Dana Aspirasi DPR RI


Ini bukan artikel. Tetapi hanya uneg-uneg saja, karena sepertinya aneh. Maka posting saya pun di buku harian. Memang, ada-ada saja gagasan dari para anggota DPR RI. Sejak dilantik menjadi anggota DPR, wakil rakyat di Senayan tak berhenti menggulirkan gagasan yang cenderung kontroversial dan mengundang kritik. Mulai dari anggaran untuk pembangunan gedung baru, renovasi rumah dinas hingga usulan dana aspirasi Rp 15 miliar bagi setiap anggota DPR.  Untuk dana aspirasi cepat sekali menjadi kontroversi barangkali karena jumlahnya yang wah … 15 miliar. Seorang anggota DPR yang belum tentu jelas apa jasanya kepada negara dan bangsa ini, tiba-tiba akan mendapat dana sebesar itu untuk dibawa kepada konstituennya, sehingga akan mirip sinterklas tetapi dengan menggunakan uang rakyat.

[Curcol: jumlah itu akan menjadi sangat spektakuler kalau dibandingkan dengan “tunjangan profesi”  yang besarnya (hanya) satu kali gaji pokok bagi seorang guru yang untuk memperolehnya harus melalui prosedur yang berbelit dan belum tentu berhasil]

Keberadaan dana aspirasi itu juga memunculkan kekhawatiran di kalangan publik. Mereka menilai dana aspirasi DPR akan menjadi lahan korupsi baru di parlemen. Karena, akan sulit dipastikan apakah dana itu diterima/tidak oleh masyarakat. Belum tentu dana itu sampai ke masyarakat di masing-masing dapil. Bisa jadi hanya sampai ke tim sukses mereka saja.

Usulan politikus Senayan untuk mengelola dana aspirasi dinilai sangat mengada-ada. Jika terealisasi, hal ini jelas melanggar UU No 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU No 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.

Sepertinya kita harus bersyukur, apabila pemerintah menolak usulan anggota DPR tersebut karena dianggap berpotensi melanggar Undang-Undang. Dana aspirasi DPR, tidak memiliki dasar konstitusi yang kuat. DPR tidak mempunyai fungi dan tugas untuk mengalokasikan dana ke daerah. Bahkan, sebagaimana dikawatirkan oleh Ikrar Nuasa Bakti (Wawancara Metro TV, Senin 7 Juni 2010) , dapat jadi dana aspirasi akan digunakan oleh anggota DPR untuk “membeli suara rakyat” pada pemilu berikutnya.  Walaupun, Priyo Budi Santosa (Golkar) dalam acara yang sama membantah hal ini dan meminta semua pihak untuk tidak suudzon dan belum-belum sudah berprasangka, tetapi  yang disampaikan oleh Ikrar Nusa Bhakti itu sepertinya tidak dapat dipungkiri.  Selain itu, bentuk alokasi dana itu juga dinilai janggal. Bahkan cenderung merusak sistem administrasi keuangan negara.

DPR sebaiknya tidak perlu “ngotot” untuk melanjutkan usulan dana aspirasi tersebut. Jika yang diinginkan adalah pemerataan pembangunan, DPR harus melakukan pengawasan terhadap program-program pemerintah secara optimal. Apabila ingin memperjuangkan Dapilnya masing-masing, maka sampaikan aspirasi masyarakat ke Kementerian yang terkait, bukan harus sebagai pelaksana pengguna anggaran.

2 thoughts on “Dana Aspirasi DPR RI

  1. Jumat, 11 Juni 2010

    Wacana usulan dana aspirasi Rp 15 miliar per tahun per daerah pemilihan bagi kalangan anggota DPR mendapatkan reaksi keras dari media, pengamat maupun pemerintah. Kalau dicermati, sebenarnya argumentasi mereka itu lebih banyak pada kurangnya informasi yang disampaikan kepada publik. Karena itu, diperlukan komunikasi politik yang baik, sehingga gagasan yang dilontarkan bisa diterima dan dicerna secara jernih oleh masyarakat luas.

    Beberapa hal yang menjadi perdebatan, pertama, pandangan bahwa sana aspirasi DPR melanggar konstitusi tidaklah benar. Dana aspirasi, seperti halnya earmark di Senat Amerika atau priority development assistance fund oleh senator di Filipina, begitu juga di Denmark, Swedia, Norwegia adalah provisi legislasi untuk menyetujui secara langsung penggunaan dana untuk spesifik program prioritas pembangunan daerah.

