Mencoba Memahami Sikap Mbah Maridjan


Mbah Maridjan telah wafat dalam “tugas”, dan dalam keadaan shalat/sujud. Tak mudah memahami apa tugas “resmi” Mbah Maridjan. Kita hanya tahu bahwa dia “menjabat” sebagai kuncen (juru kunci) Gunung Merapi. Sebentuk jabatan yang tidak ada dalam nomenklatur pemerintahan daerah, apalagi dalam jajaran institusi kenegaraan. “Tugas mbah Maridjan sebagai guru kunci, itu melaksanakan tradisi-tradisi kraton yang dilaksanakan di Merapi, bukan menunggu merapi”, demikian menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang oleh Mbah Maridjan lebih dianggap sebagai Gubernur DIY daripada sebagai Sultan Kraton Yogyakarta,  menyatakan kepada beberapa media.

Jabatan juru kunci bukanlah jabatan formal, bukan pula kedudukan terhormat dalam protokoler pemerintahan. Di zaman teknologi ini, orang pastilah bertanya-tanya, entah apa yang dilakukan Mbah Maridjan sehari-hari dalam “memonitor” Gunung Merapi? Mbah Maridjan memang tak mau jauh dari Gunung Merapi. Dia keukeuh, meski Gunung Merapi memuntahkan lava pijar dan awan panas yang membahayakan manusia, tetap tak mau mengungsi dan memilih jalan konyol di penghujung hidupnya.  ‎”Saya tidak mengungsi bukan karena ngeyel sama pemerintah. Ini adalah soal janji saya dengan Sri Sultan HB IX yang telah mempercayakan kepada saya untuk menjaga Merapi, apapun kondisinya…”

Bahkan ketika yang membujuk Sri Sultan Hamengko Buwono X, mbah Maridjan tidak bergeming dari sikapnya. “Saya anggap yang memerintah ini bukan Sultan, melainkan Gubernur DIY”, demikian pernyataan Mbah Maridjan di depan wartawan.

Barangkali, sikapnya yang terkesan mbalelo itu, semata-mata sebagai wujud tanggung jawabnya terhadap tugas yang diamanatkan kepadanya. Selayaknya dalam film The Last Samurai yang menceritakan salah seorang menteri kaisar Jepang, Katsumoto, yang menolak modernisasi secara drastis di Jepang. Ia berpegang pada kode-kode lama, kode yang yang sulit “dipahami” sebagian orang. Kesetiaannya pada kekaisaran Jepang tak mudah “dipahami” oleh sebagian besar orang sezamannya.

Perlawanan orang-orang kalah-menyitir James T Scott-selalu lahir dari kebutuhannya untuk hidup. Pada saat tindakan itu dilakukan, orang tidak sungguh-sungguh menganggapnya sebagai sebuah perlawanan karena yang terlihat seperti sebuah pemenuhan kepentingan diri sendiri. Namun, begitulah cara kaum marginal melawan dan membangkang. Dengan melihat klaim apa yang hendak disampaikan di balik tindakannya, samar-samar dapat dilihat bahwa mereka ingin menentukan pilihan dan menyuarakan pendapatnya dalam berhadapan dengan apa yang mereka yakini sebagai sesuatu yang harus dilawan.

Kultur Mataram
Salah satu keraton yang paling menonjol perannya dalam melakukan Islamisasi kebudayaan Jawa atau Jawanisasi Islam adalah Keraton Yogyakarta. Keraton Yogyakarta menjadi salah satu sistem simbol identitas masyarakat Jawa pada umumnya dan masyarakat Yogyakarta pada khususnya, yang meliputi cara penghadiran diri atau representasi, pemaknaan dan penghayatan hidup, serta cara pandang hidup dan nuansa kehidupan batin. Muaranya pada perpaduan antara Islam dan budaya Jawa (Siti Chamamah Soeratno, 2001).

Berbeda dengan negara-negara yang mengalami indianisasi, menurut Mark R Woodward (1999), Keraton Yogyakarta dalam paham kosmologinya menempatkan kasekten pada posisi subordinat dengan wahyu dan kewalian. Keraton Yogyakarta sendiri adalah model kosmik, tetapi kosmos yang dia wakili adalah Islami.

Sejarah membuktikan bahwa kepiawaian para cendekiawan Jawa dalam mempertahankan tradisi Jawa dan menyesuaikannya dengan Islam telah membangkitkan semangat keberagaman masyarakat Jawa. Unsur-unsur Islam, terutama mistik (tasawuf), mengalami pengolahan Jawa. Ajaran Islam dipadukan dengan tradisi dan budaya Jawa hingga terjadi proses Islamisasi budaya Jawa.

Pengolahan Jawa atas ajaran mistik Islam melahirkan adanya bentuk kepercayaan baru bagi masyarakat Jawa, yang dikenal dengan kebatinan. Kebatinan adalah kebudayaan spiritual dari keraton Jawa yang berasal dari zaman yang sudah sangat tua dan telah mengalami perkembangan yang sangat unik.

Begitulah Mbah Maridjan, sosok Muslim yang taat sekaligus tetap setia melaksanakan ritual kejawen. Bagi Muslim puritan, pastilah apa yang dilakukan Mbah Maridjan akan dituding sebagai kepercayaan takhayul dan bid’ah. Akan tetapi, inilah Islam yang hadir tidak di ruang hampa. Islam akan selalu berhadapan dengan budaya lokal. Justru di sinilah letak kerahmatan Islam sebagai agama yang senantiasa selaras dalam setiap kondisi dan tempat (shalih li kulli zaman wa makan).

