Arloji untuk Ritual Rambut Gimbal


KABUT tipis mulai menyelimuti Dusun Tedang Desa Batursari, Kecamatan Kledung di lereng Gunung Sumbing, Kabupaten Temanggung, Jumat (18/6).  Dina Lestari (7) duduk di bangku di atas panggung kecil yang dibuat orang tuanya di depan rumah. Matanya berbinar. Ia telah mendapatkan jam tangan permintaannya sebelum menjalani prosesi potong rambut gimbal. Puluhan anak-anak seusianya, duduk di sekeliling siswi kelas 1 SDN Batursari itu. Wajah mereka ceria. Tidak henti-hentinya tawa terdengar. Di depan mereka terdapat bermacam sesaji, antara lain lauk pauk, buah-buahan, jajan pasar, nasi tumpeng, bubur, beberapa jenis minuman, ayam betina beserta anaknya.

Tepat pukul 15.00, anak pasangan Rahadi dan Istriyah itu menjalani ruwatan potong rambut gimbal. Prosesi upacara dimulai dengan diarak keliling kampung bersama kedua orang tuanya dan neneknya dengan diiringi para penari dan musik bangilun. Bangilun adalah ciri khas kesenian masyarakat di daerah Kledung.
Bagitu sampai di tempat upacara, Dina Lestari duduk di atas kursi yang telah tersedia, untuk menjalani pemotongan rambut.  Pemotongan dilakukan Ahmad Sahidin, pemuka agama setempat, diiringi tembang ”kinanthi” dengan musik bangilun, terdiri rebana, terbang, dan kendang.
Bersamaan dengan pembacaan doa, belasan penari bangilun berjalan berputar mengelilingi anak tersebut sambil menari. Setelah itu, sejumlah sesaji yang ada dibagikan kepada anak-anak yang menonton ritual tersebut.
Istriyah mengatakan, anaknya mulai tumbuh rambut gimbal pada usia dua tahun. Menjelang tumbuh rambut gimbal tersebut anaknya sering sakit-sakitan.
”Sesuai kepercayaan masyarakat, menjelang pemotongan rambut harus menuruti permintaan anak tersebut. Permintaannya diantaranya jam tangan, telur, ‘buntil’, ayam, dan baju baru. Alhamdulillah semua bisa kami wujudkan, mudah-mudahan setelah dipotong rambut bisa tumbuh normal,” katanya.
Ahmad Sahidin mengatakan, di kawasan Sumbing-Sindoro sering terdapat anak tumbuh rambut gimbal. Biasanya dilakukan ritual pemotongan sebelum memasuki usia 13 tahun.

Bagi masyarakat di lereng Gunung Sumbing dan Sindoro mempunyai kepercayaan bahwa anak yang memiliki rambut gimbel dianggap membawa musibah atau masalah dikemudian hari, dengan melakukan upacara pemotongan diharapkan mendatangkan kebaikan. Selain itu, ritual pemotongan rambut gimbal bertujuan agar anak bisa hidup dengan rambut yang normal.

(dari KR 19 Juni 2o1o, halaman 1 oleh Zaini Arrosyid)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s