Pergeseran Politik Santri


Pilpres 2009 telah diumumkan KPU 25 Juli 2009, suara terbanyak pasangan SBY-Boediono dengan meraih 60,80 persen suara. Kedua, pasangan Megawati-Prabowo 26,79 persen suara. Ketiga, JK-Win 12,41 persen suara. Pilpres cukup satu putaran saja. Selamat kepada pasangan SBY dan Boediono sebagai presiden dan wakil presiden periode 2009-2014. Semoga sukses memimpin bangsa ke depan lebih adil dan sejahtera. Pilpres telah berjalan relatif jujur, aman, dan damai, walaupun di sana-sini masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan dan upaya hukum dari pasangan capres dan cawapres lainnya. Terutama, tentang DPT yang dianggap kurang akurat dan pelanggaran kecil lainnya, yang mungkin bagi pendidikan politik bangsa kita untuk jangka panjang ada nilai positifnya, supaya penyelenggara pilpres lebih profesional, jujur, dan netral. Sungguh pun begitu, Presiden AS Obama memuji, ”Indonesia telah menggelar pemilu pilpres dengan sukses dan bisa menjadi teladan bagi negara-negara Islam di dunia. Ini membuktikan bahwa Islam, demokrasi, dan keragaman bisa hidup berdampingan dan tumbuh bersama.” Sejalan pula dengan pandangan SBY, ketika menyampaikan orasi ilmiahnya pada saat menerima gelar Dr (HC) bidang hukum di Universitas Webster di Saint Louis, Missouri, AS tahun 2005. SBY memberikan pernyataan dalam orasinya, ”Orang Islam yang kuat agamanya, sekaligus pada waktu yang sama, bisa menjadi demokrat tulen.” Pujian Obama terhadap penyelenggaraan Pilpres 2009 dan pandangan SBY tentang Islam dan demokrasi, sekaligus menunjukkan bahwa hipotesis Huntington tentang demokrasi di Indonesia tidak terbukti. Hipotesis itu menyatakan bahwa ajaran Islam tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Sehingga, tidak mungkin bisa tumbuh dan berkembang dengan baik di Indonesia karena mayoritas penduduknya Muslim.

Pilpres 2009 amat menarik bagi para pengamat politik, karena ada fenomena yang menunjukkan berbeda dengan pilpres sebelumnya. Partai-partai politik Islam atau yang bernuansa Islam, tidak sejalan sikap politiknya dengan ormas-ormas Islam. Misalnya, partai Islam PAN tidak sejalan sikap politiknya dengan ormas Muhammadiyah, yang pernah membidani berdirinya partai itu. PAN secara resmi berkoalisi dengan SBY-Boediono, tetapi Muhammadiyah yang diwakili oleh Din Syamsudin, ketua umum PP Muhammadiyah, secara terang-terangan mendukung JK-Win. Tentunya sikap Din ini disemangati oleh hasil voting tidak resmi dalam pertemuan ketua-ketua wilayah Muhammadiyah se-Indonesia, yang menunjukkan 32 ketua wilayah Muhammadiyah mendukung JK-Win sebagai capres dan cawapres. Satu wilayah mendukung SBY-Boediono dan tidak ada ketua wilayah yang mendukung pasangan capres dan cawapres Mega-Pro. Begitu juga, PKB mendukung SBY-Boediono, NU yang diwakili oleh KH Hasyim Muzadi sebagai ormas Islam yang pernah membidani kelahiran PKB, secara terang-terangan mengampanyekan JK-Win. PPP mendukung SBY-Boediono dan ormas Islam yang selama ini lebih menyalurkan aspirasi politiknya ke PPP, lebih mendukung JK-Win. Begitu juga, Persis yang aspirasi politiknya lebih dekat ke PBB, berbeda dengan sikap PBB yang secara organisasi bergabung dengan SBY-Boediono dan Persis secara terang-terangan mendukung JK-Win. Walhasil partai-partai politik Islam atau yang pendukungnya mayoritas umat Islam, atau yang kelahiran partainya dibidani oleh ormas Islam, sikap politiknya lebih memilih mendukung SBY-Boediono sebagai capres dan cawapres. Sedangkan ormas-ormas Islam, misalnya NU, Muhammadiyah, Persis, Mathlaul Anwar, MUI, KAHMI, KB-PII, dan PII dan lebih cenderung memilih JK-Win sebagai capres dan cawapres. Karena itu, teman saya, Asri Harahap, presidium KAHMI Pusat menyatakan bahwa baru dalam sejarah perpolitikan Islam di Indonesia, ormas-ormas Islam kompak dalam sikap politiknya, yaitu pada Pilpres 2009 mendukung figur capres dan cawapres yang sama, yaitu JK-Win. Bahkan, mungkin tidak pernah terjadi NU dan Muhammadiyah memiliki kesamaan sikap politik, seperti pada Pilpres 2009. Mungkin NU mendukung JK-Win di samping memiliki track record yang bagus, juga ada pertimbangan primordial karena JK berlatar belakang NU.

