Selamat Hari Guru, 25 November 2009


Untuk para saudara, sahabat, dan teman yang entah awalnya terpaksa atau sukarela telah berprofesi sebagai guru, dengan tulus dan dari lubuk hati yang paling dalam,  saya mengucapkan selamat hari guru …

Hari Guru.  Bagi saya pribadi sebenarnya ini juga hari biasa, sama dengan hari-hari lainnya. Hanya, pada hari ini saya dan juga teman-teman lain yang berprofesi guru, hari ini tida bertugas mengajar. Tetapi upacara. Upacara hari guru. Upacara yang dilaksanakan oleh dan untuk guru.  Memang kalau toh ada upacara, atau bentuk-bentuk perayaan yang lain, hari guru tidak semeriah dan seheboh hari-hari profesi yang lain. Pemerintah pun –sepanjang saya tahu– belum pernah secara khusus merayakan hari guru dengan acara-acara dan publikasi yang relatif besar. Paling-paling pidato menteri yang kadang tidak memberi harapan apapun untuk kehidupan guru yang lebih cerah.  Memang, di negeri ini telah Undang-undang Guru dan Dosen, yang melalui undang-undang itu berdampak positif untuk sebagian guru karena akhirnya memperoleh tunjangan profesi guru yang besarannya satu kali gaji pokok dikurangi pajak. Tetapi, sampai hari ini banyak teman-teman guru  –termasuk saya– yang belum dapat menikmati tunjangan itu, meskipun telah lulus sertifikasi guru, bahkan dengan nilai yang lumayan tinggi.  … duh listrik PLN mati … nah di kala guru-guru akan merayakan hari istimewanya, PLN pun matikan aliran listrik.

Kembali ke masalah belum atau bahkan diterimanya tunjangan profesi bagi para guru,  untuk sejumlah guru — masalahnya bukan karena guru itu tidak memiliki kompetensi untuk menjalankan tugas profesionalnya, tetapi hanya karena struktur kurikulum, jumlah rombongan belajar,  atau jumlah guru di sekolah guru itu mengajar, tidak memungkinkan untuk memenuhi kewajiban mengajr 24 jam per minggu.  Sebagai sebuah profesi, semestinya tidak seperti ini perlakuan terhadap indikator kinerja guru. Kalau ukurannya kuantitas jam mengajar, sebenarnya hal ini telah menurunkan derajat dan martabat guru dari pekerjaan profesional menjadi sederajat dengan pekerjaan yang dilakukan oleh para tukang. Entah itu tukang kayu, tukang batu, tukang jahit, atau bahkan tukang catut. Semestrinya, penghargaan atas kinerja profesional bukan masalah kuantitas, tetapi kualitas. Guru yang tidak jam mengajarnya kurang dari 24 jam per minggu, bukan selalu karena guru itu malas. Tetapi karena memang struktur kurikulum dan rombongan belajar di sekolahnya tidak memungkinkan untuk itu.

Profesi guru belum menarik

Kalau melihat statistik outcome di sekolah di mana saya mengajar ini, dari sekitar 97 persen lulusan setiap tahun yang terserap oleh perguruan tinggi favorit di dalam atau luar negeri,  nol persen yang masuk universitas-universitas eks IKIP, yang –walaupun tidak semua– diproyeksikan untuk menjadi guru. Sebagian besar mereka masuk di jurusan-jurusan atau program studi seperti kedokteran umum, teknik, akuntansi, psikologi, manajemen, dan lain-lain yang secara ekonomi barangkali memang prospeknya jauh lebih baik daripada menempuh studi di pendidikan keguruan.  Semua pasti tahu, kalao dibandingkan dalam hal dampak ekonominya, profesi dokter jelas jauh di atas profesi guru.

