Jogja Education Club #2 di UII


Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi, Universitas Islam Indonesia (UII) mempunyai tanggung jawab sosial, terlebih berbagai hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Seperti halnya beberapa issue yang muncul akhir-akhir ini. Diantaranya terkait permasalahan akan kualitas karakter manusia Indonesia yang semakin meningkat, lapangan pekerjaan yang semakin sempit serta efek yang timbul dari dinamika perubahan ekonomi, ungkap Rektor UII Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. pada diskusi Jogja Education Club  bertajuk Reorientasi dan Revitalisasi Pendidikan pada Selasa (7/12), di Kampus UII Jl. Cik Ditiro No. 1 Yogyakarta.

Kegiatan diskusi yang terselenggara atas kerjasama SKH Kedaulatan Rakyat dan UII tersebut dihadiri oleh segenap pimpinan Institusi pendidikan, Pejabat Sipil dan Militer serta Tokoh Masyarakat di wilayah Yogyakarta, diantaranya Walikota terpilih periode 2011-2016 Haryadi Suyuti, Mantan Bupati Bantul yang juga sebagai komisaris utama PT Kedaulatan Rakyat Idham Samawi, Direktur Utama PT Kedaulatan Rakyat, dr. Gun Nugroho Samawi, Koordinator Kopertis Wilayah V DIY, Dr. Ir. Bambang Supriyadi, CES., DEA, Rektor Univ. Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) 2011/2015 Dr. R. Maryatmo, MA. Sementara Guru Besar FH UII, Prof Jawahir Thontowi PhD., hadir dan bertindak sebagai moderator diskusi.

Prof. Edy Suandi Hamid, mengungkapkan, adanya korelasi dari tingkat kemajuan negara dengan perkembangan pendidikannya, selain juga dengan anggaran biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan ataupun juga dilihat dari research and development. Berdasarkan data dari lembaga internasional pada Human Development Index, peringkat indonesia pada tahun 2011 mengalami penurunan dari peringkat 108 menjadi peringkat 124, yang dinilai dari tingkat melek huruf pada bidang pendidikan, income perkapita pada bidang ekonomi, dan tingkat harapan hidup serta tingkat kematian bayi per 1000 penduduk pada bidang kesehatan.

Selain itu Prof. Edy Suandi Hamid juga mengungkapkan, dalam rangka melakukan revitalisasi Yogyakarta sebagai kota pendididkan, terdapat satu isu yakni meningkatnya biaya pendidikan dan hidup di Yogyakarta. Menurut Prof. Edy Suandi Hamid, saat ini di Yogyakarta telah menerapkan ‘retribusi’ kos – kosan, padahal jika ditiadakan akan berimplikasi positif.

Hal tersebut, tambah Prof. Edy Suandi Hamid, diiringi dengan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) perguruan tinggi yang juga mahal. “Khususnya kepada bapak Suyuti sebagai walikota Yogyakarta yang akan segera dilantik, tentunya memiliki kewenangan dalam menentukan kebijakan mengenai PBB ini. Oleh karena nirlaba, semoga PBB perguruan tinggi di wilayah Kota Yogyakarta bisa dimurahkan,” harapnya.

Reorientasi dan Revitalisasi Pendidikan

Koordinator Kopertis Wilayah V Dr. Ir. Bambang Supriyadi, menyikapi upaya mewujudkan karakter generasi bangsa bermoral, bermartabat, dan berintegritas yang menurutnya butuh adanya keteladanan dari semua pihak. Bukan hanya itu, proses transfer ilmu (kegiatan belajar mengajar) terutama Pendidikan Kewarganegaraan dan Agama perlu ditelaah ulang. “Selama ini, siswa hanya terbatas pada hafalan dan teoritis saja, bukan pada aplikasi yang semestinya jauh lebih diutamakan. Bagaimana mungkin para siswa dapat bermusyawarah, bertoleransi, berkeTuhanan, berkeadilan dan lain semisalnya jikalau hanya disuruh menghafal mengenai teorinya saja” keluhnya. Untuk itu, pihaknya menegaskan, agar teori Pendidikan Kewarganegaraan dan Agama dapat diimplementasikan dan diberikan contoh keteladanan.

