Rambut Gimbal Anak Dieng


Plato Dieng. Kadang disebut Dataran Tinggi Dieng. Jadi ingat zaman kuliah Geomorfologi di tahun 1982-an, disuruh membedakan antara dataran tinggi dengan plateau (plato). “Ayo Agus, apa bedanya Plato dengan Dataran Tinggi …”, “Jawab, rasah mesam-mesem ….”. Waktu itu saya menjawab, “dataran tinggi itu lahan datar di tempat yang tinggi, di atas 1000 meter dpal, plato itu sebenarnya dataran tinggi, tetapi di antara lereng-lerengnya ada yang curam. Contohnya Dieng dan Wonosari, Pak …”.  Tanpa komentar, pak Imam pun meneruskan keterangannya tentang bentuk permukaan bumi. Saya tidak tahu apa jawaban saya itu salah apa benar.

Dan, kemarin, Ahad 06 Juni 2010, bersama dengan teman-teman MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta saya datang lagi ke plato itu, setelah terakhir datang di tempat itu kira-kira tahun 1986. Yah, 24 tahun yang lalu. Maka, ketika menginjakkan kaki lagi di kompleks candi-candi di dataran itu kemarin itu, seperti datang di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Situasinya benar-benar telah berubah. Bahkan, nyaris saya tak punya sisa ingatan tentang kompleks candi-candi itu di 24 tahun yang lalu. Seingat saya,  dulu kompleks candi tak dikelilingi dengan pertamanan yang asri dengan tanaman bunga yang hanya dapat tumbuh di daerah sedingin Dieng.

Sebenarnya Dieng bukan objek yang tepat untuk upgrade keilmuan guru-guru sosiologi, dan ini sebenarnya telah disadari sejak awal perencanaan kunjungan lapangan. Tetapi, berdasarkan berbagai pertimbangan “objektif-rasional”, antara lain dana dan waktu yang tersedia, maka Dieng lah yang paling tepat. Maka saya menulis di status facebook saya, “… mbuh nanti akan dapat apa, yang penting dapat tertawa!”.

Dan benar. Ketika mengunjungi beberapa objek di Dieng, seperti beberapa kawah dengan bau belerang yang sangat menyengat, saya dan beberapa teman yang berlatar belakang S-1 Geografi, justru merasa keilmuan tentang kegeografian tersegarkan.  Sehingga  serasa kembali menjadi guru geografi.  Mapel di SMA yang sejak tahun 2005 saya tidak mengajarkannya lagi.

Yang mungkin sedikit “berbau” sosiologi adalah tentang fenomena anak berambut gimbal, atau yang oleh penduduk setempat disebut gembel. Itu pun lebih condong ke kajian antropologi, tentang sistem keyakinan yang berkenaan dengan rambut gimbal. Empirisme sosiologi tidak bisa menangkap makna (hermeneutika) dari fenomena itu, karena memang rambut gimbal dalam banyak hal terkait dengan mistik, atau kalao menurut tradisi keilmuan disebut sebagai superstition. Walaupun sebenarnya, keterkaitan orang atau sekelompok orang dengan mistik pun dapat merupakan fenomena empirik.  Lha wong nyatanya ada koq.

Tentang Rambut Gimbal

Sebenarnya fenomena anak berambut gimbal dapat dijumpai tidak hanya di Dataran Tinggi Dieng (2010 m dpal), tapi juga di di Kawasan lereng Gunung Merbabu dan Sindoro (Wonosobo). Rambut gimbal ini bukan mode yang meniru Gaya artis Bob Marley, mbah Surip, atau pesepakbola Ruth Gulith, tetapi merupakan fenomena alam yang muncul secara misterius di kawasan tersebut.

Masyarakat di kawasan lerang Sindoro dan Merbabu mempercayai bahwa anak-anak berambut gimbal merupakan karunia/anugerah dari para dewa, bukan musibah atau kutukan, sehingga mereka akan merasa bersyukur jika salah satu anak atau anggota keluarga mereka mempunyai rambut gimbal. Hal ini tidak dipandang sebagai  aib keluarga. Bahkan, orangtua dari anak gimbal ini yakin bahwa anak tersebut bukan murni anaknya sendiri, melainkan titipan dari dewa, sehingga orang tua akan sangat memberikan perhatian kepada anak-anak ini. Apapun permintaan anak ini akan dituruti, sehingga dalam banyak hal, anak gimbal tampak lebih manja dari anak lain yang tidak gimbal. Demikian keterangan Pak Agus Tjugianto (pemilik Dieng Restaurant, di Jalan Mayor Kaslam 30 Wonosobo) dalam wawancara singkat ketika transit untuk berganti bus (karena bus besar yang dari Yogya tidak mungkin meneruskan perjalanan ke Dieng, harus berganti dengan bus-bus lokal yang lebih kecil).

Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak rambut gimbal ini tidaklah berbeda dengan anak normal lainnya, dari sisi anak-anak mereka juga suka bermain dan bersenda gurau bersama teman-temannya. Anak-anak lain memanggil anak gimbal ini bukan dengan namanya, melainkan dengan sebutan “mbel”, pemendekan dari gembel.

Satu hal yang membedakan adalah kekuatan fisik mereka yang melebihi anak-anak pada umumnya (yang tidak gimbal). Perilaku yang agresif yang cenderung nakal dan manja, serta ketahanan dari berbagai serangan penyakit yang sering menyerang anak-anak seperti flu, pilek, adalah keunggulan anak-anak ini.  Tetapi bukan berarti anak-anak gimbal ini tanpa hambatan, karena biasanya pada setiap malam jum’at mereka  rewel.

Sejak kapan rambut Gimbal itu muncul ?

