Harian Jogja 30 Mei 2011: Guru Sosiologi Dituntut Tingkatkan Profesionalitas


Menjadi guru sosiologi ternyata lebih merupakan nasib daripada cita-cita. Ini merupakan gambaran kurang lebih 20 dari 25 guru sosiologi yang aktif dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota Yogyakarta. Hal itu disampaikan oleh Agus Santosa, Guru Sosiologi SMA 3 Yogyakarta, pada acara seminar guru (29/5) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Negeri Yogyakarta (FISE UNY).

Agus mengungkapkan bahwa di sekolah-sekolah (SMA/MA), guru sosiologi sering mengalami kendala dalam pembelajaran. Guru yang berasal bukan dari disiplin ilmu sosiologi acapkali kesukaran dalam menggunakan perspektif sosiologi dalam mengkaji sebuah permasalahan. Kendala itu semakin terasa ketika guru harus memenuhi tuntutan siswa akan model pembelajaran yang sesuai dengan konteks saat ini.

Menanggapi kendala itu, Agus menawarkan solusi dengan mengoptimalkan MGMP. “MGMP sosiologi lebih diutamakan fungsinya. MGMP dapat membuat program bagi guru sosiologi agar dapat meningkatkan kompetensi dan profesionalitasnya,” ujar Agus, yang juga merupakan Seksi Pendidikan dan Pelatihan Guru pada MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta.

Meurut Agus Basuki, M.Si, yang juga menjadi narasumber, guru dalam menjalankan profesionalitasnya dituntut untuk memiliki kecakapan kognitif, afektif serta psikomotorik. “Kompetensi kognitif dapat dibekali dengan ilmu pengetahuan kependidikan dan ilmu pengetahuan materi bidang studi. Secara afektif guru hendaknya memiliki sikap positif dan perasaan yang menunjang pembelajaran. Sedangkan kecakapan psikomotorik terlihat dalam bentuk gerakan guru dan secara khusus direfleksikan dalam bentuk ketrampilan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun non-verbal,” ujar dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNY ini.

Selain tiga kecakapan itu, kemampuan komunikasi merupakan persoalan penting bagi guru. Saat mengajar umumnya guru mengajar apa adanya. Menyampaikan materi sekadar berbicara di depan kelas, semestinya kemampuan membawakan materi pelajaran menjadi suatu bentuk presentasi yang menarik, menyenangkan, mudah dipahami dan dimengerti oleh murid.

Menjadi guru profesional tidak cuma diukur melalui portofolio semata, tetapi mencakup kemampuan mengajar di kelas. Pengetahuan dan kemampuan komunikasi menjadi ujung tombak dari profesionalitas guru. Tujuan akhirnya ialah sejauh mana guru menghasilkan murid yang profesional pula.

Triyanto P. Nugroho

4 thoughts on “Harian Jogja 30 Mei 2011: Guru Sosiologi Dituntut Tingkatkan Profesionalitas

  1. sepakat pak agus… mungkin lebih bagus dibuat pemetaan dalam mengajar sosiologi.. mungkin pak agus bisa menambah saran-saran yang baik dalam mengajar sosiologi… akhmad khafid pasuruan

  2. Bagi saya menjadi guru sosiologi bukan nasib, tapi sebuah lompatan besar dalam hidup. hanya saja seperti yang pak agus katakan, saya yang berasal bukan dari disiplin ilmu sosiologi acapkali kesukaran dalam menggunakan perspektif sosiologi dalam mengkaji sebuah permasalahan. Maka saya harus belajar ekstra keras agar dapat mengajar sosiologi. Jika ada referensi buku atau bahan pembelajaran yang pak agus rekomendasikan, saya amat berterima kasih (defazila@gmail.com)

    • Mbak Dinny … makasih tlah berkenan mampir di blog ini …. Insya Allah kita dapat berbagipakai sumber/bahan ajar … *tentang menjadi guru sosiologi sebagai nasib sebenarnya itu “hanya” retorika saya koq … saya sangat menikmati profesi sebagai guru sosiologi .
      Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s