Gangster dan Sepakbola


Tulisan ini saya ambil dari Koran Tempo, Kamis 8 Juli 2010, halaman B2 Kolom. Artikel karya Yos Rizal Suriaji [wartawan Tempo] ini dapat memberi gambaran tentang pemakmanaan suatu tindakan oleh pelakunya, yang menurut Weber memang bersifat subjektif (subjective meaning of action). Sebuah peristiwa dalam sepakbola, misalnya “goal”, sebenarnya peristiwanya berlangsung sangat sederhana, yakni ketika bola masuk ke gawang, entah itu gawang sendiri atau gawang lawan. Dan, peristiwa yang sederhana ini ternyata dapat menimbulkan dampak yang sangat menghebohkan. Bisa saja seorang wasit dimaki-maki orang karena menganulir sebuah goal,atau bahkan dianiaya atau diancam untuk dibunuh. Baca tulisan ini selengkapnya.

Apa yang terlintas dalam pikiran seorang pemain sepak bola ketika mencetak gol bunuh diri? Terpukul dan malukah dia? Didera ketakut-ankah ia? Lalu apa yang hendak ia katakan kepada sepuluh kawannya di lapangan, juga kepada negaranya?

Gelandang Brasil, Felipe Melo, yang menyundul bola ke gawang sendiri, hanya bisa berdiri kaku di hadapan rekan-rekannya di ruang ganti setelah Brasil kalah 1-2 oleh Belanda di perempat final Piala Dunia. USA Today melaporkan, Melo berdiri dengan gamang beberapa saat Hanya ucapan pendek yang kemudian ia sampaikan, “Maaf”, sebelum bergegas keluar. “Hati saya hancur menyaksikan teman-teman menangis,” ujar Melo.

Melo, yang dipuji Johan Cruyff, temya-ta tak cukup mendapat pembelaan dari Kaka dan kawan-kawan. Tak seperti bek Ricardo Osorio, yang mendapat pembelaan penuh seluruh pemain dan pelatih Meksiko ketika ia salah mengoper bola kepada penyerang Argentina, Gonzalo Higuain, yang seketika menjebol gawang mereka dengan mudah.Striker Ronaldo, yangmengantar Brasil jadi juara dunia pada 1994 dan 2002, bahkan meminta Melo tak pulang kampung. “Akan lebih baik jika dia tak kembali ke Brasil,” katanya. Ronaldo mungkin paham Melo tak hanya akan berhadapan dengan rakyat Brasil, yang siap mengecamnya habis-habisan, tapi juga berhadapan dengan sekelompok kekuatan bersenjata yang mungkin tengah menunggunya untuk melampiaskan kemarahan.

Cerita tragis soal ini bukannya tak ada. Bek Kolombia, Andres Escobar, 25 tahun,tewas oleh berondongan peluru hanya sepuluh hari setelah Piala Dunia 1994 berakhir.Escobar, yang mencetak gol bunuh diri, sebenarnya telah meminta maaf melalui televisi. Ia juga menangis dan mengungkapkan tak akan pernah memaafkan kakinya sendiri. Tapi, di mata fan Kolombia, itu belum cukup. Salah seorang anggota kartel narkoba yang kalah taruhan marah dan menembakkan 12 peluru ke tubuh Escobar sembari berteriak,”Gooool….”

Dalam sepak bola modem, ancaman gangster memang kian nyata dan mencemaskan. Mesin kekerasan mereka bekerja ketika perhelatan akbar, seperti Piala Dunia, Piala Eropa, atau Piala Libertadores, bergulir. Mereka bertaruh dalam jumlah yang tak terkira di meja-meja judi. Sebagai gambaran, di Cina saja, uang sebesar 500 miliar yuan (US$ 73 miliar) habis dalam judi online selama Praia Dunia 2006. Jumlah tersebut sebanding dengan 2 persen dari produk domestik bruto Cina. Tahun ini jumlahnya diperkirakan meningkat dua kah lipat.

Maka, tak mengagetkan jika kalangan mafia yang terjun dalam bisnis taruhan ini memilih menebar ancaman hingga ke sudut-sudut lapangan. Seorang Direktur Ffederasi Sepak Bola Brasil (CBF), misal-nya, pernah bergidik mendengar ancaman kelompok mafia di Brasil akan mencekik ibu Robinho hingga tewas jika klub Santos tak menjuarai Liga Brasil saat itu. Pada akhir 2005, ibu Robinho memang diculik. Sang ibu dibebaskan setelah Robinho bermain kesetanan dan membawa Santos jadi juara liga.

Pengalaman pemain Honduras, Wilson Roberto Palacios Suazo, lebih pahit. Adiknya, Edwin Rene Palacios, diculik dan di-habisi oleh geng Maras tahun lalu setelah Wilson menolak memberikan uang tebusan Rp 1,6 miliar. Geng anak muda ini rupanya hendak memeras Wilson, yang baru bergabung ke Tottenham Hotspur.Cerita mengejutkan yang juga baru terungkap adalah tentang misteri Johan Cruyff menolak bermain untuk tim nasional Belanda pada Piala Dunia 1978 ketika ia justru masih berada dalam masa keemasan. Selama 20 tahun, pertanyaan ini menggantung dan menimbulkan berbagai spekulasi.

Legenda sepak bola Belanda itu membuat pengakuan dua tahun lalu “Kepala saya ditodong senjata, saya diikat, istri saya diikat, anak-anak diancam ketika kami tinggal di sebuah apartemen di Barcelona setahun sebelum Piala Dunia di Argentina.” Ia tak menyebutkan siapa yang mengancam. Tapi itu sudah cukup membuatnya meninggalkan sepak bola, yang begitu ia cintai dan bertabur puji, serta memilih mengobati trauma istri dan anaknya.Kita tak tahu pikiran apa yang berkecamuk di kepala Cruyff saat itu. Mungkin ia, dalam sebab yang berbeda dengan Me-lo, juga terpukul, berdiri kaku, gamang, dan hancur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s