Memaknai Merapi
Fariduddin Attar, penyair dan sufi terbesar dari Persia dalam bukunya Mantiq al-Thair menuturkan kerinduan sekelompok burung terhadap raja mereka. Maka, mereka pun sepakat menunjuk Hud-hud, burung yang bijak, sebagai pemimpin. Hud-hud memberi tahu, yang mereka cari itu burung Simurgh yang hidup tersembunyi di Gunung Kaf, tempat yang jauh dan berbahaya.

Untuk mencapai gunung itu, mereka harus menempuh lima lembah dan dua gurun sahara. Korban pun berjatuhan. Ada yang mati karena udara sangat panas, ada yang tenggelam di laut, ada yang kelelahan, dan ada yang kehausan tak berdaya. Dan, ada pula yang tersesat. Sisanya tetap meneruskan perjalanan hingga tiba di Gunung Kaf yang mereka impikan. Di dalam gunung itu, burung-burung itu keheranan karena mereka memasuki ruang hampa, luas tak terbatas. Dalam termangu mereka saling memandang. Di mana baginda raja yang mereka rindukan? Terjadilah ketiadaan. Tapi, bukan kehampaan.

Ketiadaan ini justru wujud eksistensi. Dalam kosmologi Jawa, ini sepantar dengan makna ungkapan “suwung ning isi“, kosong tapi isi. Gunung selalu menjadi simbolisasi bagi “dunia batin”. Keperkasaan fisik gunung dan kemisteriusannya menjadi daya pesona bagi jiwa-jiwa yang dahaga spiritual. Sejak lahir sampai akhir hayatnya, Mbah Maridjan bermukim di lereng Merapi. Secara emosional, dia merasa menjadi bagian dari Merapi. Dia percaya, di Gunung Merapi ada penguasa yang disebut “bahureksa”. Setiap kali Gunung Merapi bergejolak, dimaknai sebagai aktivitas para “bahureksa” yang menguasai Gunung Merapi.

Bagi Mbah Maridjan, Gunung Merapi adalah pusarnya jagat di Tanah Jawa. Dia juga percaya, Gunung Merapi adalah gunung yang hidup yang akan senantiasa bertambah dan berubah sehingga jika Gunung Merapi meletus berarti gunung berapi yang paling aktif di dunia itu sedang “berubah” atau “bertambah”. Menghadapi situasi tersebut, dia mengajak siapa saja memohon keselamatan kepada yang Mahakuasa agar terhindar dari bahaya. Dan, permohonan itu ditempuhnya melalui laku tirakat dan doa-doa.

Dalam bahasa bersahaja, Mbah Maridjan menerjemahkan isyarat alam gejolak di Gunung Merapi karena “eyang” yang bersinggasana di Gunung Merapi sedang punya hajat membangun “keraton”. Mbah Maridjan pantang menggunakan istilah “Gunung Merapi meletus”, wedhus gembel, atau istilah lain yang terkesan vulgar. Bagi Mbah Maridjan, di saat “eyang” di Gunung Merapi punya hajat, semua orang di lingkungan Merapi harus sabar, tabah, dan tawakal.

Melalui simbolisasi pembersihan di lereng Gunung Merapi, Mbah Maridjan bermaksud menyarankan kepada semua orang di kawasan Merapi agar membersihkan hati sehingga menjadi suci dan tidak berbuat macam-macam. Dari keyakinan ini pula, Mbah Maridjan marah terhadap tindakan eksploitatif terhadap alam. Dia marah dengan ulah para penambang pasir yang menggunakan mesin serta menyerukan pada mereka untuk bertobat agar tidak merusak alam lingkungan Merapi. Dia wanti-wanti agar “orang-orang yang bisa nulis latin” (orang-orang berpendidikan) dan pengeruk pasir, menghentikan sama sekali kegiatannya memerkosa alam.

Demikianlah, Mbah Maridjan dengan pandangan kultural dan tradisional yang melekat padanya, barangkali akan tampak potret sosok orang Jawa dengan kearifannya. Sebagai juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan lebih banyak melihat fenomena menggunakan naluri yang merujuk pada kebiasaan niteni (mencermati).

Kontroversi

Sebagaimana setiap peristiwa atau tokoh, ada yang pro ada yang kontra. Yang pro menyatakan bahwa mbah Maridjan adalah sosok amanah yang setia mengemban tugasnya. Tapi, bagi yang kontra, mbah Maridjan tak lebih sebagai orang tua yang mati konyol oleh amukan Merapi, karena tak mau tahu oleh peringatan pemegang otoritas tingkat bencana. Bahkan, sebuah komentar yang ditulis oleh seorang relawan Merapi atas  surat putra mbah Maridjan (Asih Maridjan) kepada Presiden SBY berbunyi, “harusnya sebagai anak sampean itu meminta maaf atas kekonyolan bapakmu sehingga menyebabkan kematian para relawan yang lain coba kalo gak bersikukuh danmau turun maka teman2 kami relawan gak akan mati..dan saya gak melihat ada sisi superheronya atas kelakuan bapakmu …”.

Demikianlah, mbah Maridjan memang kontroversial. Di jalanan saya melihat sebuah mobil di bagian belakang bertuliskan “RELAWAN MERAPI PRO MBAH MARIDJAN”.

Rujukan:

  1. Marwan Ja’far, Mbah Marijan Mataran dan Merapi,  dalam Harian Umum Republika (Selasa, 2 November 2010).
  2. http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/10/11/02/144092-anak-mbah-maridjan-surati-sby
  3. Berita-berita di TV Swasta Indonesia tanggal 27 Oktober 2010.

9 thoughts on “Mencoba Memahami Sikap Mbah Maridjan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s