Mencari Kambing Hitam Rendahnya KKM


Masih dari workshop penyempurnaan kurikulum SMA Negeri 3 Yogyakarta. Ketika membahas tentang penentuan KKM yang mestinya mengikuti prosedur  seperti yang ada di pedoman, harus memperhatikan: (1) kompleksitas Standar Kompetensi dan/atau kompetensi dasar pada setiap mata pelajaran, (2) dukungan sarana dan prasarana, dan (3) intake siswa.

Sejak awal, saya dan pak Hamid menyatakan bahwa apabila kita mengikuti prosedur itu, maka KKM minimal 80 di SMA Negeri 3 Yogyakarta untuk semua mata pelajaran itu akan wajar-wajar saja dan pasti terlampui, karena kalau toh akhirnya kompleksitas SK/KD pada pelajaran terberat, misalnya matematika, itu sedemikian rupa sehingga siswa akan kesulitan memahami, tetapi untuk pertimbangan dukungan sarpras dan intake siswa, sangat dzalim dan melecehkan kalau guru mata pelajaran apapun di sekolah ini menilainya rendah.

Betapa tidak, sarana prasarana yang ada di sekolah ini sudah sangat memadai. Setiap ruang belajar tersedia LCD Projector dan OHP.  Jaringan internet yang dimiliki sekolah juga lumayan. Buku-buku teks untuk pegangan siswa maupun guru memadai.  Kemudian tentang intake siswa,  peserta didik yang akhirnya diterima di sekolah  ini memiliki rata-rata NUN SMP terbaik di DIY. Rata-rata nilai mereka di atas 9.50, banyak di antara mereka yang nilai mata pelajaran matematikanya 10. Saya lupa persisnya berapa.  Akankah hal ini dinilai rendah?

Kemudian tentang kompleksitas SK/KD itu?   Sebenarnya SK/KD dalam Standar Isi (Permen 22 Tahun 2006) itu ketentuan minimal yang diasumsikan dapat dicapai oleh semua siswa SMA/MA di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai dengan Merauke.  Apakah dukungan sarana dan prasarana dan intake siswa di sekolah ini tidak memadai untuk sekedar mencapai SK/KD seperti di Standar Isi?

Apa yang salah?

Dengan gambaran tersebut sebenarnya apa yang salah dengan proses pembelajaran di SMA 3 yang oleh masyarakat disebut favorit ini, sehingga untuk mencapai KKM 80 di setiap mata pelajaran menjadi tidak mudah?

Apakah kaarena pengembangan materi dari dalam silabus yang merupakan lampiran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di sekolah ini terlalu jauh lebih tinggi dari standar isi? Sepanjang pengamatan sepintas saya yang tidak detail, guru-guru di sekolah ini juga tidak jauh-jauh meninggalkan standar isi dan standar kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh BSNP dalam mengembangkan materi pembelajaran di silabusnya masing-masing.

Apakah kompetensi gurunya? Sepertinya juga tidak. Kalau dilihat dari data statistic guru, guru-guru yang ditugaskan di SMA ini cukup layak dan memadai. Pada umumnya guru-guru di sekolah ini mengajarkan mata pelajaran yang sesuai dengan latar belakang pendidikan S-1nya, sekitar 10 orang guru telah menyelesaikan pendidikan jenjang S2, pada umumnya guru telah mengikuti berbagai pelatihan tentang strategi mengajar maupun evaluasi dan penilaian pendidikan, bahkan beberapa di antaranya adalah instruktur mata pelajaran. Dari proses sertifikasi guru, semua guru yang telah mengikuti telah dinyatakan lulus.  Menuruh hemat saya, kompetensi guru di sekolah ini tidak diragukan.

Terus apa yang salah?

Pada kesempatan ini saya akan mengkambinghitamkan Ujian Nasional. Tapi ini asumsi. Bukan diperoleh dari data empiric. Karena adanya UN, maka pembelajaran di SMP/MTs kehilangan subtansinya sebagai proses pendidikan, tetapi menurun derajatnya menjadi strategi memperoleh nilai tinggi dalam UN. Di beberapa sekolah bahkan ada Tim Sukses UN. Akhirnya terkena penyakit yang oleh anak-anak sering disebut “MPC”, Mbuh Piye Carane, agar lulus dan bahkan bernilai tinggi. Jadi, nilai tinggi yang diperoleh oleh anak-anak yang kemudian masuk menjadi peserta didik di SMA 3 ini diperoleh dengan berbagai strategi yang mengingkari substansi dan hakekat pendidikan. Sekali lagi ini sekedar asumsi, bukan dari data empiric. Ini kambing hitam pertama.

Kambing hitam berikutnya adalah situasi sosio-kultural masyarakat yang cenderung bersifat popular. Hal-hal yang bersifat saintis tidak menarik bagi sebagian besar orang, termasuk anak-anak dan orangtua siswa. Lomba nyanyi atau dance di pentas-pentas yang ditayangkan oleh telivisi maupun yang tidak ditayangkan lebih menarik perhatian daripada sebuah olimpiade sains. Budaya popular yang melanda masyarakat pun mendorong orang untuk bersemboyan “santai tapi selesai” atau “santai tetapi sukses”. Ini kambing hitam kedua, situasi sosio-kultural yang tidak kondusif bagi banyak orang untuk belajar keras.

Kambing hitam ketiga, banyaknya keterlibatan siswa dalam event-event yang digelar oleh sekolah maupun OSIS. Segala daya dan upaya yang mereka lakukan untuk suksesnya sebuah event telah menghabiskan energy mereka sehingga tidak tersisa yang untuk mata pelajaran. Energi itu habis oleh aktivitas rapat koordinasi, usaha dana mulai dari berjualan makanan sampai dengan keluar masuk rumah tokoh masyarakat, kantor pemerintah maupun swasta menawarkan proposal kerjasama atau sponsorship.

Kambing hitam yang keempat apa, ya. Silakan siapa saja yang menemukan kambing hitam-kambing hitam berikutnya untuk menuliskan di komentar.

Terimakasih atas perhatiannya.

One thought on “Mencari Kambing Hitam Rendahnya KKM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s