“Di Perancis, jika orang – orang berjalan dan suatu ketika senggolan, maka mereka saling mendahului untuk memohon maaf, namun tidak demikian yang terjadi di negeri kita. Padahal Pendidikan Kewarganegaraan dan agama ada, Pancasila sebagai dasar negara juga ada. Butuh keteladanan”sindirnya.

Selain itu, pihaknya juga menyampaikan, sesuai data tahun 2010, prosentase pekerja di Indonesia yang mampu menghasilkan income perkapita 30$ terbesar dari lulusan dan bukan tamatan SD, yakni 52 %. Untuk itu, sejalan dengan Idham Samawi, pihaknya mendesak semua perguruan tinggi guna meningkatkan kualitas lulusannya agar mampu bersaing dengan dunia global. Jika ini terwujud, maka SDM pekerja di Indonesia semakin berkualitas, professional, bersertifikat , berdaya saing tinggi, dan memiliki nilai jual tinggi di berbagai penjuru dunia.

Tokoh agama yang juga pengamat pendidikan KH Jazir ASP menambahkan, terkait dengan krisis generasi yang berkarakter, karakter bangsa yang hilang di negeri ini adalah karakter kemerdekaan, yakni bebas dari ketergantungan pihak lain dalam membangun negara. Dalam filosofi ‘Kiai’, jelasnya, seseorang tidak akan menjadi ‘kiai’ jikalau dirinya masih tergantung dengan makhluk bukan Kholiq (Allah Sang Pencipta). Dan dalam implementasinya, nilai kemerdekaan sebagai karakter bangsa terwujud dari besarnya pengabdiannya pada bangsanya itu, dalam hal ini dirinya menganalogikan ‘santri Gontor’ dan sejarah pendidikan di Indonesia.

“Bung Karno mengatakan, kemerdekaan itu ada tiga unsur utama, pertama berdaulat politik sesuai dengan aturan negara, kedua merdeka secara ekonomi, yakni mandiri dalam bidang ekonomi dan pangan. Dan  yang ketiga adalah berkepribadian nasional dalam bidang budaya. Maka sebenarnya kita ‘benar – benar’ masih berada di ‘depan gerbang’ kemerdekaan”tegasnya.

Disisi lain, Drs. Bambang Sucipto MPdI mewakili pimpinan UMY menyoroti para elit (pendidikan) sebagai penyebab carut marutnya pendidikan di Indonesia. Para elit itu, menurut asumsinya, tidak memiliki visi yang jelas atau kosong. “Merujuk pada China akhir 70an, dimana semua warganya bermimpi mengubah negaranya menjadi kaya pada 25 tahun mendatang. Oleh karena itu, yang dilakukan adalah merombak visi secara total. Maka yang terjadi kini, China menjadi negara terkaya kedua di dunia di bawah Amerika”urainya.Jadi, yang perlu ditekankan adalah visi pendidikan, mau dibawa ke mana sistem pendidikan di Inonesia ini, menurutnya. Berbagai ketimpangan yang terjadi antara PTN dan PTS di Indonesia pun menjadi penyebab lain lemahnya sumber daya manusia dalam rangka memajukan sistem pendidikan. “Berbagai program internasional diselenggarakan namun hanya menciptakan sumber daya ekslusif saja”sebutnya.

Sementara menurut Dosen Seni Rupa UNY Drs. Hajar Pamadhi, krisis karakter bangsa disebabkan oleh kealphaan filsafat pendidikan. “Pendidikan di Indonesia, bukan hanya tidak memiliki visi, melainkan tidak punya filsafat pendidikan. Padahal, filsafat itu inti dari sebuah sistem pendidikan”ujarnya.

Pendidikan di Indonesia, menurutnya, kini telah hilang arah, tak tentu ingin menuju ke mana. Hal ini disebabkan oleh gesekan kuat dari pesatnya kemajuan zaman sehingga menurut alumni SMAN 1 Yogya ini, pendidikan Indonesia menjadi melenceng. “Dari (menulis dengan) ‘saba` beralih pada I-phone atau Ipad. Jadi, dari otak – hati manusia beralih pada otak komputer, tidak jelas arah tujuannya”sebutnya.

