Tentang Kehidupan Beragama


Pada suatu kesempatan, kalau tidak salah Senin, 23 Agustus 2010, seorang siswa saya bertanya tentang atheisme. Konteksnya adalah pembicaraan tentang diferensiasi sosial berdasarkan kriteria agama. Saya menyatakan bahwa, berdasarkan agama maka adalah kelompok-kelompok agama yang pada umumnya disebut umat, maka adalah umat Islam, Umat Kristen Katholik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, dan lainnya seperti misalnya Khong Hu Chu.

“Pak, maaf, bagaimana dengan orang-orang yang atheis itu, atau tak beragama … masuk kelompok atau umat apa? [sambil ia menambahkan, “kita bicarakan, mumpung di sini ada sumbernya, pak!” Sambil ia menunjuk dengan isyarat seorang siswa pertukaran pelajar …] Tercengang sejenak saya oleh pertanyaan itu.

Dalam pikiran saya, apa mungkin seseorang itu atheis, dalam arti tak mengakui adanya Tuhan atau yang [menurut pemikirannya]  equivalent dengan-Nya …  Buku-buku pengantar antropologi yang pernah saya baca menyatakan bahwa salah satu unsur kebudayaan universal –artinya dijumpai pada setiap masyarakat– adalah sistem religi, agama atau sistem keyakinan. Berdasarkan ini, berarti dalam setiap masyarakat dijumpai sistem keyakinan. Maka, mungkinkah seseorang itu atheis?  Kemudian saya teringat apa yang pernah ditulis oleh Nurcholish Madjid, tapi saya lupa itu di buku atau artikel apa, bahwa “yang ada itu atheisme formal, dalam arti orang tidak mengakui atau tidak menganut agama tertentu”. Itulah jawaban yang akhirnya meluncur dari mulut saya kepada seorang  anak murid saya. “Kejawen itu pun suatu sistem keyakinan dan praktik yang berhubungan dengan sesuatu yang dianggap sakral dan menyatukan para pengikutnya ke dalam suatu komunitas moral … yang oleh Emmile Durkheim disebut umat (church).

Agar pernyataan saya tidak membingungkan para murid saya, berikut saya kutipkan artikel yang ditulis oleh Nurcholish Madjid dengan judul Religion Eauivalent.

Manusia pada dasarnya haus dan merindukan agama, sehingga jika tidak tersalurkan pada agama yang benar, dia akan menganut agama apa saja. Analoginya adalah dengan orang yang lapar; kalau tidak bisa mendapatkan makanan yang tepat, orang bisa makan apa saja yang kadang malah membahayakan. Agama yang salah itu misalnya komunisme. Komuunisme sebenarnya merupakan padanan agama (religion equivalent) yang mencekam, karena adanya keyakinan bahwa para pemimpin tidak bisa salah yang pada gilirannya dapat menyebabkan praktik penyembahan kepada mereka. Di sini diperingatkan bahwa beriman tidak boleh secara sembarangan.

Terdapat sedikit salah paham di kalangan orang Islam di Indonesia bahwa kalau orang sudah menyebut Allah, dikatakan pasti Islam. Padahal sebelum Islam pun telah digunakan kata Allah, seperti diucapkan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen Arab. Allah dalam Al-Quran adalah Allah yang didefi¬nisikan dalam surat Al-Ikhlâs, Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa (Q., 112: 1). Oleh karena itu kita harus waspada terhadap “agama palsu” tanpa harus menghina agama lain.

Menurut rumusan Rudolf Otto, secara antropologi, yang disebut Tuhan harus memenuhi tiga syarat, yaitu Mysterium (misterius), Tremendum (hebat sekali) dan Fascinant (selalu menimbulkan pertanyaan; [red: dalam keterangan lain dinyatakan bahwa fascinant mengandung arti pesona, jadi tuhan itu mempesona]).  Banyak sekali hal misterius dan hebat yang kemudian disembah sebagai Tuhan, dan Tuhan ini akan mati setelah sifat misterius dan hebatnya hilang. Karena itu kalimat persaksian dalam Islam dimulai dengan negasi “tidak ada Tuhan” baru dilanjutkan “kecuali Allah”.

