Karier Seorang Sosiolog: Apa Yang Dapat Dilakukan oleh Para Sosiolog?


Pernah dalam sebuah percakapan santai dengan teman-teman di ruang guru, seorang teman bertanya kepada saya, Sosiologi itu sebenarnya mempelajari apa, dan karier apa saja yang dapat ditekuni oleh pembelajar Sosiologi itu. Jawaban yang saya berikan sepertinya sangat tidak memuaskan teman saya itu, bahwa Sosiologi itu sebenarnya ya seperti Fisika, tetapi ini Fisika Sosial.  Seperti di Fisika atau Biologi, Sosiologi menganalisis anatomi atau unsur-unsur pembentuk masyarakat, tetapi tidak hanya itu saja, sosiologi juga mempelajari keterkaitan dan hubungan timbal-balik di antara unsur-unsur sosial itu, karena setiap unsur sosial itu –sebagaimana anatomi tubuh mahluk hidup yang dikaji dalam Biologi– mempunyai fungsinya masing-masing, dan kemungkinannya adalah berjalannya fungsi suatu unsur harus didukung oleh berfungsinya unsur yang lain. Dengan demikian, dengan belajar sosiologi seseorang dapat memahami bagaimana suatu keteraturan sosial dalam sebuah masyarakat  itu bisa  terjadi.  Bahwa, setiap perilaku atau tindakan di an tara para anggota masyarakat itu mengikuti suatu pola dan keajegan tertentu yang dipengaruhi oleh –antara lain– posisinya (kedudukan atau alamatnya) di struktur sosial masyarakat, apakah ia berada di lapis atau kelas atas, kelas bawah, atau di antara keduanya.

Kemudian tentang apa yang dapat dilakukan oleh seorang pembelajar sosiologi, bisa apa saja.  Memang, sebagaimana ditulis oleh James M. Henslin dalam bukunya Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi, sebagian besar para sosiolog itu mengajar di perguruan tinggi. Mungkin juga, menjadi guru yang mengajarkan sosiologi di sekolah menengah. Mereka berbagi pengetahuan dengan mahasiswa atau siswa. Walaupun demikian, ada pula para sosiolog terapan yang bekerja atau menekuni karier di berbagai bidang, mulai dari konseling terhadap anak-anak, dan bahkan ada yang bergerak di bidang kesehatan, karena sebenarnya kesehatan itu berkaitan dengan perilaku atau cara hidup. Dan, cara hidup itu berkaitan dengan alamat sosial seseorang dalam struktur sosial. Mungkin Anda bisa membayangkan mengapa ada penyakit-penyakit yang disebut penyakit rakyat, karena penderitanya sebagian besar adalah orang-orang biasa atau bahkan rakyat jelata. Tetapi adapula penyakit yang cukup memberikan gengsi, karena identik dengan kelas sosial atas dari sebagian besar penderitanya.

Ada pula pembelajar sosiologi yang akhirnya bekerja atau berkarier di bidang pembuatan piranti lunak komputer. Sosiolog itu mengkaji bagaimana orang menggunakan piranti lunak komputer dan memberikan masukan kepada para pembuat piranti lunak itu agar dapat menghasilkan piranti lunak yang ramah terhadap pengguna. Pembelajar sosiologi memahami bahwa, penggunaan suatu piranti bukan sekedar persoalan teknis, tetapi juga berkaitan dengan cara hidup yang telah biasa dilakukan, yang dalam sosiologi disebut cara hidup yang telah melembaga (institutionalized).

Agar dapat memberikan gambaran tentang karier apa saja yang dapat ditekuni oleh seorang sosiolog (terapan) berikut saya kutipkan apa yang ditulis oleh James M. Henslin, tentang empat orang sosiolog, yaitu (1) Leslie Green, (2) Stanley Capela, (3) Laurie Banks, dan (4) Joice Miller Lutcovich.

Yang pertama: Leslie Green, seorang sosiolog yang melakukan penelitian pemasaran di Vanderveer Group di Philadelhia, Pennsylvania,  yang memperoleh gelar diploma di bidang sosiologi dari Shipperburg University. Ia membantu mengembangkan strategi yang mendorong dokter memberikan obat tertentu. Ia mengatur rapat, menetapkan moderator untuk kelompok diskusi, dan mengatur pembayaran bagi para dokter yang berpartisipadi dalam penelitiannya. “Pendidikan saya dalam sosiologi”, katanya, “membantu saya untuk memahami keperluan kelompok-kelompok berbeda, dan untuk berinteraksi dengan mereka”.

