Republik ini Belum Aman


Repbulika, Selasa, 28 Juli 2009

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Melalui Resonansi di Republika, saya sudah beberapa kali menyoroti perilaku kaum fundamentalis radikal dalam bentuk perbuatan teror yang masih saja kambuh sampai hari ini di negeri kita. Tetapi, sebenarnya, pada tingkat global, gelombang terorisme sudah jauh berkurang, apalagi ‘raja teror’ mantan presiden George W Bush sudah tenggelam dari liputan berita dunia. Sementara itu, ruang gerak sahabat lama Bush, Osama Bin Ladin, sudah semakin terbatas. Semestinya, Presiden Obama cepat-cepat menarik pasukan Amerika dari Afghanistan dan kemudian biarkan OKI (Organisasi Konferensi Islam) dengan 57 anggotanya bekerja keras untuk mencari solusi bagi konflik yang terjadi di negara miskin itu. Sekalipun kita tahu bahwa OKI belum tentu efektif dalam menjalankan tugas globalnya, dengan angkat kakinya pasukan asing dari Afghanistan dan Irak, pasti akan mengubah wajah konflik di sana ke arah yang lebih mencair. Sudah menjadi catatan sejarah selama berabad-abad bahwa Afghanistan dengan segala keterbelakangannya tidak bisa menerima pendudukan asing. Obama mesti paham suasana antikolonialisme rakyat Afghan ini. Terorisme yang beroperasi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kejadian di Afghanistan, terutama sejak negara itu diduduki Uni Soviet hingga negara adikuasa musuh Barat ini terusir dari sana. Dalam proses pengusiran pasukan asing ini, para pejuang Afghan dibantu oleh Amerika untuk memenangkan Perang Dingin. Selama Perang Dingin inilah, para pemuda Islam dari berbagai bangsa dilatih secara militer di Afghanistan selama beberapa tahun. Usai Perang Dingin, dengan semangat perang yang masih mendidih, para pemuda itu kemudian berserakan. Sebagian kembali ke tanah airnya masing-masing, sebagian mencari sasaran lain untuk meneruskan semangat tempur yang telah didoktrinkan ke dalam jantungnya dengan sangat efektif. Tetapi, yang ironis adalah mereka itu korban Perang Dingin, sedangkan ayat-ayat Alquran yang kemudian dijadikan dalil untuk membenarkan perbuatan teror adalah sebuah kecelakaan sejarah yang amat tragis. Semestinya, mereka cepat siuman, tidak meneruskan perbuatan biadab itu atas nama agama. Dalam seminar internasional sarjana Katholik (hadir juga Malaysia) di Jogja, 20-22 Juli 2009, ada sebuah lelucon politik. Sewaktu saya ditanya apa bedanya antara Malaysia dan Indonesia. Dalam suasana ledakan bom di Kuningan, saya menjawab, “Malaysia telah mengirim bomber (Dr Azahari dan Nordin M Top) ke sini, sedangkan Indonesia adalah korbannya.” Tentu saja, jawaban ini mengundang tawa keprihatinan, sementara Dr Helen Ting (wakil Malaysia) terlihat senyum-senyum pahit. Indonesia di mana tingkat ketidakadilan dan pengangguran masih sangat tinggi rupanya jauh lebih nyaman bagi gerakan teror dibandingkan Malaysia yang fundamental ekonominya relatif solid. Sekiranya seorang Azahari atau Nordin Top mencoba menebarkan racun teror di Negeri Jiran itu, pihak kepolisian sana tentu tidak memerlukan tempo terlalu lama untuk membasmi gerakan mereka. Dari pihak kepolisian kita, saya diberi tahu bahwa Pemerintah Indonesia kurang serius membantu gerakan antiteror ini. Sekalipun begitu, dengan dana yang serba terbatas, prestasi Densus 88 untuk menangkap para teroris itu pada waktu yang lalu patut sekali dipuji. Kita juga berharap, prestasi itu akan menjadi kenyataan pula dalam menyingkap siapa otak pelaku bom Kuningan pada 17 Juli yang telah memukul demokrasi Indonesia dengan bom maut. Republik ini memang belum aman dari terorisme. Setelah tenggat empat tahun kondisi keamanan Indonesia relatif stabil, tiba-tiba bom meledak lagi. Teror baru ini pada pandangan saya terutama disebabkan oleh kelengahan aparat keamanan dalam memantau gerakan anti kemanusiaan ini, padahal petanya sudah tergenggam di tangan polisi. Karena pusat perhatian terlalu difokuskan kepada proses pilpres, terkecoh sedikit saja kelompok teroris cepat bertindak. Maka, meledaklah dua bom maut di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton yang menggoncangkan seluruh jagat itu. Dari sekian ratus alumni Afghanistan, tentu tidak banyak yang terlibat dalam berbagai tindakan teror sekalipun mentalitas revolusioner sukar menghilang dari hati mereka. Baru-baru ini telah berdiri sebuah yayasan untuk membantu para alumni itu dalam kehidupan ekonomi mereka. Dengan semakin membaiknya kondisi ekonomi mereka, diharapkan sikap revolusioner warisan Perang Dingin itu akan semakin berkurang dan mereka kembali kepada kehidupan normal, seperti warga lainnya. Kepada Densus 88, kita harapkan agar tidak lengah lagi di masa yang akan datang demi pengamanan republik tercinta dari segala ancaman domestik. (-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s