Kelangsungan Hidup Sebuah Sistem Sosial


Efektivitas pencapaian tujuan (goal attainment) dari sebuah sistem sosial tidak selalu dapat dikendalikan oleh penerapan dari ketentuan-ketentuan formal (hukum positif). Kadang justru pola-pola yang sudah dibentuk sebagai sistem norma, mulai sejak disebut usage (tatacara), folkways (kebiasaan), mores (tata kelakuan), sampai dengan custom atau adat-istiadat lebih dapat memberikan kontribusi untuk efektivitas pencapaian tujuan yang dimaksud. Karena sebenarnya sistem normatif yang demikian ini sudah terbukti dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul di sepanjang sejarah kehidupan sistem sosial tersebut. Itulah mengapa, terkadang munculnya aturan-aturan positif (semacam undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, peraturan walikota, dan semacamnya) keberadaannya menimbulkan gejolak dalam sebuah masyarakat, ketika pasal-pasal di dalamnya berpotensi mengubah pola-pola yang sudah ada. Tentu saja hal demikian berdampak pada kelangsungan sistem sosial yang bersangkutan, karena paling tidak fungsi integrasi dalam sistem tersebut akan terganggu.

Dalam sebuah teori, Parson menyebutkan bahwa kelangsungan hidup sistem sosial akan sangat ditentukan oleh kemampuan dari sistem sosial tersebut menjalankan fungsi-fungsi imperatif, seperti adaptation, goal attainment, integration, dan latent-pattern maintenance.

Sebuah sistem sosial harus mampu beradaptasi dengan faktor-faktor internal maupun eksternalnya. Jika fungsi adaptasi ini tidak berjalan, maka jelas akan menganggu berjalannya fungsi-fungsi lain. Misalnya integrasi. Integrasi atau kesatupaduan unsur-unsur yang bersama-sama membentuk sistem sosial hanya bisa dicapai apabila setiap komponen atau unsur pembentuk tersebut saling bisa menyesuaikan diri satu terhadap yang lainnya. Misalnya minoritas terhadap mayoritas, unsur baru terhadap unsur lama, dan seterusnya. Demikian juga ketika pola-pola yang sudah mapan dan dianggap baik oleh sebagian besar anggota sistem sosial mengalami perubahan. Perubahan pola yang tiba-tiba, artinya tanpa ada alasan-alasan atau latarbelakang yang bisa diterima sehingga pola tersebut berubah,  akan menjadi faktor teganggungnya integrasi. Jika keadaanya demikian, sistem tersebut berarti gagal menjalankan fungsi pemeliharaan pola (lattent pattern maintenance).

Terganggunya integrasi jelas akan berpengaruh pada pencapaian tujuan-tujuan dari sistem sosial tersebut dibangun, atau paling tidak pencapaian tujuan tersebut menjadi tidak mudah.  Berbagai macam konflik, baik yang tersembunyi (laten), permukaan, maupun terbuka akan mewarnai interaksi di antara unsur-unsur pembentuk sistem sosial tersebut.

Hal tersebut “asli kajian” teoritik. Dalam kenyataan praktisnya, (juga) seperti itulah yang sebenarnya. Ketika dalam sebuah kehidupan kelompok sosial (formal maupun nonformal),  unsur dominan dengan kekuasaannya secara tiba-tiba mengubah konvensi-konvensi yang selama ini berjalan dan oleh sebagaian besar warga kelompok diyakini sebagai hal yang baik dan layak untuk dipertahankan, keseimbangan kelompok tersebut sebagai sebuah sistem sosial akan terganggu. Misalnya dalam proses menentukan pimpinan atau pembagian kekuasaan. Tidak dapat sebuah peraturan menteri atau peraturan-peraturan lain yang bersifat general, dapat begitu saja diterapkan di sebuah kelompok.  Dalam konteks ini, harus diketahui bahwa setiap kelompok itu memiliki locality dan contextuality. Maka tidak selalu bisa dibuat sebuah generalisasi. Pengalaman melakukan hal yang sama di  suatu tempat, belum tentu bisa diterapkan di tempat yang berbeda. Itulah mengapa melalui pengetahuan sosiologi difahami bahwa agar dapat diterima dengan baik, tidak dipandang aneh, oleh warga masyarakat yang lain, warga baru sebuah kelompok atau masyarakat harus mampu bersosialisasi dengan cara hidup (cara berfikir, cara berperasaan, dan cara bertindak) yang berlaku di masyarakat itu. Ini sebenarnya adalah pelaksanaan salah satu fungsi adaptasi dari sistem sosial. Karena, dalam batas-batas terntentu, sosialisasi dapat dimaknai sebagaimana istilah adaptasi dalam studi biologi.  Hanya, kalau adaptasi itu dilakukan terhadap lingkungan yang cenderung bersifat fisik-biologis, sosialisasi lebih cenderung kepada cara hidup atau kebudayaan.

Penerapan hukum-hukum positif yang bersifat general, tidak dapat begitu saja diterapkan pada suatu sistem sosial, karena ada faktor “locality” dan “contextuality” tadi.  Seorang pemimpin yang ingin berhasil dalam memimpin sebuah kelompok sosial, apapun itu, formal atau nonformal, sekolahan, kelompok arisan,  atau bahkan organisasi pemuda kampung, hendaknya memahami persoalan “locality” dan “contextuality” ini. Kalau tidak, misalnya dengan begitu saja menggunakan otoritasnya –walaupun itu legal dan sah– untuk mengubah pola-pola yang telah ada disesuikan dengan tujuan-tujuan yang “menurutnya baik”, akan menghadapi reaksi-reaksi negatif, berupa penolakan-penolakan, baik yang agresif ataupun yang oleh beberapa pihak ditunjukkan dengan adanya keengganan. Jalannya sebuah organisasi sosial, walaupun itu formal, kadang akan lebih hidup dan dinamis apabila menyesuaikan dengan norma-norma dan konvensi-konvensi yang lebih bersifat kultural daripada formal.

Semoga yang demikian ini tidak terjadi di sini, di sekolah ini. Hari-hari ini di sekolah di mana saya bekerja sedang berlangsung proses “politik” (pakai tanda petik), yakni menentukan wakil kepala sekolah baru. Mekanisme atau pola yang sudah-sudah dan dianggap oleh sebagian besar warga sekolah ini sebagai hal yang baik adalah, (1) adanya pembatasan masa kerja wakil kepala sekolah, dan (2) proses menentukannya dengan mekanisme pemilihan oleh dewan guru dan karyawan. Mekanisme demikian diciptakan untuk menjawab permasalahan yang muncul di perjalanan sekolah ini menuju kepada kondisi yang lebih baik. Tapi dua poin penting ini “sepertinya” dihapus oleh kepala sekolah yang baru.  What ever is it, semoga kehidupan sekolah ini tetap nyaman-nyaman saja, empat fungsi imperatif sistem sosial yang dikemukakan Parson itu tidak perlu terganggu!

Wallahu a’lam Bi Shawab …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s