Sebagai ilustrasi, pada tahun 1988 pada acara siaran niaga TVRI, –satu-satunya siaran televisi ketika itu– adalah sebuah  iklan mobil sedan keluaran Toyota yang diberi label Corolla Twincam 16 Katup,  ketika itu saya baru sekitar satu tahun menjalani profesi guru, dengan gaji 87ribu rupiah per bulan, saya membayangkan betapa indahnya dunia berkendaraan dengan mobil itu. Ternyata, baru setelah masa kerja saya sebagai guru belasan tahun,  setelah golongan ruang dan pangkat jabatan guru saya lumayan tinggi, Pembina/Golongan IVa, saya baru mampu membeli mobil jenis itu. Begitulah sisi finansial seorang guru …

Dengan melihat sisi finansial seorang guru seperti itu, akhirnya sumberdaya manusia yang masuk di sektor pendidikan kelihatannya bukanlah orang-orang dengan kualitas nomor satu. Saya tidak punya data tentang ini. Tetapi, dari pengamatan sepintas,  persentasenya sungguh kecil –nyaris mendekati nol– outcome sekolah-sekolah favorit di Yogyakarta ini yang di universitas-universitas eks IKIP itu.  SDM yang akhirnya masuk di sektor keguruan adalah orang-orang dengan kualitas kedua, ketiga, keempat, atau bahkan kelima. Sehingga, kalau banyak orang yang mengeluhkan tentang mutu layanan pendidikan di negeri ini, barangkali ini pun menjadi salah satu penyebab.  Dunia pendidikan akhirnya dikelola oleh orang-orang yang secara kualitas bukanlah  KW1, yang mungkin saja keadaan ini menyumbang sehingga laju kemajuan dunia pendidikan di negeri ini tidak seperti harapan banyak orang.

Mungkin sedikit beda dengan negara tetangga, Malaysia. Di tahun-tahun 70an,  kementrian pendidikan Malaysia banyak meminjam guru-guru di Indonesia untuk mengajar di Malaysia. Beberapa guru SMA 3 waktu itu,  seperti Bapak Brotohardono –Kepala sekolah pertama saya di SMA Godean– pernah bertugas di Malaysia untuk mengajarkan matematika.  Memang, sejak Mahathir Muhammad menjadi PM, anggaran pendidikan di negeri itu  sudah dipatok 21 persen dari anggaran negara.  Dunia pendidikan di negeri ini pun lebih maju. Dan sekarang, Malaysia sudah tidak lagi meminjam guru-guru dari Indonesia. Mungkin juga tidak untuk ekspert-ekspert yang lain. Yang sekarang mereka butuhkan adalah tenaga-tenaga nonekspert dari Indonesia untuk dipekerjakan di sana dan sekaligus dianiaya. Setikanya menurut berita-berita di  media seperti itu.

Kapan dunia pendidikan kita berjalan maju dengan laju sebagaimana diharapkan oleh banyak orang?  Mungkin setelah anak-anak SMA di Yogyakarta, SMA 1, SMA 3, atau SMA 8 tertarik menjalani profesi guru. Kapan itu? Setelah profesi guru menjadi menarik, semanarik profesi-profesi yang lain, misalnya dokter ataupun akuntan!

Sebenarnya sekarang pun, profesi guru sudah lumayan menarik.  Di antara teman-teman  yang sekarang mengajar di SMA Negeri 3 ini, latar belakang pendidikan s-1nya bukanlah keguruan, misalnya mas Tanto dan mbak Devy.  Tapi akhirnya mereka menempuh akta IV sehingga dapat menjadi guru.

Apapun keadaannya, saya bangga berprofesi sebagai guru, meskipun harapan untuk memperoleh tunjangan profesi harus saya kesampingkan agar tidak justru frustasi.  Struktur kurikulum, jumlah rombongan belajar, dan komposisi guru di sekolah saya mengajar sangat tidak memungkinkan bagi saya untuk memperoleh peluang mengajar dengan beban minimal 24 jam perminggu, kecuali jika pekerjaan sebagai wali kelas atau mengajar ber-team (team teaching) dan lainnya dapat diperhitungkan sebagai beban kerja. Atau, tunjangan profesi itu telah melekat dengan gaji, seperti pada profesi-profesi yang lainnya.

Saya bangga menjalani profesi guru di SMA Negeri 3 Yogyakarta, karena saya mengaar orang-orang yang pada saatnya nanti adalah para pengambil keputusan di negeri tercinta ini! Amin!

Selamat hari guru …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s