Kuantifikasi Profesionalisme Guru


Dalam pendidikan, guru memegang peran essensial yang sulit digantikan dengan siapapun. Hal ini sesuai dengan Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 yang menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Sebagai tenaga yang profesional, guru diharapkan memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat yang sesuai dengan kewenangan mengajar. Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 7 mengamanatkan, bahwa profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip, antara lain memiliki kualifikasi akademik, latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya dan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan bidang tugas tersebut.

Pada pasal 9 UU tersebut menyatakan bahwa kualifikasi sebagaimana dimaksud diperoleh melalui pendidikan tinggi jenjang S1/ D4. Hal tersebut lebih ditegaskan pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 29 yang menyatakan bahwa pendidik pada pendidikan anak usia dini (PAUD), SD/MI, SMP/Mts, SMA/MA, SDLB/SMPLB/SMALB dan SMK/MAK masing-masing memiliki: (1) Kualifikasi akademik minimal S1/ D4, (2) Latar belakang pendidikan tinggi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan (3) Sertifikat profesi guru sesuai dengan jenis dan tingkat sekolah tempat kerjanya.

Demikianlah, tetapi praktik di lapangan, penghargaan atas profesionalisme guru terkait juga dengan beban mengajar minimal 24 jam/minggu, yang tidak semua guru dapat memenuhinya, sebagaimana saya, seorang guru di sebuah sekolah negeri favorit.

Kalau boleh menilai diri sendiri, maka sebenarnya saya layak untuk disebut profesional. Kualifikasi pendidikan S-1. Memang tidak sama dengan mata pelajaran yang saya ampu, tetapi relevan. S-1 saya pendidikan geografi, dan matapelajaran yang saya ampu sosiologi. Berdasarkan penilian portofolio, saya lulus sertifikasi dengan nilai yang lumayan tinggi, 16xx, saya lupa persisnya, dan untuk lulus penilaian portofolio cukup bernilai 850.

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari di kelas, meskipun kadang tidak terdokumentasi dengan baik, tetapi selalu berusaha untuk melakukan inovasi dalam strategi, metode, dan penggunaan media pembelajaran. Update bahan ajar selalu saya lakukan, khususnya bahan presentasi power point, dan semua bahan ajar telah saya posting di weblog (blog) yang memang saya buat sebagai penunjang kegiatan belajar-mengajar. Berdasarkan hal-hal tersebut, perkenankan saya menilai diri saya sebagai guru yang relatif profesional.

Sekedar untuk data pelengkap penilaian diri terkait dengan profesionalisme, bukan untuk maksud yang lain, izinkan menyampaikan beberapa hal; bahwa saya tidak jarang dilibatkan dalam beberapa even pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi ataupun LPMP, sebagai instruktur, narasumber, ataupun fasilitator. Pusat kurikulum pun pernah melibatkan saya dalam kegiatan pengembangan dan penilaian kurikulum. Sampai saat ini saya masih tercatat sebagai anggota Tim Pengembang/Perekayasa Kurikulum SMA Tingkat Provinsi DIY untuk Mapel Sosiologi. Beberapa kali ditugaskan oleh Puspendik Balitbang Depdiknas RI sebagai penulis soal EBTANAS/UN. Dan, buku pelajaran sosiologi SMA yang saya tulis bersama beberapa teman pun telah diterbitkan oleh PT Yudhistira, sebuah penerbit buku sekolah kaliber nasional.

Namun, untuk memperoleh pengakuan profesional yang secara nyata terwujud sebagai dampak finansial, yaitu tunjangan profesi, ada ketentuan bahwa seorang guru minimal memiliki beban mengajar 24 jam/minggu. Batas minimal yang sangat tidak mungkin saya penuhi di sekolah saya mengajar, SMA Negeri 3 “Padmanaba” Yogyakarta.

Di SMA tempat saya mengajar terdapat tujuh kelas paralel kelas X, satu kelas XI Program IPS, dan satu Kelas XII Program IPS, sehingga jumlah jam mata pelajaran yang saya ampu hanya 22 jam/minggu, dan diampu oleh dua orang guru. Bagaimana kami dapat memenuhi beban minimal itu? Untuk satu orang guru saja tidak mungkin.

Keadaan ini membuat saya dalam beberapa situasi kehilangan semangat dan ethos kerja. Saya merasa cukup profesional, kecuali jumlah jam mengajar. Dan, tragisnya, ketidakmampuan saya memenuhi beban minimal ini bukanlah salah saya, melainkan karena: (1) struktur kurikulum, (2) jumlah rombongan belajar, dan (3) formasi guru. Sehingga dengan tidak akan diakuinya profesi saya karena tidak memenuhi beban mengajar ini membuat saya merasa teraniaya secara struktural; saya menyebutnya sebagai pendzoliman struktural.

Dan, apabila jumlah jam mengajar sebagai ukuran diberikannya tunjangan profesi, maka sesungguhnya itu telah menurunkan derajat dan martabat guru sebagai sebuah profesi menjadi sekedar buruh atau tukang mengajar.

Profesi sebenarnya merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian. Sifatnya kualitatif. Dan dengan menjadikan jumlah jam mengajar sebagai patokan, berarti telah menggeser sesuatu yang mestinya kualitatif menjadi sekedar kuantitatif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s