JEC = Jogja Education Club


Di Aula KR pada Rabu 26 Oktober 2011 hadir kurang lebih 50 orang, mereka adalah para rektor perguruan tinggi, anggota dewan pendidikan kabupaten/kota di DIY,  pengamat pendidikan, dan juga para pelaku pendidikan, guru dan dosen, juga hadir birokrat pendidikan dan wakil dari kepolisian. Mereka berkumpul untuk melakukan inventarisasi masalah pendidikan di DIY. Penggagas pertemuan ini adalah KR, yang melalui direktur utamanya (dr Gun Nugroho Samawi) yang alumni SMA Negeri 3 Yogyakarta menyampaikan bahwa pertemuan ini diselenggarakan dalam rangka “KR PEDULI PENDIDIKAN” untuk menjawab dan memberikan solusi terhadap masalah-masalah pendidikan dalam sebuah forum yang diberi nama “Jogja Education Club” atau disingkat JEC. Kata pak Dirut KR, “Ini adalah bentuk keberpihakan KR yang telah berusia 66 tahun kepada masyarakat, untuk memajukan pendidikan di DI Yogyakarta.”

Pada prolog yang tertulis di proposal kegiatan, dikemukakan antara lain bahwa sebutan Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan belakangan ini dipertanyakan. Indikatornya antara lain menurunnya Hasil Ujian Nasional baik di tingkat SMP/MTs maupaun SMA/MA/SMK yang jika dibandingkan dengan propinsi lain berada pada urutan kedua dari bawah. Indikator lain adalah menurunnya animo orang luar DIY yang menjadi mahasiswa di perguruan-perguruan tinggi DIY.  Forum ini dibentuk untuk membangkitkan kembali romantisme di masa lalu sehingga julukan sebagai kota pendidikan tidak dipertanyakan lagi, dan banyaknya tokoh-tokoh alumni DIY yang berperan tangguh di berbagai sektor kehidupan di hampir semua propinsi di Indonesia.

Beberapa masalah besar disampaikan oleh para tokoh pendidikan DIY dalam forum putaran pertama tersebut, antara lain oleh Prof. Eddy Suandi Hamid (Rektor UII), Dr. Maryatmo (Rektor UAJY), Kiai Jazir ASP, Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bantul pak Idham Samawi, Dr. Sari Murti Widiyastuti – Dekan Fakultas Hukum UAJY, Guru SMA K D’Brito: Drs. St. Kartono, dan lain-lain, termasuk dari pihak Kepolisian Daerah Yogyakarta.

Tulisan ini dibuat dengan maksud mendokumentasikan permasalahan-permasalahan yang berhasil diinventarisasi dalam forum tersebut.

Pembicara Pertama, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid (Rektor UII),  antara lain menyampaikan bahwa walaupun berada di ruang lingkup kerajaan, tetapi model pendidikan di Yogyakarta tidak feodal, tetapi demokratis dan murah. Buktinya, beliau yang kelahiran Palembang dapat menjadi Rektor di UII. Hal ini tidak mungkin kalau pendidikan Yogyakarta tidak demokratis. Pendidikan di Yogyakarta yang dikenal murah (dulu) tetapi berkualitas membuat orang-orang dari luar Yogyakarta berbondong-bondong kuliah di Yogyakarta. hanya saja sekarang terjadi pergeseran karena biaya hidup dan pendidikan di Yogyakarta kian melejit. Hal ini perlu intervensi dari pemkot/pemkab, misalnya retribusi rumah kost digratiskan, dan juga papan nama lembaga pendidikan tidak perlu menjadi objek retribusi. Masalah yang terkait dengan pendidikan karakter, tidak mudahnya pendidikan menghasilkan tokoh-tokoh alumni berkarakter antara lain karena pengaruh kapitalisme, sehingga sekolah, perguruan tinggi, dan segenap tenaga kependidikannya juga cenderung kapitalis. Kapitalisme terlanjut menjadikan masyarakat berpola konsumtif dan mengimpor apa-apa dari negeri maju, termasuk pendidikan. Pihak terkait harus hati-hati dalam hal ini, karena kita sudah mengimport teknologi pertambangan, pasar, dan juga industri, keadaan masyarakat kita akan lebih parah kalau pendidikan pun akhirnya kita impor, jika demikian jati diri kita sebagai bangsa Indonesia akan hilang dengan cepat.