Demikian juga, Muhammadiyah dan KAHMI memilih JK-Win karena ada pertimbangan track record yang positif, yang mereka ketahui selama ini dan tidak terlepas juga pertimbangan latar belakang primordial. Istri JK, Ibu Mufida, seorang warga Muhammadiyah. Begitu juga, pertimbangan KAHMI mendukung JK-Win di samping pertimbangan rasional, ada juga pertimbangan primordial bahwa JK alumnus HMI dan dewan penasihat KAHMI. NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia, menguasai pondok pesantren dan memiliki anggota yang taat dan fanatik terhadap kiai dan pimpinannya, yang anggotanya mayoritas di desa-desa dan pondok pesantren yang sangat kuat dan berakar. Muhammadiyah sebagai ormas Islam, terbesar ke-2 di Indonesia yang anggotanya pada umumnya dari kelas menengah ke atas, dan mayoritas di perkotaan yang berlatar belakang pengusaha atau PNS. Persis mempunyai anggota yang tersebar di kota dan di desa serta sangat taat kepada pimpinannya. Korps Alumni HMI, pada umumnya tinggal di kota dan tersebar di berbagai perguruan tinggi. Sebenarnya, kalau menurut perhitungan matematik kalkulasi politik, jika dilihat dari kecenderungan sikap politik para elite ormas Islam, JK-Win memiliki peluang yang relatif sama untuk meraih keberhasilan, seperti halnya dengan kandidat-kandidat presiden dan wakil presiden lainnya. Tapi, kenyataan menujukkan lain, ada kesenjangan antara sikap politik di elite ormas Islam dan sikap politik anggotanya. Sehingga, pasangan capres cawapres JK-Win harus puas menerima kenyataan, peringkat ketiga setelah SBY-Boediono dan Mega-Pro. Misalnya, raihan suara SBY-Boediono unggul di Jawa Timur (60,32 persen) dan JK-Win (9,26 persen) menduduki peringkat ketiga. Padahal, Jawa Timur terkenal kantong suara NU yang sangat dominan. Raihan suara di Yogya, SBY-Boediono unggul dengan raihan suara (61,71 persen) dan JK-Win berada pada urutan ketiga dengan raihan suara (10,19 persen). Padahal, kita ketahui bahwa Yogyakarta basis Muhammadiyah. Raihan suara di Jawa Barat dengan fantastis SBY-Boediono meraih suara (65,08 persen) dan JK-Win, berada pada urutan ketiga dengan raihan suara (8,71 persen). Padahal, anggota NU, Muhammadiyah, dan Persis relatif dominan di Jawa Barat. Bahkan, di Aceh lebih fantastis lagi, SBY-Boediono meraih suara (93,25 persen), sedangkan JK-Win berada pada urutan kedua dengan raihan suara (4,35 persen). Padahal, rakyat Aceh dominan warga Muhammadiyah.

Pertanyaannya, kenapa loyalitas politik anggota ormas Islam dan santri dewasa ini, telah memudar kepada pimpinan ormas dan kiainya? Apakah imbauan elite politik partai Islam kepada santri dan anggota ormas Islam, lebih didengar dan lebih ditaati ketimbang fatwa para kiai dan pimpinan ormas Islam? Ataukah, performance SBY-Boediono lebih unggul dan lebih menarik di hati rakyat, yang memang menawarkan program-programnya yang menyentuh betul terhadap kepentingan rakyat dan sudah dirasakan oleh rakyat selama ini. Terutama program BLT, gaji ke-13, sertifikasi guru dan dosen, dan beasiswa bagi mahasiswa untuk seluruh perguruan tinggi se-Indonesia.

Memang kalau kita mencoba menganalisis sejalan dengan pandangan Syafi’i Ma’arif, yang dikutip dari Dr TS dalam Harian Republika tanggal 21 Juli 2009, ”Rakyat yang mendapat BLT 17 juta Kepala Keluarga (KK), PNS dan pensiunannya 15 juta. Misalnya, kalau 75 persen saja ikut SBY, berarti sudah 24 juta KK. Jika setiap KK terdiri atas tiga pemilih, sudah 72 juta pemilih dalam kantong SBY.” Hal demikian sah-sah saja dalam negara demokrasi dan di sinilah keuntungan seorang kandidat incumbent , dapat menunjukkan prestasi kerja yang telah dilakukan. Mungkin kondisi masyarakat kita dewasa ini, dalam menentukan sikap politiknya cenderung pragmatis ekonomis dan independen. Sehingga, mereka tidak mau didikte atau diarahkan oleh siapa pun, termasuk oleh pimpinan ormas Islam dan para kiai.Sikap politik mereka tidak mewakili siapa pun kecuali mewakili dirinya sendiri. Tentunya, kita ke depan sebagai bangsa yang sedang belajar berdemokrasi, memerlukan sikap kenegarawanan dari semua pihak, sikap cerdas dan dewasa, siap kalah dan siap menang secara ksatria, tercermin dalam menyikapi hasil Pilpres 2009. Sungguh amat bijaksana dan terpuji sikap kenegarawanan dari SBY, yang mengajak rekonsiliasi bagi seluruh bangsa, juga ucapan selamat dari JK kepada SBY sebagai pemenang pilpres, merupakan sikap yang harus diteladani oleh generasi penerus bangsa di masa datang sebagai politisi ksatria yang dewasa. (-)

Nanat Fatah Natsir Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, dalam Republika, 28 Juli 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s