“Dimana Bumi Berpijak, (Haruskah) Di situ Langit Dijunjung”


Ini tulisan Uma Hapsari, IPS Padmanaba 64 yang sekarang ada di Sydney.  Saya merasa perlu mengkopi paste tulisan Uma ini di blog pembelajaran sosiologi saya, sebagai bahan pendalaman untuk  kajian tentang multikulturalisme yang diajarkan di kelas XI SMA melalaui pelajaran Sosiologi yang saya ampu. Tulisan ini sedikit banyak memberikan satu gambaran tentang penyikapan dan pemaknaan nilai atau keyakinan di tengah-tengah pluralitas budaya. “Ternyata tidak semua orang seperti kita dalam menyikapi dan memaknai suatu peristiwa”.   Tulisan Uma selengkapnya sebagai berikut sebagaimana yang ia tag di dinding Facebook saya.  

“Dimana Bumi Berpijak, Disitu Langit Dijunjung” adalah sebuah terjemahan harafiah berbahasa Indonesia dari sebuah artikel yang saya tulis untuk majalah kampus.

Dikejar deadline untuk International Student Column yang saya tulis secara reguler per tiga minggu..

Minggu, 22 Agustus 2010 malam, saya curi satu bagian kecil dari ratusan tulisan di laptop saya, yang disimpan rapi tanpa manfaat…

Senin, 6 September 2010, artikel naik cetak, dan akan dipublikasikan dalam minggu yang sama…

Tulisan setengah halaman A4 dibawah ini, adalah refleksi kecil dalam proses besar pembelajaran saya dalam menulis, dalam bersikap kritis, dalam mencoba, dalam bermimpi. Saya yang telah kehilangan esensi mudah, berani, dan bebas dalam menulis, dengan malu-malu mencoba lagi berbagi cerita dalam notes facebook.

Dimana Bumi Berpijak, Disitu Langit Dijunjung.

Berpijak di Australia, apakah berarti pula menjunjung langit Australia? Well, ya dan tidak.

Agustus hingga September adalah bulannya Ramadhan, bulan diantara tahun dimana semua Muslim harus (atau seharusnya) berpuasa sedari terbitnya surya, hingga tenggelam kembali. Ringkasnya, Ramadhan adalah tentang membelenggu dirinya sendiri terhadap makan dan minum, aktivitas seksual, dan lebih jauhnya adalah pembelajaran tentang control terhadap pikiran dan emosi negatif.

Sebelas Agustus 2010  adalah Ramadhan perdana saya yang jauh dari Ibu Pertiwi. Disana, berpuasa bukanlah sekadar tentang tidak makan. Disana, di negara dengan kurang lebih 203 juta Muslim, berpuasa adalah sebuah kisah tentang spiritual dan momentum.

Tahun lalu, sebelum sinar matahari datang, sebelum mulainya berpuasa, jam 3.30 dini, Ibu membangunkan sahur… Makanan tersedia sudah di meja makan, siap disantap enam orang rumah. Dalam waktu yang bersamaan, ada suara-suara stereo, sebuahwake up call, mendentum membangunkan desa yang sedang bermimpi. Tetapi sekarang, di Sydney, tidak ada apa pun kecuali alarm kecil saya yang mengingatkan, tidak pula seseorang untuk berbagi sahur.

Masa di bulan Ramadhan ini, di kota secantik Sydney, nampaknya tidak ada yang berbeda. Orang-orang masih berlalu dengan satu cup cappuccino; food-court masih sibuk, bahkan tidak bisa terlihat lebih sibuk lagi; TV shows masih sama; jadwal kuliah pun masih kaku tanpa penyesuaian. Adalah sebuah kontras bagi Indonesia, dimana bahkan McDonald membentangkan korden menutupi jendela-jendela kacanya; acara TV menyuguhkan jauh lebih banyak tema-tema religius; dan larangan masif secara legal hukum terhadap website-website berkonten pornografi.

Dengan berakhirnya Ramadhan pada 10 September, Idul fitri akan menyambut.. Menyambut sebuah hari (yang seharusnya menjadi) kemenangan. Hari ini adalah sederajat dengan Natal bagi Kristiani, Nyepi bagi Hindu atau pula Waisak nya kaum para pengikut Budha. Saya masih ingat Natal lalu, Sydney menyambut perayaannya dengan obral besar-besaran, dekorasi merah-putih-ijo pada gedung-gedung, dan bahkan beberapa teman membungkus hadiah natalnya untuk saya. Tetapi nampaknya, Sydney tidak menanggapi Idul Fitri se penting itu.

Saya menelusuri schedule, terus hingga sepuluh September, “working 12-5″. Dengan tanpa libur umum, kiranya hari besar saya tidak akan nampak besar, after all. Cukup adil mengingat Muslim sebagai minoritas. Tetapi bagaimanapun juga, adalah sebuah panggilan pribadi untuk menentukan sendiri, sebesar apa saya akan membuat hari besar ini. Mungkin, saya akan bergabung pada komunitas Muslim di Puncbowl, paginya. Mungkin, setelah itu saya bisa habiskan siang saya, bekerja.*

Secarik kesetiaan dalam berpuasa adalah satu bagian dari saya. Ketika Anda tinggal di kota multikultur seperti Sydney dimana kultur bukanlah hitam atau putih dan nampak lebih abu-abu, apa yang selalu bisa diandalkan adalah tradisi yang secara personal dan selama ini Anda yakini. Koreksi jika saya salah.

Dan pada akhirnya, tidak harus menjunjung langit Australia meskipun memijak bumi Australia. Kemudian, saya lempar kritik sederhana pada peribahasa, “dimana bumi berpijak, disitu langit dijunjung”. Honey, it’s your call!

by Uma Hapsari

*5 September 2010, saya melenggok, menelepon banyak partner kerja untuk menggantikan shift kerja saya. hasilnya, hari besar Idul Fitri akan saya habiskan penuh untuk mengobati kelaparan saya terhadap atmosfer lebaran di rumah, memuaskan iri hati saya terhadap orang-orang yang dikelilingi keluarganya, memanjakan keinginan saya untuk kembali pada satu tahun lalu.

2 thoughts on ““Dimana Bumi Berpijak, (Haruskah) Di situ Langit Dijunjung”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s