Penyerderhanaan Masalah Dalam Konflik Horizontal


Ada artikel bagus yang saya temukan pagi hari ini di Koran Tempo. Artikel yang ditulis oleh Suhardi Alius, Kepala Divisi Humas POLRI ini kiranya akan dapat lebih menjelaskan tentang permasalahan yang muncul atau menjadi sumber dari konflik sosial horizontal, sebagaimana telah mulai dipelajari oleh anak-anak SMA pada kelas XI IPS.

“Konflik adalah fenomena sosial yang selalu ditemukan di dalam setiap masyarakat”, demikian Suhardi Alius memulai artikelnya. Konflik tidak pernah bisa dihilangkan karena setiap hubungan sosial mempunyai potensi menghasilkan konflik. Semakin demokratis sebuah negara, semakin besar kemungkinan terjadinya konflik di dalam masyarakat, karena gesekan-gesekan antar-kelompok di dalam masyarakat semakin intens.

Karena itu, salah satu persyaratan terpenting bagi demokrasi adalah ada kemampuan dari pemerintah dan rakyat dalam menyelesaikan konflik sehingga tidak menimbulkan disitegrasi sosial dan disintegrasi politik. Kenyataan yang kita hadapi, bentrokan di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat bukan semakin surut melainkan terus terjadi di berbagai daerah dengan berbabagi macam latar belakang, termasuk isu SARA, yang sangat rentan diprovokasi.  Seakan solusi melalui lintas tokoh masyarakat serta bantuan pihak keamanan yang tergelar dengan berbagai macam konsep tidak berfungsi, malah kerapkali masih memiliki celah sehingga kembali bergolak. Konflik yang berkembang menjadi konflik kekerasan yang dapat menganggu hubungan sosial dan mengancam keberadaan masyarakat, bahkan dapat mengakibatkan disintegrasi sosial dan disintegrasi politik. Masyarakat akan terbelah sesuai dengan polarisasi yang ditimbulkan oleh konflik.

Kita seolah kehilangan jati diri, di mana bangsa kita yang dulu begitu terkenal dengan keramahtamahan, sopan santun, penuh senyuman, kekeluargaan, dan kegotongroyongan, sekarang berubah menjadi sangat sensitif, bahkan terkesan bahwa kekerasan adalah sebuah solusi.

Sehubungan dengan hal tersebut, negara didesak oleh banyak pihak untuk mengerti akar masalah konflik yang belakangan merebak di berbagai bagian Indonesia. Karena itu, memang sangat perlu memahami akar masalah berbagai konflik kekerasan yangterjadi saat ini. Konsep pemahahaman terhadap masalah yang timbul tidak hanya dibahas dan dikomentari di muara atau dihilir, tetapi secara bijaksana dan kejernihan hati harus dilihat apa yang terjadi di hulu, yang mungkin potensi konfliknya tidak terkelola dengan baik sehingga berdampak seperti yang akhirnya terjadi.

Permasalahan dihulu sejatinya bukan domain tugas dari kepolisian saja. Tetapi juga menjadi tugas dan tanggung jawab dari aparat pemerintah dan masyarakat. Tanpa pemahaman itu, aparat keamanan hanya akan terus menjadi “pemadam kebakaran” yang dipaksa menyelesaikan dan menengahi konflik yang sudah meletus.

Menganalisis konflik dapat diawali dengan mengindentifikasi atas sumber-sumber penyebab dan faktor pemicu. Penyebab adalah kondisi tertentu yang berpotensi menghasilkan konflik. Sering penyebab ini menjadi faktor tersembunyi (laten) sepanjang tidak ada faktor atau kejadian yang mengubahnya menjadi konflik terbuka (manifest).

Dalam istilah kriminologi dan terminologi kepolisian, potensi demikian disebut faktor korelatif kiriminogen (FKK) yang apabila tidak baik dikelola kan menjadi kerawaan police hazard (PH) dan akhirnya menjadi peristiwa/ancaman faktual (AF).

Konflik akan pecah jika terdapat faktor pemicul yang muncul secara kebetulan ataupun disengaja. Pihak yang memperoleh keuntungan dari timbulnya konflik berusaha menciptakan faktor pemicu. Banyak variabel yang menjadi latar belakang/akar masalah, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Sehingga penyebab konflik horizontal tidak bisa hanya disederhanakan sebagai misalnya perkelahian remaja atau pemuda. Jika demikian kajian permasalahan hanya menyentuh di permukaan, tidak pernah menyentuh ke dalam akar permasalahan, karena hal-hal tersebut hanyalah faktor pemicu dari akar konflik yang telah mengendap sekian lama di berbagai daerah.

Persoalan konflik horizontal tidaklah sesederhana yang muncul di permukaan, melainkan membentang mulai persoalan kebijakan, kesenjangan sosial, ketimpangan pembangunan, hingga kepentigan-kepentingan tertentu. Kerjasama yang baik antara kepolisian dengan institusi pemerintaha yang lain termasuk aparat di daerah dan tokoh-tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk menemukan sumber atau akar konflik. Peran media massa pun diharapkan, sehingga berita atau informasi yang disiarkan menjadi bagian dari solusi menyelesaikan masalah serta menjadi sarana instropeksi terhadap berbagai kekurangan yang harus diperbaiki.

Demikain renungan yang pagi ini disampaikan oleh Kepala Divisi Humas POLRI, Bapak Suhardi Alius, melalui Koran Tempo, Rabu 28 November 2012, halaman A11.

3 thoughts on “Penyerderhanaan Masalah Dalam Konflik Horizontal

  1. boleh tanya yg tidak berkaitan dgn post di atas pak?
    begini lho pak mengenai posting di wordpress, ketika memindah file yang ingin di upload ke wp Pak Agus menata ulang formatnya tidak, atau format susunan paragraf yang ada di ms word tidak kacau ketika dipindah ke wp? karena saya lihat post Bapak tidak banyak yang menggunakan format
    misalnya :
    1. a.
    b.
    c.
    dst, jadi kebanyakan file pdf dan postingan berparagraf begitu Pak, itu menurut saya, sebelumnya bila ada kesalahan, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya🙂 terima kasih Pak Agus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s