Berdasarkan pemikiran demikian, ungkapan “God is Death” yang diprakarsai Nietczhe adalah betul adanya, meskipun hanya separo (“tidak ada Tuhan”). Sebab semua Tuhan yang bersifat mitologis pasti suatu saat akan hancur meskipun masa responnya (times of reponse) terkadang panjang sekali, seperti Mesir yang menuhankan sungai Nil sampai tiga ribu tahun lebih. Anehnya, walaupun Mesir telah menjadi Kristen, sisa perayaan tahunan mencemplung-kan gadis ke sungai Nil masih berlangsung hingga Islam datang. Upacara itu sendiri dimaksudkan untuk mendatangkan banjir sungai Nil yang bisa membawa sedimen-sedimen aluvial yang sangat subur.

Adalah Amr Ibn Ash sebagai gubernur Mesir, pada tahun pertama berkuasa dia berkirim surat kepada Umar di Madinah. “Sebentar lagi orang Mesir akan mengadakan perayaan besar-besaran dan acara yang terpenting adalah mencemplungkan gadis sebagai sesajen kepada Dewa sungai Nil. Apa yang harus saya lakukan, sebab jika saya larang begitu saja, itu berarti akan berhadapan dengan kekuatan yang luar biasa”. Pada waktu itu umat Islam masih sedikit sekali, hanya sebagai suatu lapisan kecil dari pemerintah di Mesir.

“Saya mengerti yang kamu hadapi, Amr Ibn Ash. Sekarang begini saja, saya akan kirim surat ke Sungai Nil. Bacakan itu di depan umum lalu cemplungkan ke sungai Nil di depan orang banyak sebagai ganti gadis itu”, balas Umar.

Bunyi surat Umar kepada sungai Nil, “Hai sungai Nil, kalau kamu banjir karena korban gadis yang dicemplungkan kepada kamu, tahun ini tidak ada gadis itu, maka kamu tidak usah banjir. Tetapi kalau kamu banjir karena kehendak Tuhan, banjirlah”. Setelah dibaca langsung oleh Amr Ibn Ash, surat itu kemudian dicemplungkan ke sungai Nil. Dan tidak lama setelah itu banjir datang juga seperti biasanya. Sejak itu tidak ada lagi upacara mencemplungkan gadis.

Ini merupakan contoh padanan agama (religion equivalent), padanan Tuhan (God Equivalent) dan sebagainya. Maka ketika membaca lâ ilâha illallâh harus dipahami betul. Lâ ilâha adalah peniadaan mutlak, membebaskan diri dari setiap kepercayaan, karena pada dasarnya kepercayaan itu membelenggu dan menguasai. Tetapi hidup tanpa kepercayaan tidak mungkin, sebab bagai¬manapun juga manusia perlu percaya, seolah dalam diri kita ada suatu ruang untuk kepercayaan yang tidak boleh vakum. Kalau vakum, ia akan terisi oleh yang lain; kita akan percaya kepada apa saja. Maka, lâ ilâha, atau God is Death, tidaklah cukup, sebab akan membuat orang bingung. Sehingga, harus illallâh, kecuali Allah Yang Maha Esa, yang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan apa pun, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak diperanakkan referensinya adalah kepada mitologi, karena hampir semua bangsa mempunyai mitologi menyangkut konsep tentang Tuhan yang mempunyai anak. Seperti konsep Dewaraj, raja sebagai keturunan Dewa, yang umumnya dianut bangsa Arya. Sampai-sampai di Indonesia yang telah Islam pun rajanya bergelar Hamengku¬buwono, Mangkubumi, Alamsyah, dan sebagainya.

Sumber:

Ensiklopedi Nurcholish Madjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s