Peran Kelompok Masyarakat Miskin


Iseng membuka-buka file lama di tengah kesibukan menunggu terkumpulkannya nilai-nilai untuk laporan hasil belajar siswa semester 1 tahun ajaran ini,  menemukan tulisan lama tentang peran kelompok miskin, dan terdorong untuk menuliskan kembali di blog ini. Walau tidak jelas manfaat apa yang dapat diambil dari membaca tulisan ini, setidaknya pembaca akan memperoleh pengertian bahwa setiap unsur dari sebuah sistem sosial (masyarakat) mempunyai manfaat atau fungsinya.

Tulisan ini diawali dengan kutipan dari word Economic Report, 1998, bahwa terdapat lima kawasan dengan penduduk miskin absolut terbesar, yaitu Afrika, Amerika Latin, Asia Selatan, Asia Tenggara, Negara-negara Balkan dan Rusia. Di kawasan ini terdapat 1,2 milyard penduduk miskin, atau 62 persen dari penduduk miskin dunia.

Kaum miskin oleh banyak pihak lebih banyak dipandang sebagai penduduk yang secara ekonomi mengalami ketertinggalan dan tidak jarang dinilai sebagai bagi masyarakat. Namun, jika percaya pada teoeri sistem, bahwa sekecil dan seremeh apapun unsur sosial, tentu terdapat manfaat yang dapat diambil. Gerbert J. Gans  (American Journal of Sociology, September 1972: 275-289) menulis tentang  peranan positif kaum miskin yaitu:

Dalam bidang ekonomi: (1) menjamin terselesaikannya pekerjaan kasar, kotor dan berbahaya, bersifat sementara dan bergaji rendah  (unskill ), (2) orang miskin bersedia menjadi buruh berupah rendah, dan (3) sumbangan keuntungan bagi the have: orang miskin bersedia menjadi buruh berupah rendah, (4) menciptakan lapangan pekerjaan: kaki lima, pemulung, calo, tukang rombeng, dst., dan (5) dan, pekerja sosial, aktivis kemanusiaan, agamawan, dan semacamnya, menjadi lebih bermakna, (6) pasar untuk barbek, makanan kadaluwarsa, beras jatah, pakaian rombeng, dst.

 Di bidang Sosio-kultural

Peranan kelompok miskin di bidang sosio-kultural, paling tidak (1) dapat dijadikan “korban” kepentingan masyarakat banyak: pembangunan jalan, fasum, dst., (2) peluang untuk menjalankan peran kemanusiaan atau keagamaan,  (3) kesempatan golongan kaya menikmati moral yang longgar: pelacuran, premanisme, pornografi, (3) tolok ukur kelas, sehingga the have not  merupakan jaminan status kepada mereka yang tidak miskin, dan (4) memberikan “kesibukan” kepada yang tidak miskin sebagai filantropi, para bangsawan, klub-klub eksklusif, kelompok ibu-ibu, para tokoh agama shg kedudukan kelompok ini menjadi mantap. Religious Instink dari kelompok tidak miskin pun dapat tersalurkan.

Tidak kalah pentingnya, dari sejarah peradaban manusia dapat diketahui bahwa kelompok miskin telah menyumbang  kemajuan peradaban manusia: gedung-gedung pencakar langit, perumahan megah, monumen kebanggaan bangsa ternyata dalam pembangunannya memanfaatkan tenaga dari kelompok miskin. Di bidang kebudayaan, ternyata kebudayaan “rendah” the have not telah ditiru oleh orang kaya: musik jazz, blues, ataupun dangdut.

Di Bidang Politik

Di bidang politik, peranan positif kaum miskin antara lain, (1) dijadikan simbol perjuangan politik: “membela kaum miskin” adalah tema kampanye pemilu yang gampang dicerna dan laku dijual, (2) memberikan kesempatan para birokrat dan pemeran politik menunjukkan keberhasilan mereka … “mengentaskan rakyat dari kemiskinan melalui transmigrasi, dan (3) kaum miskin adalah penyumbang suara terbesar dalam pemilu.

Demikianlah kira-kira, dan semakin yakin bahwa setiap unsur dalam sistem sosial tentu ada peran atau fungsinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s