Untuk itu, pihaknya mengusulkan agar Yogyakarta, yang masih dijuluki sebagai Kota Pendidikan, menjadi pelopor dalam membenahi sistem pendidikan di Indonesia ini. “Sebagai Kota Pendidikan, seyogyanya Yogyakarta ini mampu mengawali dalam menegakkan filsafat pendidikan pada sistem pendidikannya”pintanya.

Sementara itu, menyinggung soal tingginya perilaku pragmatis di Indonesia menurut Rektor UAJY Dr. R. Maryatmo, MA, disebabkan oleh sistem hukum tidak memberikan penguatan dalam penegakan hukum terhadap kaum lemah. “Sementara  persaingan semua aspek yang semakin kentara, menjadikan kaum lemah melakukan segala cara untuk survive. Ini sumber pragmatism”terangnya.Berbagai contoh disebutkannya, tidak adanya kebijakan anggaran yang berorientasi pada masyarakat kecil. “Jikalau subsidi BBM ditiadakan namun tetap dialokasikan pada pendidikan dan kesehatan masyarakat, maka percepatan kemajuan dan peningkatan kualitas pendidikan akan segera terwujud”tambahnya. “Kalau program pendidikan wajib belajar 12 tahun betul betul dapat diterapkan, maka ke depan, pasti akan meniadakan jasa TKI tanpa sertifikat karena SDM Indonesia semuanya telah melek huruf hingga level SMA. Bahkan, sudah bukan lagi katak dalam tempurung,”lanjutnya.

Revitalisasi Yogyakarta sebagai ‘Kota Pendidikan’

“Sebagai Kota pendidikan, semestinya Yogyakarta dapat mencetuskan dan menerapkan suatu visi pendidikan yang khas lokal (local genious) Yogyakarta”ungkap Casmini, Center for Teaching Staff Development (CTSD), UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mengenai sertifikasi dosen, tambahnya, banyak dijumpai kelemahan. Dosen hanya disibukkan dengan upaya melengkapi berkas – berkas sebagai syarat sertifikasi. Hal ini perlu menjadi sorotan juga, sebab menurutnya, pendidikan karakter yang diidamkan sejatinya bermula dari dosen, “Perlu pengkajian ulang mengenai program sertisikasi dosen ini”usulnya.

Menjawab sorotan mengenai DIY (Yogya) sebagai ‘Kota Pendidikan’, Haryadi Suyuti mengajak para penyelenggara pendidikan di masing – masing daerah kabupaten dan kota di DIY untuk memaksimalkan perannya dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan. “Kualitas pendidikan di DIY ini merupakan tanggung jawab dan komitmen dari semua pihak, bukan hanya di kota Yogya saja”tegasnya.

Mengenai kota pendidikan sendiri, imbuhnya, “Apa sih sebenarnya yang bisa diberikan oleh jajaran masing – masing daerah terhadap kontribusi pendididikan itu sendiri. Kalau anda sekolah di Jogja, anda akan dapat apa, ini yang harus dijawab kita bersama”. Menurut Haryadi, semestinya jawabannya adalah pendidikan murah namun tetap berkualitas, keamanan dan kenyamanan berstudi, serta kuatnya jaringan (network) ke berbagai pihak. “Jaringan Alumni Yogya yang tersebar di berbagai penjuru inilah akan sangat terasa manakala telah berada pada jenjang pekerjaan setelah studi di bangku kuliah. Mari kita cetuskan para alumni yang mampu berkompetisi, berdaya saing tinggi dan mudah mengakses lini pekerjaan”terangnya.

Selama ini, pihaknya berupaya guna menjadikan sekolah itu sebagai tempat yang paling menyenangkan bagi para pelajarnya. “Upaya ini diwujudkan dengan penindakan keras bagi para pelajar tawuran, meminimalisir tugas siswa yang terlalu memberatkan, melarang adanya hukuman fisik, perploncoan, dan lain semisalnya. Pendidikan bukan hanya mengajarkan mengenai akademik melainkan nilai (value), smart is not everything, namun pelajar berkarakter, bermartabat, dan berintegritas itulah tujuan utama”ucapnya yakin.

Sumber: http://www.uii.ac.id/content/view/1684/257/?lang=id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s