsung menuju ke penginapan pak Nasikun. Saya mendengarkan dan kadang nimbrung pembicaraan dua pakar sosiologi itu. Dan dari situ saya menjadi lebih tahu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahan-perubahan sosial. Pak Nasikun dengan sangat sabar dan jelas memberikan informasi ke saya tentang sistem sosial.  Saya jadi lebih tahu tentang Peter L. Berger, Parsons, Weber, Wright Mills, dan tokoh-tokoh sosiologi lainnya. Jam 3 pagi, pak Nasikun tampak sudah ingin istirahat. Kami pun pamit. Saya ke kamar, pak Irawan pulang ke rumah kostnya.

Dari sinilah saya menjadi lebih dekat dengan sosiologi. Dari kedaan terpaksa mengajarkan sosiologi, sampai akhirnya saya lebih suka mengajarkan sosiologi daripada geografi yang menjadi latar belakang pendidikan S-1 saya.

Alhamdulillah …

Yogyakarta: 14 Juni 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s