    Caranya yaitu dengan menambahkan anggaran pada kegiatan yang telah disetujui bersama oleh pemerintah atau mengurangi anggaran suatu proyek, dengan beberapa persyaratan khusus. Biasanya para legislator di negara lain memasukkan anggaran tersebut dalam beberapa proyek pembangunan pemerintah di distrik tempat mereka dipilih. Seperti halnya earmark, dana aspirasi tidak berpotensi melanggar fungsi parlemen dalam UUD 1945, UU No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara atau UU No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

    UUD 1945 tidak ada yang dilanggar karena dalam hal ini DPR bukan eksekutor, pelaksana atau pengguna anggaran, melainkan tetap dalam fungsinya, yaitu melaksanakan fungsi anggaran. UU No 17 Tahun 2003 Pasal 12 ayat (2) menyatakan bahwa rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) disusun berpedoman pada rencana kerja pemerintah. Jadi, tidak ada yang dilanggar, karena dana aspirasi itu yang dimasukkan dalam rencana kerja pemerintah dalam bentuk program pemerintah.

    Tidak mungkin setiap anggota parlemen menyetujui rencana kerja pemerintah dalam paripurna tanpa mengetahui di sektor mana mereka bisa mengawasi penggunaan anggaran itu secara mendetail. Dengan kata lain, RAPBN yang disusun pemerintah harus bisa merepresentasikan prioritas pembangunan daerah sesuai dengan aspirasi langsung masyarakat via perwakilan mereka di parlemen. DPR bisa membahas hal ini sesuai dengan Pasal 70 ayat (2) UU No 27 Tahun 2009 untuk membahas dan memberikan persetujuan atau tidak terhadap RUU yang diajukan presiden.

    Kedua, menyangkut asas perimbangan daerah di mana terdapat argumentasi melanggar UU No. 2003 Tahun 2004. Perimbangan daerah sudah jelas direpresentasikan oleh jumlah perwakilan daerah yang duduk di DPR, sesuai dengan proporsionalitas penentuan daerah pemilihan (dapil). Konsep pemerataan itu berlapis, bisa dengan proporsi penduduk, bisa pula dengan pertimbangan khusus, melalui jalur program yang lain seperti dana alokasi khusus atau dana alokasi umum yang jumlahnya jauh lebih besar.

    Penetapan prioritas pembangunan dengan dana aspirasi justru dapat lebih tajam karena aspirasi bottom-up dari masyarakat. Jadi, berbeda dengan program yang masih termasuk subordinat eksekutif yang berpotensi memiliki kepentingan untuk menetapkan prioritas yang berbeda dari masyarakat. Karena itu, rencana penggunaan dana aspirasi tidak melanggar konstitusi.

    Ketiga, menyangkut adanya kekhawatiran terjadinya korupsi, calo anggaran atau penyelewengan uang negara. Seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa DPR bukan bertindak sebagai pelaksana atau pengguna anggaran, sehingga pelaksanaan program tersebut mulai dari tahap seleksi sampai eksekusi proyek, semua dilakukan oleh pemerintah. Secara mekanisme, ini tidak dimungkinkan adanya insentif uang langsung ke tiap anggota DPR.

    Secara statistik, kasus korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang melibatkan pejabat publik, hampir 90% lebih bukanlah pejabat yang dipilih melalui sistem pemilihan langsung. Sistem pemilihan langsung secara efektif menaikkan tingkat akuntabilitas penerima mandat, seperti halnya anggota DPR terpilih. Kecil kemungkinan anggota DPR tersebut menjadi calo anggaran di daerah pemilihannya karena dapat berdampak luas terhadap tingkat elektabilitasnya. Justru dengan mekanisme dana aspirasi ini, akan memotong peran calo-calo anggaran di Senayan yang mengatasnamakan pembangunan daerahnya untuk meminta bisnis atau program dari para mitra kerjanya di pemerintah secara bisik-bisik.

    Di Amerika, earmark sering dikonotasikan menjadi legislasi pork barrel, walaupun sebenarnya berbeda. Earmark atau kalau di sini dana aspirasi adalah objective determination before the fact (penetapan tujuan sebelum pelaksanaan program). Sedangkan pork barrel adalah spending subjective (pelaksanaan anggaran) di mana “oknum” legislator yang disebut pork adalah suatu hal yang lain.

