“Ainun, Saya sangat mencintaimu. Tapi …”


Ainun, saya sangat mencintaimu. Tapi Allah lebih mencitaimu. Sehingga saya merelakan kamu pergi.” Demikian kata-kata terakhir Pak Habibi kepada Almarhumah isteri yang sangat dicintainya, Hasri Ainun Bestari. 

Mungkin inilah kisah cinta abadi pada abad ini. Bacharuddin Jusuf Habibie menginspirasi ribuan mungkin jutaan orang tentang makna sebuah cinta yang begitu tulus. Kata-kata terakhir Habibie, di depan jenazah istrinya, Hasri Ainun Habibie, telah menegakan bulu roma, membasahi mata, menyesakkan dada. “Saya dilahirkan untuk ibu Ainun, dan ibu Ainun dilahirkan untuk saya,” tutur Habibie.

SUASANA pemakaman bekas Ibu Negara, Hasri Ainun Habibie berlangsung sangat mengharukan. Isak tangis mengiringi kepergiannya. Yang paling terlihat berduka adalah suaminya, BJ Habibie. Bekas presiden Ri itu tampak terkulai. Air mukanya mendung. Tanda kesedihan yang sangat mendalam.

Habibie tidak mampu menahan derasnya air mata selama prosesi pemakaman. Dia duduk di kursi yang disiapkan di samping pusara. Tidak henti-hentinya, presiden ketiga itu mengucurkan air mata, dan langsungdiusap sapu tangan yang digenggamnya. Saat tiba waktunya menaburkan bunga terakhir untuk sang istri, dia tampak tak kuasa berdiri, tubuhnya sempat limbung dan harus dipapah puteranya, Ilham Akbar Habibie dan sejumlah kerabat. Presiden, dan Ibu Negara, serta seluruh tamu undangan yang menyaksikan ini tertunduk. Ikut merasakan kesedihan yang mengharukan. Habibie sudah ikhlas melepas kepergian isterinya.

Bahkan, di Twitter, ribuan tweeps (sebutan untuk para pengikut twitter) ramai membicarakan tentang wafatnya Hasri Ainun Habibie, dan menjadi trending topic. Yang paling banyak di-posting adalah kata-kata Habibie kepada almarhumah, yakni: “Saya dilahirkan untuk Ibu Ainun, dan Ibu Ainun dilahirkan untuk saya.” Selain itu, kalimat yang paling banyak diposting juga mengutip pernyataan Habibie “Ainun, saya sangat Mencintaimu. Tapi Allah lebih Sehingga saya merelakan kamu pergi“.  Banyak orang terobsesi, kemudian menulis di Twitter “Omaigawd, the love story of mr.Habibie and her wife is sooo romantic :’)”, “- Terharu baca ttg Pak Habibie yang setia disamping istri sampai akhir hayat. Semoga kelak bisa dapet suami spt itu. Amiin…,  “- Ingin punya kehidupan cinta seperti Pak Habibie & Alm Ibu Ainun”, “- Terharu bgt dnger kata2 pak habibie.kalo ibu ainun terlahir utk dia dan pak habibie tercipta utk ibu ainun..”, dan masih banyak yang lainnya.

Demikian juga di Facebook, banyak orang terinspirasi untuk menulis kalimat yang muncul dari hati nurani yang paling dalam seorang cendikiawan muslim ini di statusnya.

Ibu Ainun menikah dengan pak Habibie pada  12 Mei 1962, dan meninggal tepat sepuluh hari setelah mereka merayakan ulang tahun ke-58 perkawinan – kemudian ajal yang memisahkan mereka. Ainun Habibie meninggal 23 Mei, pukul 17.30 waktu Jerman, di RS Munchen, Jerman, pada usia 72 tahun. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Semoga pelajaran tentang “kesetiaan” dari Pak Habibie ini dapat dipetik oleh siapa saja,  dan tentu saja diri saya! Semoga …!

One thought on ““Ainun, Saya sangat mencintaimu. Tapi …”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s