Yogya Memang Unik, eh Istimewa Ding …


Ketika mencari-cari berita yang merasa enak dan perlu saya baca, tiba-tiba tertarik sebuah judul “Gudeg Asu”. Wow, apa2 an ini. Langsung saja saya klik judul itu, dan luar biasa. Sebuah artikel yang ditulis H. Pramono BS, di Banjarmasin Post Edisi Cetak.  Tulisan ini menggambarkan suasana Yogya yang memang unik, yang mungkin saja, ini juga salah satu ke-Istimewaan-nya, di samping tentu saja “keistimewaan” yang menjadi isue di tingkat nasional akhir-2 ini.  Selesai membaca artikel itu, ternyata banyak hal yang menurut saya, perlu dibaca oleh banyak orang. Sebenarnya saya hanya ingin mengutip beberapa pernyataan di artikel itu, tapi daripada nanti menimbulkan salah tafsir karena se-potong2, saya kopas-kan saja artikel ini, sekaligus ini permintaan izin kpd yang punya tulisan ….

Kopas artikel itu, seperti ini.

DI kawasan Jalan Wirobrajan, dekat perempatan Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ada warung lesehan yang menjual gudeg. Warung ini tidak pakai nama, tapi pengunjung banyak yang menamakan Warung Gudeg Asu.

Asu adalah bahasa Jawa yang berarti anjing. Bukan berarti memakai daging anjing, tapi orang yang makan di situ setiap keluar warung selalu mengumpat “asu” karena harganya mahal, di luar rata-rata harga gudeg. Warung ini sudah tutup, pemiliknya sudah meninggal tanpa ada penerusnya.

Itulah kenangan di salah satu sudut Kota Yogya. Di setiap lorong jalan di Yogya ada penjual gudeg. Pusatnya di Malioboro. Warung lesehan menjamur dengan berbagai jenis makanan. Tapi bagi pendatang sebaiknya memang tanya dulu harganya agar tidak digebuk.

Malioboro adalah maskotnya Yogya, dari pagi hingga malam tak pernah sepi. Becak, andong, mobil, motor harus merayap jika melewatinya. Trotoarnya penuh pedagang kaki lima yang buka dari pagi sampai malam. Setelah itu ganti warung lesehan sampai pagi.

Berbagai kultur ada di Malioboro karena yang datang ke situ orang dari berbagai daerah bahkan manca negara. Seniman sampai pengamen ada. Dagangan PKL nya sebenarnya juga itu-itu saja, berbagai kerajinan, pakaian dan semacamnya. Tapi orang merasa tidak lengkap kalau datang ke Yogya tidak mampir ke Malioboro.

Malioboro sebenarnya nama jalan, tapi karena saking bekennya sebagai pusat perbelanjaan rakyat, fungsi sebagai jalan malah hampir tak kelihatan. Fungsi sosial budayanya yang mempertemukan berbagai etnis justru lebih menonjol.

Banyak lagi keistimewaan Yogya. Keraton dengan segala atributnya jelas merupakan pusat kebudayaan. Pohon beringin kembar, dan alun-alun begitu akrab dengan rakyat dan menjadi tempat kumpul-kumpul kaum tua dan muda.

‘Aksesori’ Yogya seperti Gunung Merapi dan Laut Selatan oleh sebagian masyarakat juga diyakini melengkapi keistimewaan keraton dari sudut yang lain. Imbasnya, melahirkan suasana yang nyaman, adem dan ayem. Konon orang Yogya itu senang tidur siang, ini indikasi adanya ketenteraman hidup.

Sebagai kota pelajar, Yogya memiliki pusat-pusat pendidikan. Berbagai macam sekolah sampai perguruan tinggi terkemuka ada di Yogya. Mahasiswa/pelajar datang dari berbagai daerah bahkan manca negara. Suasana pendidikan amat terasa kental. Yogya bukan saja kota pelajar tapi juga kota terpelajar. Banyak orang yang sudah pernah hidup di Yogya tidak mau meninggalkannya. Yogya seperti memiliki magnet.

***

Dulu Yogya pernah menjadi kota sepeda, karena ribuan sepeda setiap hari memadati jalan. Banyak pejabat dari berbagai daerah pernah merasakan bersepeda di Yogya saat masih kuliah. Satu-satunya lampu pengatur lalu lintas di Tugu menjadi saksi.

Saat itu nyala lampu masih diatur oleh polisi, belum otomatis. Begitu sabar pak polisi menunggu para pengayuh sepeda dan becak dari satu sisi melintas, baru setelah itu nyala lampu berganti. Byur… ratusan sepeda dari sisi yang lain bergerak bersama seperti laron.

Tapi masyarakat Yogya juga manusia biasa, mereka tidak bisa menahan laju modernisasi. Sepeda motor kini ganti memacetkan jalan setiap hari. Bangunan tua-bangunan tua telah berganti dengan bangunan modern bertingkat tinggi, mal-mal pun beterbaran. Modernisasi Yogya telah menyentuh seluruh segi kehidupan.

Namun demikian kecintaan masyarakat terhadap Keraton dan Sultan berikut budayanya tetap tidak berubah sampai sekarang. Karena itu lah mereka mati-matian mendambakan Sultan Hamengku Buwono X tetap menjadi gubernur tanpa dipilih karena mereka menganggap apa yang ada di Yogya itu sesungguhnya milik Sultan. Rakyat tidak rela jika rajanya dilucuti, hanya dijadikan simbol.

Tapi tidak ada yang bisa menjamin Yogya akan terus menjadi magnit yang menjanjikan ketenangan dan kenyamanan jiwa. Juga tidak bisa dijamin masih memiliki daya tarik untuk dikunjungi sekadar bernostalgia. Tidak ada lagi hubungan batin antara rakyat dan pemerintah. Yogya akan kehilangan pamornya.

Itu jika usulan pemerintah untuk melaksanakan pemilukada disetujui DPR. Dampaknya Indonesia bisa tercabik-cabik karena jika rakyat Yogya memilih referendum, kerajaan-kerajaan nusantara juga akan tertantang untuk minta merdeka. Pendukung Yogya itu dari Sabang sampai Merauke, bukan sekadar sekretariat gabungan parpol.

Dulu Pangeran Mangkubumi mbalelo (membangkang) dari Kerajaan Kasunanan Surakarta juga karena kecewa pada pemerintah. Dia keluar dari keraton dan mendirikan keraton sendiri dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Sejak itu Kasultanan Yogyakarta menjadi negara merdeka. (*)

Nah, demikianlah. Barangkali saya perlu mengulang statement terakhir dari artikel ini,  Dulu Pangeran Mangkubumi mbalelo (membangkang) dari Kerajaan Kasunanan Surakarta juga karena kecewa pada pemerintah. Dia keluar dari keraton dan mendirikan keraton sendiri dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Sejak itu Kasultanan Yogyakarta menjadi negara merdeka.

Sumber tulisan:

http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/12/12/66791/gudeg-asu

 

One thought on “Yogya Memang Unik, eh Istimewa Ding …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s