Formula Kelulusan Baru: Hilangnya Hak Veto Ujian Nasional


Akhirnya desakan atau bahkan tekanan dari banyak fihak meluluhkan juga pertahanan pemerintah –kementerian pendidikan— terkait dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) di berbagai jenjang sekolah. Setelah setiap tahun selalu saja menghadapi persoalan yang sama, tentang legalitas UN, kecurangan dalam pelaksanaan, anggapan negatif dari berbagai fihak, tentang UN, bahwa UN memveto semua nilai yang telah diberikan oleh guru di sekolah, bahwa UN meminimalkan hak satuan pendidikan untuk melakukan pengujian pendidikan, bahwa UN merusakkan sistem dan substansi pendidikan karena akhirnya banyak sekolah yang di waktu-waktu menjelang UN menghilangkan KBM matapelajaran non-UN, dan seterusnya, kementerian pendidikan akhirnya murumuskan formulasi baru UN terkait dengan kelulusan peserta didik dari suatu jenjang pendidikan. UN tidak lagi menjadi satu-satunya penentu. UN tidak lagi mempunyai hak veto.

Dalam formula baru itu, UN digabungkan dengan Nilai Rapot (Laporan Hasil Belajar Siswa) dan Ujian Sekolah sebagai kriteria lulus-tidaknya seorang peserta didik dari suatu jenjang pendidikan. Rata-rata dari tiga nilai itu minimal harus 5,5.

Bagaimana reaksi masyarakat? Tetap saja ada pro dan kontra. Sejumlah siswa SMP dan SMA menyambut baik rencana penentuan kelulusan dengan menggunakan dasar nilai Ujian Nasional (UN), UAS dan nilai rapor. Sebab, mereka beranggapan adanya model tersebut selain bisa menunjukkan kemampuan siswa secara sungguh-sungguh, peluang untuk lulus UN semakin terbuka lebar (KR, Sabtu, 11 Desember 2010, halaman 17).

Wawancara jurnalis KR dengan beberapa pelajar SMP dan SMA menunjukkan hal tersebut. Antara lain wawancara dengan Anita Sukmawati, pelajar SMPN 2 Godean yang mengaku setuju dengan kebijakan nilai raport turut menjadi penentu kelulusan. Dengan begitu, harapan lulus bagi siswa sangat besar. “Kalau dengan sistem kelulusan hanya ditentukan dengan nilai UN saja sangat berat. Tapi nilai raport juga ikut menentukan kelulusan, beban mental siswa menjadi ringan. Selain itu, tekanan saat menghadapi UN menjadi berkurang, tidak seperti UN sebelumnya,” kata Anita. Hal senada dikatakan siswa lainnya Dwiki Ahmad. Ia menilai, sistem kelulusan yang juga ditentukan dari nilai rapor membuat beban siswa menjadi berkurang dan optimisme lulus lebih besar. “Biasanya, menghadapi UN itu stres. Jadi seandainya nanti nilai UN jelek, bisa dibantu dengan nilai rapor. Tapi saya tetap belajar supaya nilai UN bagus,” ujarnya. Komentar serupa diungkapkan siswa SMA SIBI Bias Yogyakarta, Fihrinisa Fakhrun Hakim (Anisa). Seandainya, model tersebut benar, menurut Fihrinisa akan menguntungkan siswa. Sebab, hasilnya bisa menunjukkan kemampuan siswa sesungguhnya. “Kalau hanya UN, nilai yang didapat bisa situasional,” kata Anisa, seraya menambahkan, berdasarkan pengalaman kalau kelulusan hanya berdasar nilai UN, bisa terjadi siswa yang pintar tidak lulus, sementara siswa pas-pasan justru lulus. Penyebabnya bisa bermacam-macam, sehingga hasil yang diperoleh tidak menggambarkan kemampuan siswa tersebut sehari-hari.

Tanggapan yang berbeda diperoleh oleh KR dari wawancaranya dengan Puri Rachmawati, siswa Kelas XII IPS SMA 3 Negeri 3 “Padmanaba” Yogyakarta. Menurut Puri, penentuan standar kelulusan lebih efektif jika didasarkan pada nilai UN. Karena, seandainya menggunakan nilai rapor justru kurang efektif, karena standar antara sekolah satu dengan lainnya tidak sama. Dampak adanya UN yang diharapkan bisa meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan justru tidak sesuai harapan. “Secara prinsip saya tidak keberatan, tapi akan lebih enak jika menggunakan nilai UN saja, karena standarnya lebih jelas, sehingga kemungkinan terjadinya kecurangan seperti pe- ngatrolan nilai bisa ditekan,” tandasnya,seraya menyatakan, agar pemerintah lebih cermat dalam membuat kebijakan khususnya yang terkait dengan pelaksanaan UN.

Bagaimana pendapat guru? Sepertinya tetap saja ada pro dan kontra. Ada sementara teman-teman guru yang merasa pelajarannya lebih dihargai siswa karena di-UN-kan, tetapi ada juga guru-guru yang lega dengan formula baru kelulusan itu, karena merasa mendapatkan haknya kembali untuk menentukan lulus-tidaknya seorang peserta didik dalam mata pelajaran yang diampunya. Dengan formula baru itu, nilai-nilai non-kognitif bisa terakomodasi, karena penilaian dalam pendidikan sesungguhnya tidaklah semata-mata persoalan kognitif yang dirumuskan dalam beberapa Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Nilai suatu matapelajaran dalam LHBS/rapot, bukanlah sekedar nilai kognitif, tetapi di dalamnya terkandung juga nilai lain, seperti partisipasi dalam suatu proses pembelajaran.

Demikianlah Ujian Nasional ….

2 thoughts on “Formula Kelulusan Baru: Hilangnya Hak Veto Ujian Nasional

  1. formulasi kelulusan UNAS memang sebaiknya harus merepresentasikan kompetensi siswa dari semua mata pelajaran. saya sangat setuju jika semua mata pelajaran yang ada di sekolah melalui hasil prestasi belajar di buku raport dapat dijadikan dasar pertimbangan kelulusan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s