Sertifikat ISO itu pun diperoleh …


Setelah hampir semua stake holder sekolah berupaya maksimal menyesuaikan kinerjanya dengan pagu-pagu yang ditetapkan, khususnya menjelang dilangsungkannya audit eksternal, akhirnya rekomendasi untuk memperoleh Sertifikat ISO 9001: 2008 pun diperoleh. Tidak mulus memang, setidaknya ada 12 buah temuan tim auditor, tetapi dengan kategori minor. Duabelas NC itu tidak menghalangi diperolehnya rekomendasi. Sekolah diberi waktu secepatnya dalam 14 hari untuk melakukan perbaikan dalam bentuk action plan ke depan, bukan membenahi yang telah berlalu. Ini salah satu hal yang saya sukai dari SMM ISO, pembenahan dalam bentuk action plan ke depan, bukan yang sudah-sudah. Karena, kadang kalau pembenahan itu dilakukan terhadap yang sudah-sudah, dapat berarti mengada-ada.

Dari dua belas NC oleh tim auditor,  sebagian besar membuat geli dan sangat mengagetkan.  Misalnya di Ketatausahaan, temuannya adalah tidak adanya buku ekspedisi sebagai semacam SPJ untuk surat-surat yang disampaikan kepada pihak-pihak internal sekolah, misalnya undangan untuk guru dan karyawan. Sepele banget kan?  Seingat saya, di ketatausahaan ada buku itu, karena kalau menerima surat undangan saya mesti tanda tangan di buku batik kecil panjang yang disodorkan oleh pak Kusmantoro (petugas persuratan internal).  Saya lupa, kalau akhir-akhir ini surat-surat undangan yang untuk saya, ternyata tergelatak begitu saja di meja kerja saya. Sejak beberapa bulan ini memang ternyata Pak Kusmantoro tidak menggunakan buku ekspedisi ketika menyerahkan surat-surat kepada guru atau karyawan yang lain. Hal yang sepele dan sudah selayaknya ada, teman-teman yang juga mengira ada. Dan, malangnya, ketika tim auditor menanyakan di mana buku itu, buka yang lama itupun ketlingsut. Jadilah satu temuan minor.

Di Humas yang dikomandani Bu Susi di mana saya jadi salah satu stafnya, pun terdapat temuan lucu, yakni tidak dibedakannya antara “masukan” dengan “komplain” pengguna. Dalam notulen rapat, masukan dan komplain dianggap sama. Yang agak mendasar di Humas adalah tidak dievaluasinya kerjasama dengan BPD dalam penerimaan iuran dan keuangan. Selama ini kami menganggap bahwa kerjasama ini baik-baik saja, tanpa masalah, sehingga tidak perlu evaluasi. Padahal, SMM ISO mewajibkan, check dan action itu perlu. Untuk hal-hal yang menurut evaluasi awangan baik, banyak yang dilaksanakan sebatas plan and do, lupa untuk check dan action! Temuan agak mendasar lagi –tapi tetap kategori minor– di humas adalah, pengukuran kepuasan pelanggan, ternyata sama sekali tidak menyadari kalau kami menggunakan daftar pertanyaan yang sama untuk siswa dan orangtua. Lucu juga, bagaimana orangtua bisa menjawab pertanyaan tentang strategi mengajar seorang guru …

Temuan lucu yang lain adalah hilangnya jadwal siswa piket di UKS. Padahal biasanya tertempel di samping pintu masuk UKS. Lha koq ketika audit eksternal dilakukan koq ya ilang … Yang demikian ini barangkali namanya nasib.

Dalam 14 hari ini, rekan-rekan yang ada di tim ISO sedang sibuk melakukan pembenahan untuk temuan-temuan,  walaupun demikian, sebagai warga sekolah yang baik, berharap sesibuk-sibuknya mereka bekerja masih tetap dapat tersenyum dan tertawa serta bertegur sapa.  Saya yakin, ISO tidak akan menggeser SDM menjadi sekedar perangkat dari sistem organisasi modern, mereka tetap manusia yang memiliki hati dan rasa …

Selamat kepada segenap stake holder sekolah atas diperolehnya rekomendasi untuk Sertifikat SMM ISO 9001: 2008.

Hidup Padmanaba!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s