Anak-anak rambut gimbal bukanlah merupakan pembawaan sejak mereka lahir. Saat bayi mereka terlahir sebagaimana anak yang lainnya. Biasanya gejala itu baru muncul saat anak menginjak usia satu tahun. Perubahanpun terjadi secara tiba-tiba, tanpa diawali oleh gejala-gejala tertentu. Bahkan,  saat mereka berangkat tidur masih belum terlihat tanda-tandanya tetapi saat bangun tidur rambut sudah menjadi gembel.

Dalam perawatanpun anak-anak berambut gimbal juga tidak jauh seperti anak berambut normal. Mereka juga mencuci rambut (keramas), bahkan dengan shampoo setiap waktu. Yang membedakan adalah rambut tidak disisir dan di potong. Ada saat tertentu di mana rambut boleh dipotong. Apabila belum tiba waktunya rambut dipaksa untuk dipotong maka si anak akan gampang skit-sakitan hingga rambutnya tumbuh lagi dangan kondisi yang sama, bahkan dipercaya bisa mendatang bencana bagi keluarga tersebut.

Ada empat jenis rambut gimbal anak Dieng, yaitu (1) gimbal pari (yang paling kecil), (2) gimbal jagung,  (3) gimbal jatah, dan (4) gimbal wedus, yakni gimbal yang paling besar.

Kapankah rambut gimbal boleh dipotong?

Tidak ada patokan yang pasti pada anak umur berapa rambut gimbal akan dipotong (disebut potong gombak), akan tetapi hal tersebut akan dilakukan pada saat anak telah cukup umur (lebih kurang dari 7 – 10 tahun)  dan orang tuanya telah sanggup memenuhi syarat-syarat yang diperlukan.

Potong gombak dilakukan setelah anak memintanya untuk dipotong. Pada umumnya disertai dengan permintaan si anak yang harus dituruti, seperti minta dibelikan kambing, sapi, uang, mainan anak-anak, atau benda-benda lain. Tidak ada pola tentang permintaan anak gimbal ini, bisa mulai dari permintaan yang sederhana sampai dengan yang tidak mungkin dituruti oleh orangtuanya. Bahkan menurut pak Agus, pernah ada anak imbal yang minta kepala ayahnya. Sehingga permintaan ini tidak dapat dituruti, dan rambut anak itu pun tidak dipotong hingga dewasa bahkan meninggal dunia.

Ada cerita juga bahwa anak berambut gimbal tiba-tiba minta diantar ke pasar ternak, dan langsung memegang seekor kambing untuk dijadikan miliknya, padahal orangtuanya tidak mampu membayar harga kambing yang sekitar satu juta rupiah. Tetapi, penjual ternak itu pun menyerahkannya, walaupun belum dibayar lunas oleh orang tua si anak gimbal. Penjual tahu bahwa itu permintaan yang harus dituruti, sehingga kalau ia tidak bersedia menyerahkan ternak itu akan mendapat kutukan dewa.

Setelah permintaan dipenuhi, syaratnya berikutnya harus diadakan ruwatan. Sesaji-sesaji yang disediakan pada acara ruwatan ini merupakan lambang permohonan petunjuk dan keselamatan bagi perjalanan hidup si anak. Ada beberapa sesaji yang biasa digunakan, seperti (1) Ambeng bodro, berupa nasi yang dikelilingi lauk pauk tempe, tahu dan telur,
(2) Ambeng bobrok, berupa ketan yang diberi gula merah, jenag merah putih serta jajan pasar, dan (3) Sesaji lain yang diperlukan antara lain : kepala kambing, ingkung ayam, nasi tumpeng, bunga mawar, aneka minuman, kemenyan, air kendi, sisir dan cermin.

Nilai sesaji untuk potong gombak sangat bergantung pada kemampuan masyarakat yang menyelenggarakan, sehingga hal ini akan dilaksanakan bila orang tua sudah siap. Bahkan bila mempunyai kemampuan lebih sering diselenggarakan dengan pergelaran wayang kulit.

Ritual potong gombak diawali dengan memohon ijin kepada yang maha kuasa untuk memotong rambut si anak. Kemudian tokoh masyarakat/dukun gombak mencukur habis rambut si anak, sebagai upaya untuk membersihkan lahir dan batinnya dari pengaruh jahat, agar dalam kehidupan dan perkembangannya terhindar dari gangguan kekuatan gaib yang berada dalam dirinya. Rambut yang telah dipotong diberi mantra, kemudian di buang/dilarung.

Sampai sekarang, belum ada penelitian medis tentang rambut gimbal. Entah kenapa, barangkali karena memang ini difahami oleh orang-orang sebagai fenomena antropologi yang perlu dipertahankan, atau bahkan potensi wisata. Betapa tidak, salah satu latarbelakang kenapa Dieng menjadi objek kunjungan guru-guru sosiologi kota Yogyakarta ini, juga karena rambut gimbal ini.

Foto seorang anak berambut gimbal di gendong oleh neneknya, foto diambil di Pasar Kawah Si Kidang

(Foto: Agus Santosa)

Tidak terlalu tepat memang, tapi daripada tidak. Pertimbangan waktu dan biaya menjadikan objek Dieng sebagai yang paling tepat. Walaupun di sana, ketika melihat realita yang ada di Dieng, beberapa guru sosiologi merasa lebih sebagai guru geografi, antropologi, atau juga sejarah.

Wallahu a’lam bi shawab.

5 thoughts on “Rambut Gimbal Anak Dieng

  1. Pingback: SukaJalan.Net Kawah Sikidang

    • sepertinya belum pernah dengar … belum pernah dengar ada dokter yang bicara tentang ini … selama ini yg saya baca/dengar baru dr antropolog …. *kalau ada info kasih tahu ya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s