Standardisasi Guru Dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi


Oleh Agus Santosa dan Ichwan Aryono *)

Sejak kurang lebih lima tahun yang lalu,  pemerintah melalui Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional telah menetapkan lebih dari 200 sekolah (SMP/SMA) di Indonesia sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasioanl (RSBI), dan beberapa di antaranya saat ini telah ditetapkan sebagai Sekolah Bertaraf Internasional (SBI).  Pagu atau standard RSBI/SBI pun telah ditetapkan, mulai dari pengembangan kurikulum, proses pembelajaran, penilaian, pengembangan SDM, sarana dan prasarana, pembiayaan, manajemen sekolah, pembinaan kesiswaan, pengembangan kultur sekolah, sampai dengan sosialiasi program RSBI/SBI itu sendiri.

Salah satu pagu (standar) dalam proses pembelajaran adalah dilaksanakannya pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Maka, guru-guru di sekolah-sekolah RSBI atau SBI dituntut untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran berbasis TIK. Sebenarnya, pagu ini bukan hanya diterapkan di RSBI atau SBI, melainkan merupakan tuntutan terhadap guru SMA/SMK sebagaimana tercantum dalam Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, bahwa guru mata pelajaran harus memenuhi kompetensi memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran yang diampu. Hal itu sejalan juga dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, bahwa dalam prinsip-prinsip penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, guru diharuskan mampu menerapkan TIK. Di RSBI/SBI tuntutan untuk memanfaatkan TIK menjadi lebih nyata, karena keharusan untuk menjalin mitra dengan sekolah di luar negeri.

Sehubungan dengan hal tersebut, standard kompetensi guru terkait dengan penggunaan TIK dalam proses pembelajaran perlu atau bahkan menjadi keharusan untuk dirumuskan. Standardisasi itu sebagai rujukan arah dalam rekruitmen guru baru, atau peningkatan mutu  kompetensi guru yang telah ada.  Penulis menawarkan suatu standardisasi kompetensi berkaitan dengan penerapan TIK dalam pembelajaran, mulai dari perlengkapan/alat-alat yang wajib dimiliki, strategi dan pengembangan model pembelajaran, dan standard kemampuan teknis penggunaan TIK  yang harus harus dimiliki guru. Pembelajaran berbasis TIK yang dimaksud di sini bukan sekedar guru menggunakan komputer (PC atau pun laptop) yang dilengkapi dengan LCD Projector untuk presentasi bahan ajar,  menggantikan fungsi papan tulis.

Perlengkapan wajib

Pembelajaran berbasis TIK memerlukan dukungan perangkat kerasa maupun lunak. Beberapa perangkat keras yang wajib dimiliki guru agar pembelajaran berbasis TIK dapat berlangsung,  antara lain: (1) laptop atau PC untuk pembelajaran di kelas (di beberapa sekolah SBI/RSBI telah menginstalasi PC di ruang-ruang belajarnya), (2) modem sehingga dapat mengakses internet di rumah  atau di tempat lain di luar sekolah (untuk keperluan mengirim tugas, bahan ajar, atau informasi kegiatan pembelajaran),  (3) handphone (HP) yang mampu terkoneksi dengan internet (diperlukan untuk mencek tugas siswa yang dikirim melalui e-mail). Sedangkan yang berupa perangkat lunak, antara lain (1) akun e-mail/ mailing group untuk menampung tugas siswa,  weblog (blog) atau sejenisnya untuk menempatkan informasi/tugas/materi/bahan ajar bagi siswa, (2) daftar e-mail peserta didik, dan tentu saja (3) daftar materi pembelajaran/bahan ajar serta jadwal kegiatan setidaknya bdalam satu semester.

Perlengkapan-perlengkapan tersebut merupakan perlengkapan standard, sehingga pembelajaran berbasis TIK dapat berlangsung. Penyampaian informasi tentang pembelajaran dari guru ke peserta didik dan pengiriman tugas-tugas dari peserta didik ke guru tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapan pun dan di mana pun guru dapat mencek tugas-tugas yang dikirim oleh peserta didik. Sebenarnya, situs jejaring sosial seperti Facebook dapat juga dimanfaatkan untuk kepentingan pembelajaran, dengan membuka account atau group mata pelajaran. Untuk keperluan ini penulis membuka group di facebook untuk matapelajaran yang penulis ampu.

Model dan Strategi Pengembangan Pembelajaran.

