Peterpan atau Peterporn


Terus terang saya bingung oleh pertanyaan anak perempuan saya yang masih duduk di kelas IV SD  terkait  tayangan berita yang sedang  marak di televisi, bukan saja di siaran infotainment semacam gosip atau insert, tetapi juga di  “Metro Hari Ini”-nya Metro TV dan “Selamat Pagi Indonesia”-nya TV One:  gambar hidup porno yang melibatkan orang yang mirip pada idola anak, Ariel Peterpan dan Luna Maya.
Pertanyaannya sederhana memang, “Ariel, ki orang baik atau orang jahat to, Pak“.  Mungkin anak saya bingung, Ariel Peterpan yang selama ini telah mengisi ruang idolaisasi di alam pikirannya, tetapi tiba-tiba dipanggil kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dalam pikiran orang seusia anak saya mungkin memang sangat sederhana, orang yang dipanggil polisi itu mesti orang yang bermasalah karena melakukan suatu tindak kejahatan. Kalau dengan bahasa orang dewasa mungkin pertanyaannya menjadi fatalistis, “yang bener itu Peterpan atau Peterporn?”.
Sebenarnya saya maklum akan “kebingungan” anak saya itu. Selama ini, sejak ia bisa mengenal orang lain dan barangkali mencari sosok idola di luar ayah, ibu dan kakaknya, Peterpan di mana Airel sebagai vokalisnya adalah salah satu dari “fenomena” di televisi yang dijadikan oleh anak saya sebagai “idola”.  Ia mengerti dan bahkan hafal syair lagu-lagu Peterpan. Demikian juga tentang Luna Maya. Anak perempuan saya sungguh kagum oleh keramahan dan kecantikannya ketika membawakan acara Dahsyat dan The Promotor.
Yah, memang dengan arus informasi yang demikian deras dan kuat, saya tidak mampu untuk menjadikan anak perempuan saya itu hanya mengidolakan “Aisyah” isteri Nabi Muhammad, guru-guru TK dan SD-nya, atau bahkan ibunya.  Bahkan, Saya pun belum yakin, apa di pikiran anak saya itu ada yang namanya “Aisyah” itu.  Barangkali ini sebuah kegagalan sosialisasi primer yang saya lakukan di keluarga saya, mungkin.
Kembali ke soal Ariel Peterpan dan Luna Maya yang menjadi sumber kebingungan “idolalogis” (bukan ideologis) anak saya tadi. Dengan kesedaran pola pikirnya yang masih kelas IV SD, barangkali belum mampu untuk menyadari bahwa di dunia ini yang namanya realita, fakta, atau fenomena bisa cepat sekali berubah, bahkan menjadi dalam posisi yang berseberangan, dari putih tiba-tiba menjadi hitam, atau sebaliknya dalam rentang waktu yang hanya singkat. Maklum, anak saya belum diajari secara detail dan teknis oleh gurunya tentang “perubahan sosial”.
Tapi ternyata, kebingungan anak saya itu, bukan hanya menggejala pada anak-anak saja, orang dewasa pun cukup bingung melihat ini sebagai fenomena apa.
Sebuah tulisan oleh Yul Amrozi di note Facebook-nya yang antara lain di-tag-kan di wall facebook mas Arie Djito (Fisipol UGM), dengan sangat bagus menggambarkan fenomena ini. Saya pribadi belum mengenal Mas Yul Amrozi, tetapi mohon izin untuk mengkopi paste note itu di sini,. Judul tulisan itu memang agak-agak “membangetkan situasi”, “Peristiwa Kultural Terbesar Dalam 30 Tahun Terakhir”.  Tulisan selengkapnya sebagai berikut.
Tahu nggak sih kalau tersebarnya video  [sensor] Ariel-Luna, Ariel-Tari kemarin itu merupakan perisitwa kultural yang mungkin terbesar dalam 30 tahun terakhir. Kalau dilihat dari fenomenanya sih nggak ada yang aneh dari tersebarnya rekaman video [sensor] yang saat ini sangat mudah ditemukan di dunia maya. Yang luar biasa adalah efek budayanya yang boleh dibilang REVOLUSIONAL.
Kenapa revolusional?
Ingatkah siapa pemenang Indonesia Kids Choice Awards untuk Artist Wanita Favorit 2009, jawabannya adalah LUNA MAYA. Dan siapakah Band Favorit Kids Choice Awards 2009, jawabannya adalah PeterPan yang mana si ARIEL adalah vokalis utamanya.

