Mahluk bernama ISO 9001: 2008 itu …


Hari ini, mulai jam 07.00 nanti,  terhadap sekolah di mana saya mengajar akan dilakukan audit eksternal dalam rangka penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001: 2008.

Geliat kesibukan menyongsong hal itu sudah terasakan sejak awal tekad sekolah menerapkan SMM itu,  lebih kurang setengah tahun yang lalu.  Mulai dari kegiatan sosialisasi sistem itu kepada seluruh stake holder sekolah, dari kepala sekolah, guru sampai dengan teman-teman tenaga tidak tetap yang bertugas di kebersihan dan pembuat minum,  dilanjutkan  dengan pelatihan-pelatihan tentang sistem manajemen, sistem audit, dan terkahir, dilakukannya audit internal yang dilakukan oleh Unit Penjaminan Mutu (UPM).

Sebenarnya, keinginan ke arah itu sudah menjadi wacana sejak lama, setidaknya pada masa kepala sekolah dijabat oleh pak Bambang Supriyono, bahkan mungkin pada masa Bu Pipit (Ibu Sri Ruspita Murni).  Wacana itu muncul karena sering ada tamu yang berkunjung ke sekolah untuk studi banding atau keperluan lain bertanya: “apakah sekolah ini sudah menerapkan ISO?”.  Tetapi langkah pasti untuk menjalani sistem manajemen itu adalah pada masa sekolah ini dipimpin oleh pak Bashori (Drs. H. Bashori Muhammad, M.M.). Sayangnya, pak Bashori tidak sempat mengawal lebih lanjut program ini. Beliau hanya sempat mencanangkan program pada sekitar dua bulan yang lalu, karena harus berpindah tempat kerja sebagai kepala SMA Negeri 2 Yogyakarta.  Beliau hanya berpesan,  agar kami-kami dapat mewujudkan impian melaksanakan sistem manajemen ini.  “Saya punya pengalaman yang tidak enak terkait dengan ISO, di sekolah sebelum saya di sini, saya sudah mencanangkan program ini, tetapi begitu saya pindah tempat tugas, orang-orang di sana pun melupakannya dan tak ada yang peduli.  Mudah-mudahan hal ini tidak terulang di sini!” Demikian pesan Beliau pada beberapa kesempatan.

Makhluk macam apakah ISO 9001: 2008 itu?

ISO,  merupakan Sistem Manajemen Mutu yang dipersipakan oleh  Komisi Teknis (TC) dari the International Organization for Standardization (Organisasi Standardisasi Internasional) yang merupakan perkumpulan badan standar Internasional seluruh dunia. Badan ini bekerjasama secara dekat dengan IEC (International Electrotechnical Commission).

Diterapkannya ISO pada suatu organisasi sebenarnya merupakan keputusan strategis, terkait dengan lingkungan organisasinya, berbagai kebutuhannya, tujuan-tujuan khususnya, produk yang disediakan, proses yang dijalankan, dan ukuran-ukuran serta struktur organisasinya.  ISO sebenarnya hanyalah sekedar instrument manajemen yang digunakan oleh sebuah organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan dan harapan-harapan dalam menjalankan fungsinya. Keputusan strategis sekolah di mana saya mengajar ini adalah menggunakan ISO sebagai Sistem Manajemen Mutu. Harapannya adalah dapat memberikan layanan produk jasa pendidikan yang dapat memenuhi standard yang telah ditetapkan dan dapat mengukur kepuasan masyarakat atas layanan yang telah diberikan.

Begitulah. Memang ideal. Tapi ada hal yang membuat saya pribadi tidak nyaman,  yaitu kegiatan menyongsong dilakukannya audit eksternal. Hampir setiap stake holder sekolah sibuk dengan urusannya masing-masing. Teman saya yang menjadi koordinator lab bahasa sangat sibuk dengan urusan melengkapi kekuranga-kekurangan atau temuan-temuan ketika dilaksanakan audit internal, mulai dari membuat jurnal penggunaan sampai dengan struktur organisasi. Teman yang lain begitu sibuk dengan urusannya sebagai anggota tim ISO, sampai dengan bersih-bersih meja kerjanya di ruang guru. Semua orang sibuk.

Yah, ISO menjadi mahluk yang sangat luar biasa, menjadikan teman-teman saya layaknya komponen-komponen sebuah mesin organisasi yang harus bekerja karena sistem. Benar-benar saya merasakan sekolah saya sebagai sebuah sistem organik yang kehilangan ruh-ruh dan jiwa-jiwa humanisnya.  Hari-hari terakhir ini, menjelang dilakukannya audit eksternal, bahkan untuk sekedar bertegur sapa mereka enggan melakukannya. Ketika saya mencoba menggugat hal ini kepada senior saya yang masih duduk di ruang 6 (wakasek),  beliau menjawab: “mungkin memang karena selama ini kita tidak  baik …”  Akhirnya saya pun berfikir demikian. Kultur sebagian besar dari masyarakat saya adalah “pidato”, bukan “menulis”.  SMM ISO memaksa orang-orang yang berada dalam suatu organisasi untuk “menuliskan” semua hal yang akan dan telah dilaksanakan, dan melaksanakan semua hal yang telah dituliskan. Kultur pidato di masyarakat saya lebih dominan daripada kultur menulis. Termasuk saya yang menjadi bagiannya. Ternyata,  begitu minim dokumen yang ada pada saya. Dokumen nilai siswa dalam matapelajaran yang saya ampu masih tercecer sebagai file-file yang tersimpan di hard disk laptop saya. Ternyata, saya sangat malas membuatnya menjadi dokumen tercetak yang saya tandatangani, apalagi sampai dengan ditandatangani oleh kepala sekolah. Bahkan sampai pagi ini, menjelang dilakukannya audit eksternal. Ketika teman-teman saya yang lain –barangkali– pagi ini menyiapkan perangkat administrasi keguruannya, saya justru membuka blog dan menulis ini.

Berdoa, semoga saya tidak menjadi sampel audit, karena hanya akan membuat rendah perolehan nilai … Amien!

2 thoughts on “Mahluk bernama ISO 9001: 2008 itu …

  1. pak! kirim tim iso 9001 2008 apa-apa saja. makasi pak yaaaaaaaaaa!. kami dari smk negeri 2 sigli aceh pidie.

    • Tim? Tidak ada tim khusus, kami menggunakan memaksimalkan fungsi dari struktur yang ada, mulai dari kepala sekolah sampai dengan wakasek dan koordinator kegiatan/lab, dan unit baru bernama UPM (Unit Penjamin Mutu) …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s