Komitmen …


Sejak Sabtu minggu yang lalu, saya mengawali kelas saya dengan kalimat-kalimat yang akhirnya saya istilahkan sebagai “komitmen”. Sebenarnya saya tidak tahu presis apa arti dari kata “komitmen”. Ketika pagi ini saya mengawali menulis ini, juga bertanya kepada seorang teman, kebetulan guru sejarah di sekolah saya, “eh, komitmen itu apa,to?” Dia jawab, “embuh”!  Saya tidak tahu jawaban “embuh” ini menunjukkan ketidaktahuannya tentang istilah komitmen, atau hanya menunjukkan kemalasannya bercaka-cakap dengan sata tentang arti kata komitmen.

Yah, komitmen. Istilah ini memang sering saya pakai untuk mengungkapkan pemikiran-pemikiran saya tentang suatu hal, walaupun ternyata, saya tidak tahu arti persisnya.

Di kelas saya, kata komitmen saya pakai untuk mengungkapkan pemikiran saya tentang salah satu komponen nilai di laporan hasil belajar siswa (rapot), di rapot disebut nilai afektif atau sikap.

Selama ini saya mengisinya dengan nilai yang saya korelasikan dengan nilai kognitif. Jadi, kalo nilai kognitifnya baik, nilai afektifnya juga menjadi “tinggi”, bukan hanya “sedang”, apalagi “rendah”.

Berawal dari kekawatiran saya, bahkan nyaris merupakan kegelisahan, bahwa ketika saya mengajarkan sosiologi di kelas, banyak siswa yang ternyata tidak punya dokumen apa-apa. Beda dengan tahun-tahun lalu ketika saya menyerahkan kepada para siswa satu kopi bahan ajar dalam bentuk handout di setiap kelas, kemudian mereka menggandakannya sendiri dengan memfotokopi. Tahun ini memang ada perubahan strategi mengajar saya. Semua bahan ajar saya posting di weblog saya, harapannya, siswa dapat segera mengunduhnya, dan saya tidak perlu repot-repot memberikan kepada mereka dalam bentuk print out.  Namun, ternyata wujud dari “idealisasi” strategi mengajar saya dengan meletakkan bahan ajar di web, menjadi permasalahan sendiri di kelas saya, bahwa ternyata banyak siswa saya tidak mempunyai dokumen apa-apa dalam mengikuti pelajaran saya. Beberapa siswa mempunyai buku catatan, ada yang lengkap, tapi ada yang ala kadarnya. Beberapa siswa punya buku teks yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit ternama, termasuk PT Yudhistira, di mana saya menjadi salah satu penulisnya. Beberapa siswa menggunakan LKS yang entah dari mana asalnya. Tapi, handout bahan ajar, yang sesungguhnya –setidaknya menurut saya– merupakan panduan ringkas benah merah sosiologi SMA, mereka justru tidak punya.

Berawal dari itulah saya berfikir untuk memberikan nilai afektif dengan komitmen. Yah, komitmen siswa dalam mengikuti pelajaran saya, kesungguhan siswa dalam mengikuti pelajaran saya, yang indikatornya antara lain dipunyainya dokumen dalam bentuk print out dari hand out mata pelajaran yang saya ampu itu.  Siswa yang sampai batas waktu tertentu mempunyai dokumen lengkap, nilainya tinggi. Yang hanya sebagian, nilainya sedang, dan yang tidak bisa menunjukkan bukti bahwa ia mempunyai dokumen-dokumen itu, nilainya rendah.

Saya tidak tahu, apakah saya telah menggunakan kata komitmen dengan arti yang benar.

Sementara di sebuah situs, http://www.andriewongso.com/awartikel-811-Artikel_Anda-Tentang_Komitmen,  saya menemukan pengertian komitmen itu, sebagai berikut.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, “Kamu cantik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkan cerita-ceritanya yang membosankan di kantor.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada Ayahnya, “Saya percaya pada Papa. Papa tetap yang terbaik.”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya, mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka ‘Ayah’ dan ‘Ibu’.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah menyakiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, “Tuh, apa kubilang! Makanya…”

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang rela meninggalkan segala sesuatu yang berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yang harus dibayar tidak sedikit dan medan yang ditempuh tidak ringan.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.

Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya, meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan jaminan olehnya.

Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah… karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah ‘mati’ terhadap kepentingan diri sendiri.

Izinkan saya menyimpulkan tulisan ini dengan kalimat seorang perempuan bijak yang saya temukan beberapa waktu lalu:

“In the final analysis, commitment means: ‘Here I am. You can count on me. I won’t fail you.’”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s