Tetangga itu semakin berani kepada kita! Mengapa?


Di tengah-tengah menunggu apa kata/reaksi pak SBY atas pernyataan PM Najib yang memperingatkan Indonesia dengan kata-kata yang kira-kira bermakna “Hati-hati Indonesia, ada 2 juta lebih warga negaramu yang mencari nafkah di negeri saya“,  tak habis pikir mengapa negeri tetangga ini semakin berani melecehkan kita, sebuah negeri dengan lebih dari 200 juta penduduk, lebih dari 13 ribu pulau, dan beribu-ribu prajurit yang siap menjaga wilayah di darat, laut, maupun udara ini.  Tulisan dari Chusnan Maghribi di KR 31 Agutus 2010 ini mungkin dapat memberikan jawaban, mengapa tetangga itu smakin berani melecehkan kita.

Statement pemimpin Malaysia bervariasi. Mantan PM Mahathir Mohamad bilang: “Indonesia tetap sahabat”. PM Najib minta Pemerintah Indonesia menghentikan demonstran anti Malaysia. Namun memanasnya hubungan Indonesia-Malaysia saat ini tak menutup kemungkinan bisa bertambah panas menyusul statemen Menteri Luar Negeri Datuk Seri Anifah Aman yang mengatakan bahwa rakyat Malaysia sudah habis kesabaran menanggapi rangkaian aksi demo di Indonesia yang memprotes penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau oleh Polisi Laut Diraja Malaysia di wilayah perairan sebelah utara Pulau Bintan (13/8) dan ancaman hukuman mati 355 TKI yang dianggap bersalah (karena melakukan kejahatan seperti pembunuhan, perkosaan, dan kasus narkoba) oleh Mahkamah Tinggi Malaysia.
Statemen tersebut secara implisit mengungkap perasaan jengkel, di samping memperlihatkan  kepercayaan dan keberanian diri Malaysia yang kuat dalam menghadapi apapun yang hendak dilakukan Indonesia, termasuk kemungkinan perang (konfrontasi militer) sekalipun. Pernyataan Anifah tadi bernada menantang. Ini merupakan pernyataan keras pertama Malaysia usai konfrontasinya dengan Indonesia semasa Orde Lama (Tajuk Kedaulatan Rakyat, 28 Agustus 2010).
Pertanyaannya, mengapa Negeri Ipin-Upin itu makin berani melecehkan kita (Indonesia)? Ada dua hal yang membuat Malaysia kian berani melecehkan kita. Pertama, kesuksesan ekonomi Malaysia. Siapapun tahu, Malaysia tampil menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang sukses pembangunan ekonominya. Di bawah kepemimpinan Mahathir Mohammad (1981-2003) perekonomian negeri yang kini berpenduduk sekitar 25 juta jiwa itu melaju kencang, sehingga negara itu bersama beberapa negara lain Asia pada akhir dasawarsa 1980-an masuk dalam kelompok new industry countries (NICs).
Malaysia juga dikenal berhasil dalam mengatasi badai krisis moneter 1997-1998 yang sempat meluluh-lantakkan perekonomian beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Tanpa merengek bantuan IMF (International Monetary Fund) maupun World Bank, perekonomian negeri jiran itu bisa cepat dipulihkan sehingga keberadaannya kembali diperhitungkan oleh banyak negara luar.
Pun, Malaysia juga mampu cepat mengatasi dampak krisis finansial global tahun 2008 lalu. Krisis keuangan global yang memorak-porandakan perekonomian negara maju itu hanya berdampak sedikit bagi perekonomian Malaysia. Pertumbuhan ekonomi Malaysia melambat, namun tidak sampai terjadi kontraksi.
Dan, berdasarkan hasil riset FED (Forum Ekonomi Dunia) belum lama ini, yang laporannya bertajuk Daya Saing Global 2009-2010, Malaysia bertengger di urutan 24. Sedangkan Indonesia di posisi 54.
Dengan fakta seperti itu Malaysia tetap mempunyai magnet tersendiri bagi banyak TKI untuk mengadu nasib di sana. Terbukti, sekitar lima juta warga negara Indonesia yang bekerja sebagai buruh migran saat ini 60 persen di antaranya berada di Malaysia. TKI di Malaysia menghasilkan devisa Rp 50 triliun per tahun.
Kedua, diplomasi lemah pemerintah Indonesia. Diplomasi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terutama dalam merespons dua kasus yang memicu ketegangan Indonesia-Malaysia sekarang ini sangatlah lemah/lembek. Diplomasi Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa bersama segenap jajarannya berjalan asal jalan saja. Di samping lamban dan dangkal dalam merespons masalah (kasus), juga pernyataan diplomatiknya datar-datar saja, tak muncul pernyataan resmi yang tegas, garang dan galak. Ketika tahu muncul masalah krusial yang menyinggung harga diri bangsa, responsnya hanya sebatas melayangkan nota protes, tak kurang tak lebih. Di tingkat yang lebih tinggi, Presiden SBY hanya mengirim surat kepada Perdana Menteri Najib Tun Rajak untuk menyejukkan kembali hubungan bilateral.
Kalau praktik diplomasi pemerintah ke luar lemah seperti itu, bagaimana negara luar mau menghargai dan menghormati kita?  Tentulah, yang terjadi cuma pelecehan terus-menerus mereka terhadap kita yang dipandang inferior.
Mungkin saja praktik diplomasi pemerintahan SBY yang lemah ini akibat dari prinsip ëzero enemy millions friendsí yang kerap diucapkan Presiden SBY di berbagai forum internasional. Tapi, apakah dengan prinsip itu berarti kita harus mengalah demi menghindari permusuhan walau muncul masalah krusial yang jelas menyinggung harga diri bangsa? Sangatlah konyol jika jawabnya ya.
Karenanya, kita mesti berbenah demi diakhirinya pelecehan Malaysia terhadap kita ini. Untuk itu, tak ada pilihan lain bagi Indonesia ke depan kecuali harus menyukseskan pembangunan sosial ekonomi masyarakat serta mengubah style diplomacy  pemerintah. Diplomasi pemerintah yang selama ini cenderung lamban, tidak tegas dan tidak keras terhadap Malaysia harus diubah menjadi diplomasi yang gesit (responsif), cerdas, tegas dan keras dalam menangani setiap persoalan yang muncul. Tanpa itu, Malaysia bisa terus melecehkan kita. q – o. (1529 A – 2010).

*) Chusnan Maghribi,
alumnus FISIP UMY, peneliti pada CIIS
(Central of International Issues Studies) di Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s