Sepatu Ketz Dahlan Iskan Pada Pelantikan Menteri


Ada yang tak biasa dalam pelantikan menteri baru, Rabu (19/10) lalu. Seorang dari mereka memakai sepatu kets. Bukan sepatu kulit formal seperti lazimnya. Siapa lagi sosok itu kalau bukan Dahlan Iskan. Wartawan yang diamanahi menjadi menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Tentu, bukan karena wartawan ia memakai sepatu kets. Sepatu jenis itu memang bagian dari ciri khasnya.

Dahlan memang berbeda. Sebelumnya, sudah banyak wartawan lain yang jadi menteri. Harmoko, misalnya, yang pernah menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Atau Adam Malik yang menembus kursi wakil presiden. Umumnya, mereka diangkat karena kewartawanannya. Mereka mendapat tugas politik menjadi “jembatan komunikasi” pemerintah dan publik. Dahlan pun sangat mampu memikul tugas itu.

Dulu, ia salah seorang wartawan terbaik Tempo. Kemudian, Dahlan menyulap Jawa Pos dari koran kecil di Surabaya menjadi kelompok media terbesar di Indonesia. Kemampuan memimpin usaha yang sulit dibantah bila disebut ‘luar biasa’. Banyak orang bertanya: Mampukah Dahlan membuat prestasi serupa di BUMN raksasa seperti PLN? Dahlan menjawab dengan sepatu kets-nya.

Sepatu kets? Benar. Sepatu kets adalah sepatu buat berjalan. Bukan buat upacara, seremoni, pesta, atau gagah-gagahan. Dengan sepatu itu, setiap habis Subuh Dahlan berjalan kaki dari rumah ke kantor. Jam tujuh pagi dia mulai aktivitas di kantor tanpa merasa perlu ganti sepatu. Baginya, bukan sepatu itu yang menentukan kualitas kerja di kantor. Apalagi, sepatu itu membantunya untuk pergi ke lapangan. Kerja yang kadang harus ditempuhnya dengan berjalan kaki berkilo-kilo meter.

Manajemen Dahlan boleh jadi dapat dikategorikan sebagai ‘Manajemen Posmo’. Praktik manajemen yang tak mau mengikatkan diri pada aliran manajemen tertentu. Pelaku kajian sosial percaya: Masyarakat berkembang dari tahap ‘tradisional’ menjadi ‘modern’. Tata nilai dan budayanya pun mengikuti alur itu. Di arena manajemen dapat pula dikategorikan sebagai ‘manajemen tradisional’ dan ‘manajemen modern’.

Pada abad ke-20 hingga awal abad ke-21 ini, paham modern begitu diagungkan. Semua dianggap harus modern. Ekonomi harus modern, manajemen harus modern, gaya hidup harus modern. ‘Kemodernan’ dikukuhkan dengan berbagai atribut. Olahraga ya harus golf, janji ketemu orang ya harus di Starbucks dan semacamnya, telepon genggam harus sering ganti mengikuti model terakhir, tas para ibu harus merek Hermes dan sebangsanya.

Begitu kuat hegemoni modern dalam kehidupan masyarakat. Hingga yang tak mengikutinya dipandang ‘kuno’ atau ‘ndeso’. Modern seperti menjajah seluruh sendi kehidupan. Itu menimbulkan rasa muak sebagian kalangan. Kemarahan terhadap apa yang diistilahkan sebagai ‘ekonomi kapitalistik’, ‘ekonomi liberal’, ‘ekonomi neo-liberal’ sebenarnya adalah perlawanan terhadap penjajahan oleh paradigma modern.

Perlawanan serius terhadap ‘modern’ dilakukan oleh ‘Flower Generation’ di akhir 1960-an. Era yang melejitkan nama Jim Morrison (segenerasi Dahlan) , ‘dewa’ penolakan Perang Vietnam dengan mempromosikan gaya hidup Hyppies. Perlawanan pada ‘modern’ yang paling sukses terjadi di dunia seni rupa, yang memunculkan istilah ‘posmodernisme’ atau ‘posmo’. Seni tak boleh dalam hegemoni paham modern. Segala bentuk penjajahan oleh paham modern harus didekonstruksi. Harus dijungkirbalikkan.

