Masalah Mewariskan Modal Sosial


Materi dalam tulisan ini merupakan inti sari dari yang akan saya sampaikan pada “Rembug Padmanaba #5”, sebuah forum bincang-bincang yang diselanggarakan oleh Alumni SMA Negeri 3 “Padmanaba” Yogyakarta, pada Sabtu 22 Mei 2010, di Yogyakarta.  Tema yang telah dirumuskan panitia adalah  “Warisan Budaya Indonesia”.   Semoga klop dengan status saya sebagai guru sosiologi,  saya memilih judul pewarisan modal sosial.  Selain saya juga akan berbicara sesuai dengan bidangnya masing-masing, antara lain alumni SMA Negeri 3 sekaligus pengurus komite sekolah, Mas Dr. T. Yoyok Wahyu Subroto yang akan berbicara tentang kosmologi dan arsitektur,  eks murid saya di IPS, Mirah Maheswari, yang akan berbicara tentang seni,  kemudian Rosalia Ari Sulistyantari tentang psikologi lokal, dan satu pembicara dari luar Padmanaba, Bapak Bagyo Wibawanto, tentang metalurgi dan Tosan Aji. Sehingga sepertinya akan lengkap meliputi semua wujud dan lingkup budaya,  yang terdiri dari (1)  wujud ideal/gagasan,  (2) wujud sistem sosial atau tindakan, dan (3) wujud benda-benda hasil budaya/artefak.  Modal sosial, merupakan bagian dari wujud yang kedua, yaitu sistem sosial atau sistem tindakan.

Modal sosial merupakan konsep yang menurut Francis Fukuyama (2002)2 telah menjadi entri  di kalangan ilmuwan sosial sejak 1980-an, dan sama pentingnya dengan modal yang telah sangat lama dibicarakan dan difahami oleh para ekonom, bahkan oleh  hampir  siapa saja, yaitu modal ekonomi atau finansial. Modal sosial merupakan sumber yang timbul dari adanya interaksi di antara orang-orang dalam suatu komunitas, baik yang terjadi dalam skala individual maupun institusional, seperti terpeliharanya kepercayaan di antara para warga masyarakat, kohesifitas, altruism, kegotongroyangan, dan kolaborasi yang terjadi di antara komponen-komponen pembentuk komunitas/masyarakat. 3 James Colemen  (dalam Fukuyama, 2002) menyatakan  bahwa modal sosial menunjuk pada kemampuan orang-orang untuk bekerja bersama-sama dalam kelompok.

Pewarisan modal sosial ini menjadi sangat penting karena bangsa Indonesia yang selama ini dikenal oleh banyak pihak sebagai sebuah bangsa yang ramah, memiliki semangat kegotongroyongan dan altruism, serta toleransi (tepo seliro) yang tinggi, tetapi ketika dihadapkan pada berbagai perubahan sosial sebagai akibat dari aneka krisis yang menimpa (krisis moneter, krisis politik, krisis kepercayaan, dan lain-lain) tampaknya semua karakter sosial yang melekat dan diagung-agungkan itu, mulai berangsur-angsur hilang, dan bahkan   menampakkan karakter sosial yang bersebarangan, yang bengis dan menakutkan. Misalnya tampak secara transparan dalam bentuk tindakan-tindakan yang destruktif terhadap sesama dan lingkungan yang ada di sekitar kita. Berbagai macam benturan, konflik, kekerasan, pembunuhan, pembakaran, penjarahan, pemerkosaan, penculikan, terorisme, dan lain-lain, merupakan berita sehari-hari yang dapat kita nikmati melalui layar televisi, dan secara teoritis maupun praktis, hal tersebut jelas akan mengancam kesibambungan kehidupan bermasyarakat. 4

Modal sosial beserta segenap elemennya, seperti yang telah disebut di atas, memiliki pengaruh yang besar terhadap kesinambungan, bahkan dengan modal itu dapat diharapkan terjadinya pertumbuhan ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan melalui beragam mekanisme, seperti meningkatnya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat, dan menurunnya tingkat kekerasan serta kejahatan.

Tapi mengapa modal itu sekarang seolah-olah tidak menjadi milik kita, atau setidaknya jauh dari kita? Bagaimana peran institusi keluarga dan pendidikan dalam mewariskan hal tersebut melalui fungsi sosialisasi?

Pertumbuhan  merkantilisme yang mengiringi industrialisasi dan modernisasi, yang menjadikan kesuksesan hidup diukur dengan hal-hal yang bersifat material melalui apa yang disebut taraf hidup, telah menempatkan laba dan efisiensi sebagai dorongan yang efektif dan utama bagi seseorang untuk melakukan suatu aktivitas, termasuk melakukan interaksi dan hubungan sosial. Sementara, indikator-indikator modal sosial – seperti kepercayaan, norma, dan jaringan – sering dipandang dalam posisi yang berseberangan.  Kegotongroyongan dan toleransi lebih dilihat sebagai unsur yang bersifat afektif yang  mengingkari objektivitas, rasionalitas, dan efisiensi. Akibatnya, kepercayaan, norma, dan juga jaringan, tidak diajarkan baik melalui keluarga ataupun pendidikan. Ukuran sukses sebuah keluarga adalah ketika anak-anak yang dilahirkan dapat mengumpulkan status symbol sebagai orang kaya, dan institusi pendidikan akan dinilai sukses kalau berhasil meluluskan peserta didiknya dengan nilai-nilai kognitif yang minimal baik.

Akibatnya, modal sosial yang merupakan kekayaan para nenek moyang kita, sekarang ini tidak menjadi milik kita. Dan, identitas sebagai bangsa yang ramah, berubah menjadi bangsa pemarah. Semoga akhirnya, kita pun akan menganggap penting hal itu, dan berusaha untuk mendapatkannya kembali sebagai milik diri.

Wallahu a’lam bi shawab!

Rujukan:

Francis Fukuyama. Social Capital and Development: The Coming Agenda, SAIS Review vol. XXII no. 1 (Winter–Spring 2002)

Edi Suharto, Ph.D. Modal Sosial dan Kebijakan Publik. http://www.policy.hu/suharto/

Pupu Syaiful Rahmat, M.Pd., Memupuk Institusi Lokal dan Modal Sosial. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/03/29/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s