    Hal yang sering diberitakan adalah senator Rep Ted Steven dari Alaska yang dikenal mengajukan alokasi anggaran 398 juta dolar untuk membuat jembatan yang menghubungkan Ketchikan International Airport dengan pulau kecil Revillagigedo Island yang “hanya” dihuni 50 orang. Ted didrop dari semua tuduhan tanggal 1 April 2009 oleh jaksa Eric Holder. Hukuman yang didapat Ted Steven, senator selama 31 tahun, adalah kalah oleh Demokrat Mark Begich, bukan karena kasus korupsi atau penyelewengan earmark. Kasus lain sangatlah sedikit apabila dilihat dari pelaksanaan earmark di Amerika yang dimulai tahun 1873.

    Jika dibandingkan dengan besaran proposal dana aspirasi Rp 15 miliar/tahun/anggota dengan total Rp 8,4 triliun, itu belum seberapa dengan earmark di Amerika yang besarnya 2% dari total bujet federal. Di Filipina, setiap senator berhak menganggarkan sebesar 200 juta pesos atau sekitar Rp 39,7 miliar atau 70 juta pesos setara dengan Rp 13 miliar rupiah bagi representatif daerah. Dan, sekali lagi, anggota kongres “hanya” mengalokasikan (directed project), bukan sebagai pelaksana.

    Secara tidak langsung, konsep dana aspirasi ini juga untuk mengimbangi agar tidak terjadi lagi pola executive heavy, di mana rentan untuk tumbuh menjadi otoritarian baru atau rezim baru. Mungkin, kalau dana aspirasi ini diganti menjadi program asistensi prioritas pembangunan daerah, bisa berkurang pendapat miring di media. Kita semua tahu bahwa kesejahteraan masyarakat terbukti tidak dapat tinggal landas apabila kekuasaan terpusat.

    Karena itu, kita semua perlu terus mengupayakan terwujudnya kesejahteraan rakyat. Mari kita semua berkarya menjadi manusia Indonesia yang sanggup bekerja keras, berpikir cerdas, dan melakukan langkah-langkah taktis.***

    Bobby Adhityo Rizaldi
    Penulis adalah anggota Komisi VII F-PG DPR

    • Mr Bobby Adhityo Rizaldi, anggota Komisi VII F-PG DPR, saya sangat berterimakasih atas tanggapan dan informasi yang lebih menjelaskan. Saya yang “hanya” seorang guru di sebuah SMA di Kota Yogyakarta, merasa sungguh mendapat kehormatan, uneg-uneg saya di blog pribadi ditanggapi langsung oleh seorang anggota dewan yang terhormat. Izinkan saya menanggapi balik.

      Pertama, dengan “bergantinya nama dana aspirasi itu” menjadi … [maaf, saya lupa] yang akhirnya [berita yang saya dengar] akan lolos ke pleno, barangkali memang sedikit menghilangkan sak prasangka di banyak pihak.

      Kedua, dari penjelasan Mr Bobby, saya masih belum bisa memahami bahwa dengan mekanisme sebagaimana Mr Bobby uraikan, tidak dapat dikatakan bahwa DPR menggantikan fungsi eksekutif. Sehingga sepertinya akan ada himpitan fungsi antara anggota DPR yang akan menyambangi konstituennya dengan dana itu, dan pemerintah daerah yang juga [mestinya] melaksanakan tugas mensejahterakan rakyatnya.

      Ketiga, apabila penggunaan dana itu menjadi otoritas seorang anggota DPR di daerah pemilihannya, apa dapat dijamin bahwa itu akan berfungsi juga mensejahterakan kalangan masyarakat yang dulu “bukan pemilih”nya. Jangan-jangan silaturahmi politik dengan dana itu hanya akan menyentuh kelompok atau golongan yang dulu menjadi pemilihnya.

      Keempat, kesan bahwa dana itu akan menjadi semacam uang untuk “membeli suara” di pemilu yang akan datang tidak dapat dihindarkan.

      Informasi dari Mr Bobby atas hal2 yang saya ungkapkan lagi sangat kami perlukan, mengingat blog saya ini banyak dibaca oleh anak murid saya di sebuah sekolah yang cukup favorit di Yogyakarta, sehingga mereka juga bisa lebih tercerahkan atas isu-isu yang berkembang dalam masyarakat,

      Terimakasih.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s