Amazing, Isn’t it?????

Dua orang idola anak-anak Indonesia, yang menembus batas-batas jangkauan penggemar, (seorang temanku bilang ini disebut ledakan semua umur), saat ini tertangkap basah oleh kecerobohan mereka sendiri, membeberkan kepada masyarakat luas bahwa mereka bersenggama dengan suka cita, dan saling cinta (kalee), di atas segala-galanya. Ini adalah revolusi atau perubahan nilai yang sangat cepat yang sedang dan telah terjadi dengan sangat masif di Indonesia. Hal itu diperburuk dengan tampilnya seri video kedua, dengan aktor pria yang sama dengan lawan senggama yang berbeda. Sialnya lawan senggama yang kedua adalah pembawa acara gossip yang hampir tiap hari muncul di layar TV yang pemirsanya tentu saja adalah semua umur.

Persenggamaan yang kedua dalam film itu juga dilakukan dengan sangat suka cita dan dengan ekspresi yang benar-benar have fun, they show people that they do the copulate things with such excitement in such a very exciting expression, lepas bebas tanpa beban dan ceria.

Apa maknanya?

Maknanya adalah … ini Indonesia Bung, Indonesia yang sekarang, Indonesia yang telah jauh berkembang secara budaya. Temanku yang berbakat filsuf bilang bahwa ini tanda-tanda jaman tentang bergesernya pandangan terhadap nilai-nilaiu seksualitas.

Ungkapan itu mungkin masih sangat halus.

Be Frankly, in Indonesian Youth, Sexual Revolution yet EXISTED !!!

Terlalu berlebihan kah jika mengambil satu fenomena kecil untuk menggambarkan secara umum apa yang terjadi dalam masyarakat luas. Barangkali mungkin berlebihan. Tetapi ingatkah bahwa saat ini, keberadaan jejaring sosial dunia maya via ponsel dan peralatan genggam lainnya sudah sangat masif sampai pelosok-pelosok desa terpencil.

Bisa dibayangkan tidak bahwa anak-anak yang sangat mengidolakan bintang mereka ternyata mendapati bahwa idola mereka adalah mahluk dewasa yang “memang begitulah adanya”.  ADULT PEOPLE COMITTED ADULTERY. Pilihan budaya yang ada sangat ini menjadi tidak lagi gampang. Pilihan pembelajaran orang dewasa kepada anak saat ini jelas-jelas JELIMET. Mungkin sudah saat nya bahwa pada saat sekarang banyak hal JELIMET yang memang harus bisa diajarkan pada generasi yang lebih muda dengan cara yang lebih komplit.

Nilai-nilai seperti apa yang akan diajarkan menghadapi resiko perubahan budaya yang tentu saja membawa ekses dan efek yang dalam beberapa hal berbahaya bagi ketenteraman bermasyarakat. Masih ingatkah tentang cerita pejabat pemerintah daerah yang tertangkap basah bersenggama dengan pejabat lainnya, yang sampai sekarang masih aman menjabat sebagai pemimpin daerah.

Tulisan ini ingin menegaskan bahwa fenomena ADULT COMITTED ADULTERY adalah biasa dan wajar tetapi ledakan semua umur yang muncul dari fenomena tragedi idola adalah ruang baru yang harus dihadapi dengan pembelajaran yang berbeda dengan pemahaman nilai-nilai yang berbeda pula.

Long Live Indonesian Future.  I Love Being Indonesian, Even The Future Looks COMPLICATED.

Demikianlah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s