Pembicara kedua, HM Idham Samawi, mantan Bupati Bantul yang sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bantul, mengawali dengan menyatakan bahwa beliau menggunakan logika sederhana, jika ingin mencerdaskan atau memintarkan siswa, maka yang harus dibuat cerdas dan pintar dulu adalah guru-gurunya. Itulah kenapa pemkab Bantuk bertekat menyekolahkan guru-guru Bantul sehingga berpendidikan S2. Sekarang ini di Indonesia, kabupaten dengan guru-guru berpendidikan S2 terbanyak adalah kabupaten Bantul. Dan, hasilnya, setidaknya Hasil Ujian Nasional Bantul adalah terbaik dibanding kabupaten  lain dan Kota di DI Yoyakarta.

Idham juga menyampaikan bahwa hasil pendidikan di Yogyakarta di masa lalu sangat bagus. Dari pengalamannya mengunjungi 171 kabupaten pada 33 provinsi di Indonesia, selalu bertemu dengan tokoh-tokoh yang menduduki jabatan-jabatan strategis, mulai dari camat sampai dengan gubernur yang alumni Yogyakarta. Paling tidak umur mereka sekarang ini 40 tahun, jadi kira-kira produk pendidikan Yogyakarta pada tahun-tahun 90-an.

Kiai Jazir ASP yang di samping sebagai tokoh agama juga menjadi pengamat dan pemerhati pendidikan, menyampaikan bahwa Yogyakarta menjadi kota pendidikan itu tidak lepas dari faktor sejarah, Yogyakarta ini berpusat di Kraton yang merupakan pusat kebudayaan, akibat dari ini Yogya menjadi pusat pendidikan. Banyaknya tokoh yang merupakan alumni Yogyakarta yang tersebar di mana-mana, kerinduan mereka kepada Yogyakarta mendorong kota Yogyakarta menjadi pusat pariwisata. Kiai Jazir menyatakan bahwa karakteristik pendidikan Yogyakarta itu santun. Maka sebagaiman pesan Sultan HB IX yang bahwa Kota Yogyakarta hendaknya menjadi kota pendidikan bagi para pemimpin dari Sabang sampai Merauke.  Kekuatan budaya itulah yang menjadikan alumni Yogyakarta memiliki jiwa republikan dan berkarakter.  Kalau tidak, maka alumni Yogyakarta hanya akan menjadi tukang-tukang saja.

Dr. R. Maryatmo MA, Rektor UAJY, menyampaikan tentang perlunya pendidikan gratis bagi masyarakat yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah atau perguruan tinggi negeri. Orang-orang hebat itu lahir dari pendidikan yang murah. pak Maryatmo menyampaikan pengalaman-pengalaman di UAJY, bahwa mahasiswa-mahasiswa berprestasi itu justru datang dari keluarga-keluarga yang kurang mampu.  Dari pengamatan beliau, mahasiswa-mahasiswa dari keluarga kurang mampu ini lebih punya tanggung jawab lebih dari yang lain. Sehingga, prestasi-prestasi yang membanggakan itu bukan karena ketercukupan materi dan fasilitas pendidikan dari keluarga, tapi justru oleh adanya rasa tanggung jawab.

Sementara itu, Kabid Humas Polda DIY, AKBP Anny Pudjiastuti, menyampaikan data tentang kriminalitas yang dilakukan oleh para pelajar dan mashasiswa. Yang mengagetkan adalah bahwa narkotika dan obat-obat terlarang itu sudah menggejala di tingkat sekolah dasar.  Anak-anak itu dibujuk untuk memakai secara gratis, baru kalau kemudaian ketagihan dan meminta dikenakan tarip. AKBP Anny menegaskan bahwa narkoba itu secara nyata menjadi ancaman dunia pendidikan, dan akan menggerogoti generasi muda. Tentang kriminalitas, seperti tawuran pelajar, pada umumnya berawal dari pertandingan olahraga persahabatan antar-sekolah.