Stanley Capela, yang memperoleh gelar magister dari Fordham University, bekerja sebagai sosiolog terapan pada HeartShare Human Services di New York. Ia mengevaluasi bagaimana program kanak-kanak –seperti program yang berfokus pada perumahan, AIDS, rumah kelompok, dan pendidikan pra-sekolah, dan lain-lain–  sebenarnya bekerja bukan bagaimana program tersebut seharusnya bekerja. Ia menemukan masalah dan menyarankan penyelesaiannya. Salah satu tugasnya adalah menemukan alasan mengapa adopsi anak memerlukan begitu banyak waktu, meskipun terdapat daftar panjang orang tua yang ingin melakukan adopsi. Capella menunjukkan bagaimana berkas-berkas surat terhambat saat diproses melalui sistem dan menyarankan cara-cara memperbaiki aliran surat-menyurat.

Lauri Banks, yang memperoleh gelar Magister di bidang Sosiologi dari Fordham University, menganalisis statistik untuk New York City Health Departement. Saat sedang menganalisis sertifikat kematian, ia mencatat bahwa di suatu rukun warga Polandia, dijumpai angka kandker perut yang tinggi.  Ia memberitahu Centers for Disease Control, yang kemudian melakukan wawancara di lingkungan tersebut. Mereka melacak penyebabnya yaitu konsumsi sosis dalam jumlah besar. Dalam kasus lain, Banks membandingkan sertifikat kelahiran dengan transkrip sekolah. Ia menemukan bahwa masalah di waktu lahir –berat badan yang kurang pada waktu lahir, ketiadaan perawatan sebelum kelahiran, dan komplikasi waktu bersalin– terkait dengan kemampuan membaca yang rendah dan masalah perilaku di sekolah.

Joice Miller Lutcovich, yang memperoleh gelar doktor dari Kent State University Research Corporation di Erie, Pennsylvania, ia juga mantan Presiden Society for Applied Sociology, melakukan penelitian dan memberikan konsultasi, terutama bagi lembaga-lembaga pemerintah. Dalam salah satu proyeknya, ia mendesain suatu program pelatihan untuk para pelaku perawatan anak. Ia juga meneliti sejauh mana para pelaku tersebut melalukan tugas mereka dengan baik. Penelitian dan programnya meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan oleh Pennsylvania Departement of Public Welfare. Organisasinya juga mengelola Pennsylvania Substance Abuse and Health Information Clearinghouse, yang tiap bulannya membagikan sekitar 300.000 bahan bacaan.

Dari hanya beberapa contoh saja, Anda dapat memperoleh sedikit gambaran mengenai keanekaragaman pekerjaan yang dilakukan oleh para sosiolog terapan.  Ada yang bekerja untuk perusahaan, ada yang dipekerjakan oleh badan pemerintah atau swasta, dan ada pula yang memiliki usaha sendiri.

Demikian, semoga ada manfaatnya.

Sumber tulisan:

James M. Henslin. 2007. Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi Jilid 1 Edisi 6. Jakarta: Erlangga.

 

2 thoughts on “Karier Seorang Sosiolog: Apa Yang Dapat Dilakukan oleh Para Sosiolog?

  1. Menarik sekali bahasan tentang karier seorang Sosiolog. Bahkan di awal kuliah Sosiologi dulu, dosen saya, (pak Sunyoto Usman) juga sempat membahas hal yang sama dan memberi kebebasan sepenuhnya kepada mahasiswanya mengenai tafsiran “karier” yang akan ditempuh oleh seorang Sosiolog.
    Saya seorang Sosiolog, Saya mengajar di Sekolah Menengah, dan segera akan menjadi CEO di Perusahaan yang saya dirikan sendiri.
    Wassalam.

  2. Wow … makasih Mas Robby atas catatannya, dan secara otomatis, ini menambah cerita tentang karier seorang sosiolog …. CEO Perusahaan Rekaman, di samping seorang guru sekolah menangah! Sukses, Mas …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s