Belakangan kian terbukti bahwa hegemoni paham modern-yang masih didewakan elite bangsa ini (terutama oleh para ekonomnya)-terbukti melahirkan kerusakan luar biasa. Bukan hanya pada lingkungan, melainkan juga pada ekonomi dunia. Bayang-bayang krisis ekonomi Amerika dan Eropa adalah bukti yang tak terbantahkan. Di Tanah Air itu ditandai peningkatan ketimpangan ekonomi luar biasa.

Seorang analis yang juga mengelola dana investasi senilai Rp 60 triliun menyebut dua persen penabung memiliki 98 persen jumlah tabungan di bank. Dengan begitu, 98 persen penabung hanya punya dua persen dari jumlah tabungan. Ketimpangan itu jauh lebih buruk dibanding perkiraan umum selama ini 80:20. Ironisnya, itu terjadi di negeri Pancasila ini.

Dahlan tidak peduli paham apa yang mau dipakai di negeri ini: apakah tradisional atau modern. Baik untuk mengelola pemerintahan, korporasi, diri sendiri, maupun buat bermasyarakat. Tapi, sepatu kets-nya memberi jawaban ke mana dan dengan cara apa bangsa ini melangkah. Deng Xiaoping terkenal dengan ucapan, “Saya tidak peduli Kucing Hitam atau Kucing Putih, asalkan dapat menangkap tikus.” Menangkap tikus itu adalah memakmurkan seluruh bangsa.

Sepatu kets Dahlan tampaknya ada di jalur itu. Yang penting kerja, kerja, dan kerja. Baginya, tradisional dan modern sama saja. Masing-masing ada kebaikan dan kekurangannya. Maka, tak perlu terjebak oleh atribut apa pun. Itu ditunjukkan lewat pernikahan kedua anaknya yang berbeda. Yang satu lewat pesta megah seperti para pejabat sekarang merasa ‘wajib’ menempuhnya. Satu lagi pernikahan sederhana yang biasa. Dalam ‘filsafat sepatu kets Dahlan’, keduanya sama saja

Dalam filsafat manajemen sepatu kets, aturan, formalitas, bahkan seremoni tetap penting. Tapi, semua itu tetap harus ditautkan dengan kerja, kerja, dan kerja. Baru dapat disebut kerja, kerja, dan kerja bila mampu membuahkan hasil ‘sebaik mungkin’ dengan waktu ‘secepat mungkin’. Bukan berputar-putar tidak jelas dengan mengatasnamakan proses dan aturan. Itu wujud ketidakbertanggungjawaban yang dibungkus lewat rapat demi rapat.

Sepatu kets Dahlan menepiskan perilaku begitu. Itu dibuktikannya di PLN dengan kerja, kerja, dan kerja dengan mengusung tinggi jimat ‘Dua As’-nya. Integritas dan antusias. Hasilnya, semua tahu bagaimana kualitas korporasi PLN sekarang. Itu diwujudkannya dalam waktu yang relatif sekejap, yakni kurang dari dua tahun.

Wajar bila jejak sepatu kets Dahlan pun terlihat oleh Presiden SBY, yang lalu memintanya menjadi menteri. Yang diperlukan bangsa ini memang kerja, kerja, dan kerja secara nyata. Sepatu kets Dahlan Iskan dapat menjadi simbolnya.

Sumber: Resonansi Republika,  Jumat 21 Oktober 2011 Oleh Zaim Uchrowi  

One thought on “Sepatu Ketz Dahlan Iskan Pada Pelantikan Menteri

  1. Pingback: MENGENAL DAHLAN ISKAN « "ALL MANAGEMENT INSIGHT, CATATAN PERKULIAHAN"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s