Dekan Fakultas Humum UAJY, Dr. Sari Murti W, menyampakan bahwa masalah lain di pendidikan adalah maraknya pornografi dan kebebasan seksual di kalangan pelajar, yang bisa jadi berawal dari warnet. Warnet menyumbang terjadinya beberapa kasus pernikahan dini. Pelajar ke warnet, semula bermaksud mengerjakan tugas-tugas dari guru sekolahnya, tetapi menjadi tak terkendali ketika justru melihat sesuatu yang lain.

Hajar Parmadi, dosen seni rupa UNY, menyampaikan tentang  budaya visual yang semakin tak terkendali melanda para pelajar bahkan mulai dari tingkat sekolah dasar, sampai-sampai ada anak di bawah umur yang merengek meminta dibelikan pembalut wanita kepada orangtuanya. Ini salah satu contoh korban dari semakin tidak terkendalinya budaya visual. Siapa yang tidak mengelus dada melihat pelajar tidak punya sopan santun, suka tawuran, terlibat pornografi, memakai narkoba, dan hobi kebut-kebutan? Hal ini tidak lepas dari pendidikan karakter yang belum bisa diserap dengan baik oleh pelajar. Jika pendidikan karakter dijadikan kurikulum baku, yang menjadi hasilnya hanyalah “kognitif tentang karakter”. Yang justru lebih penting adalah penyadaran dan pembiasaan.

Drs. St Kartono, guru SMA K D’brito menggaris bawahi pernyataan pak Idham Samawi, bahwa untuk membuat pintar atau cerdas para siswa, guru harus pintar dan cerdas. Guru merupakan aktor utama dari pendidikan, sehingga sudah selayaknya perhatian terhadap guru harus lebih baik, sehingga guru dapat dengan nyaman dan baik memperbaiki dirinya. Berkait dengan adanya kritik-kritik bahwa materi-materi yang disampaikan oleh guru kepada siswa-siswanya tidak membumi, jika demikian keadaanya maka penguatan guru merupakan hal penting. Guru perlu mampu menunjukkan dan menerapkannya dalam pembelajaran di kelas suatu tingkatan pengetahuan tentang disiplin ilmu yang relevan, proses pembelajaran siswa dengan menggunakan sumber-sumber dan media pembelajaran. Akses guru terhadap buku-buku dan bacaan-bacaan mutakhir akan menghadirkan sosok guru yang well-informed. 

Ketidakmampuan guru membawa siswa ke arah nilai-nilai humanistik dan pengalaman-pengalaman manusiawi sangat mungkin disebabkan oleh beban kurikulum dan target-target ujian nasional, yang kadang menjadikan guru sebagai tukang mengajar yang tertib, meskipun harus kehilangan kesempatan untuk memberikan kedalaman materi.

St. Kartono menegaskan bahwa persoalan fisik dan material bagi guru kiranya akan menyemangati guru untuk terus maju. Berbagai tunjangan atau pernik-pernik kesejahteraan untuk guru tidak boleh tersendat-sendat lagi, tunjangan-tunjangan bagi guru pun mestinya tidak boleh dipermainkan dengan mengulur-ngulur waktu untuk menerimakannya.

Demikian antara lain yang sempat penulis dokumenkan dari pertemuan di Aula KR pada 26 Oktober 2011. Tak semua masalah pendidikan teriventarisasi pada forum tersebut, belum semua yang hadir sempat bicara, walaupun waktu diskusi telah diperpanjang 60 menit.

Akhirnya, selamat berjumpa lagi di Diskusi Jogja Education Club (JEC) Putaran Kedua yang insya Allah diselenggarakan di UII atas unduhan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid.

—————————-

Agus Santosa,

Guru SMA Negeri 3 Yogyakarta,

peserta diskusi JEC Putaran 1 di Aula KR.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s