Di dunia pembelajaran sudah tidak asing lagi dengan ungakapan  I hear I forget, I see I Know, I do I Understand.  Dari penelitian De Porter diketahui kemampuan manusia menyerap suatu materi sebanyak 70% dari apa yang dikerjakan, 50% dari apa yang didengar dan dilihat (audio visual), sedangkan dari yang dilihatnya hanya 30%, dari yang didengarnya hanya 20%, dan dari yang dibaca hanya 10%.  Dalam konteks seperti inilah  diperlukan alat bantu pengajaran, salah satunya adalah pembelajaran berbasis TIK.
Untuk hal tersebut, guru dituntut mamu mengembangkan beberapa model dan strategi pengembangan sebagai berikutn: (1) presentasi dengan power point atau fasilitas presentasi lainnya; model pembelajaran seperti ini sesungguhnya sebatas menggunakan perlengkapan TIK untuk menggantikan fungsi papan tulis, (2) mengunggah (upload) materi yang dilengkapi dengan soal kemudian siswa membuka dan mempelajari secara sendiri atau kelompok di kelas kemudian mengerjakan tugas di kelas, dengan hasil yang dikirim lewat e-mail kepada guru, (3) mengunggah (upload) tugas  melalui mailing group, kemudian di kelas siswa mengerjakan tugas tersebut secara berkelompok/berpasangan, (4) mengunggah  materi pembelajaran berupa kasus,  kemudian peserta didik  diminta memberi tanggapan, (5) menyajikan satu sumber belajar, kemudian berdiskusi dengan siswa, kemudian siswa berselancar (browsing)  menggali informasi di internet untuk melengkapi materi yang tersaji, (6) memberikan topik atau masalah tertentu di kelas, kemudian peserta didik diminta browsing menggali data atau informasi terkait dengan topik/masalah tersebut dari beberapa sumber, kemudian membuat rangkuman, (7) mengirimkan melalui e-mail kepada peserta didik beberapa sumber belajar yang terpilih, kemudian diminta membuat rangkuman, (8) menyajikan film dengan tema tertentu,  kemudian peserta didik diminta membuat ulasan, (9) peserta didik  membuat sajian dengan power point tentang topik tertentu, (10) guru mengirim soal berupa masalah, pertanyaan atau suruhan, kemudian di kelas peserta didik di minta mengerjakan secara berkelompok, (11) menggunakan paket program pembelajaran interaktif yang dilengkapi dengan soal-soal, peserta didik di kelas diminta menjalankannya sekaligus menjawab soal-soalnya, (12) memberikan tugas kepada peserta didik dan disajikan melalui sebuah project web.

Kemampuan Teknis

Pembelajaran berbasis TIK dengan beberapa strategi pengembangan pembelajaran seperti di atas bersifat ramah lingkungan karena dapat meminimalisir penggunaan kertas oleh peserta didik dalam mengerjakan tugas-tugas. Sebenarnya, ketidakmampuan atau kesulitan guru dalam mengunggah atau mengunduh materi atau bahan ajar dapat diatasi dengan bantuan teknisi. Di beberapa sekolah RSBI/SBI umumnya telah memiliki teknisi komputer yang handal. Namun, idealnya guru juga memiliki kemampuan-kemampuan teknis yang diperlukan untuk pembelajaran berbasis TIK, seperti: (1) mengakses internet melalui laptop atau PC di ruang belajar, (2) membuat, memanfaatkan dan mengelola e-mail, (3) membuat,memanfaatkan dan mengelola mailing group, (4) menjalankan atau mengakses internet menggunakan HP, (5) apabila telah mahir dengan kemampuan 1 sampai dengan 4,  membuat bahan ajar dengan software interaktif menggunakan program-program komputer seperti microsoft power point, macromedia flash atau yang lain.

Bahan Ajar berbasis TIK.

Aneka program komputer (perangkat lunak) dapat digunakan untuk membuat bahan ajar berbasis TIK. Hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan perangkat lunak, selain kemampuan atau penguasaan terhadap perangkat lunak tersebut, adalah spesifikasi perangkat keras yang dimiliki atau tersedia di sekolah. Pertimbangan spesifikasi perangkat keras  ini sangat penting, karena hanya dengan spesifikasi yang mendukung, bahan ajar berbasis TIK yang telah dibuat dapat berjalan dengan baik. Jika ketersediaan perangkat keras di sekolah adalah komputer dengan prosesor P166 ke bawah, maka tidak disarankan membuat bahan ajar multimedia menggunakan Macromedia Flash, untuk kondisi perangkat keras seperti itu penggunaan program Microsoft Power Point sudah cukup memadai.  Program Microsoft Power Point dapat menampilkan menu-menu yang berguna dalam pembuatan bahan ajar yang bersifat tutorial. Menu-menu tersebut adalah menu animasi, menu untuk memasukan suara, video, gambar animasi, dan menu tautan (hyperlink) untuk menghubungkan antara satu simpul dengan simpul atau file lainnya. Menu-menu ini menjadikan program Microsoft Power Point tidak hanya berperan sebagai alat presentasi (tools) yang menggantikan fungsi papan tulis, tetapi dapat dikembangkan menjadi  bahan ajar yang dilengkapi dengan tutorial.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat sebagai wacana pengembangan kualitas dan kompetensi guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan menyumbang untuk peningkatan mutu pendidikan di negeri tercinta melalui pembelajaran berbasis TIK.

————————————-

*        Agus Santosa Guru Sosiologi dan Ichwan Aryono guru Fisika pada SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s