Folkways dan Mores


fwPada beberapa kesempatan pembelajaran di kelas sosiologi muncul pertanyaan siswa tentang sebenarnya apa perbedaan antara folkways dan mores. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini sehingga siswa memiliki pemahaman yang sebenarnya tentang folkways dan mores. Ketidakmudahan ini karena antara lain adanya relativitas norma, bahwa suatu tindakan pada masyarakat tertentu merupakan mores, tetapi di masyarakat yang lain bisa saja hanya sebatas folkways.

Dalam bukunya “Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Edisi 6. Jilid I”, James M. Henslin menjelaskan bahwa “norma-norma yang tidak ditegakkan secara tegas disebut folkways”.

Orang-orang mengharapkan untuk menaati folkways, tetapi orang-orang tidak mempermasalahkan ketika seseorang tidak melaksanakannya. Ketika ada pengendara sepeda motor yang mendahului Anda dari sebelah kiri, Anda cenderung untuk tidak melakukan tindakan koreksi, hanya mungkin akan merasa kesal apabila tindakan tersebut telah membuat Anda tidak nyaman. Itulah folkways atau kebiasaan.

Jika diterjemahkan menurut kata-katanya (etimologis), folkways itu berarti tata cara (ways) yang dikerjakan atau diikuti oleh orang banyak, rakyat, atau orang kebanyakan (folk). Dalam beberapa literatur sosiologi, folkways digunakan untuk menyebut seluruh norma-norma sosial yang terlahir dari adanya pola-pola perilaku yang diikuti oleh orang-orang kebanyakan di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan rumusan lain, folkways adalah cara yang dilakukan secara berulang-ulang dan ajeg dalam realita kehidupan sehari-hari  (Soetandyo Wignyo Subroto, 2006).

Termasuk dalam folkways adalah kebiasaan dalam praktik kehidupan sehari-hari, seperti berapa kali makan dalam sehari, bagaimana kita harus mengenakan pakaian, bagaimana cara tubuh ini harus dirawat dan dibersihkan, dan seterusnya. Dengan adanya folkways maka urusan hidup warga masyarakat dapat lebih dipermudah dan diringankan. Orang tidak perlu memikirkan dengan cara apa suatu urusan harus dikerjakan, karena folkways dapat menjadi pedoman.

Mores merupakan norma yang dianggap lebih serius. Kita menganggapnya penting bagi nilai inti kita dan kita menuntut konformitas terhadap norma tersebut. Seseorang yang mencuri, memperkosa, atau membunuh telah melanggar beberapa di antara mores terpenting dalam masyarakat. Terkait dengan ini Ian Robertson (1987) menulis: “Seorang laki-laki yang berkeliaran di jalan dengan tidak mengenakan apapun di bagian atas tubuhnya, ia telah melanggar folkways; seorang laki-laki yang bekeliaran di jalan tanpa mengenakan apapun yang menutup bagian bawah tubuhnya telah melanggar salah satu mores terpenting, yaitu “keharusan” seseorang untuk menutup kemaluannya”.

Kesamaan antara mores dengan folkwayas adalah, pertama: kenyataan bahwa keduanya tidak jelas asal-usulnya dan lahir tanpa direncanakan. Dasar eksistensinya tidak pernah dibantah, dan kelangsungsangannya relatif besar, karena didukung oleh tradisi. Kesamaan yang kedua: dipertahankan dengan sanksi-sanksi yang bersifat informal dan komunal, berupa sanksi-sanksi spontan dari kelompok-kelompok sosial atau warga masyakat pada umumnya.

Walaupun ada kesamaan-kesamaan, tetapi mores tetap lebih dipandang secara moral sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat, pelanggaran terhadap mores selalu dikutuk sebagai suatu yang secara moral tidak dapat dibenarkan. Kebenaran suatu mores sering dianggap tidak  perlu diganggu gugat oleh masyarakat. Sedangkan folkways masih secara leluasa dipertanyakan kebenarannya.

Mores sering dirumuskan dalam bentuk negatif, berupa sebuah larangan keras, yang disebut tabu (taboo), misalnya taboo incest (larangan perkawinan antara orang-orang yang masih memiliki hubungan darah). Termasuk tabu juga, seorang isteri yang melakukan hubungan seksual dengan orang yang bukan suaminya. Di beberapa tempat sanksinya dapat sangat keras, tidak hanya menjadi bahan pergunjingan, tetapi dipermalukan dengan cara diarak bugil, atau denda material untuk pembangunan di daerah itu.

Yang perlu ditekankan adalah “kebiasaan” pada suatu kelompok/masyarakat dapat saja merupakan “mores” di kelompok/masyarakat lain.  Seorang laki-laki yang berkeliaran di jalan tanpa menutup tubuh bagian atasnya merupakan pelanggaran terhadap folkways, tetapi kalau itu dilakukan oleh seorang perempuan maka perempuan tersebut telah melanggar sebuah mores.

Semoga uraian singkat ini dapat lebih

Sumber:

James M. Henslin. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Edisi 6. Jilid 1. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

J. Narwoko, Bagong Suyanto, dkk. 2006. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media Group.

7 thoughts on “Folkways dan Mores

  1. Mengapa kehidupan di kota jakarta tidak cukup diatur mengunakan folkways & mores??
    mungkin ada analisa nya Juga???

    • Mbak Citra, maaf baru sempat membaca … terimakasih telah mampir di blog saya. Masyarakat kota tidak cukup ditata dengan norma-norma sosial yang tidak tertulis, semakin mengota suatu masyarakat, semakin memerlukan aturan-aturan positif dan formal (hukum/law). Salam.

  2. Mengapa kehidupan masyarakat desa yang memilik pekerjaan sebagai petani dan bersifat homogen cukup hanya diatur dengan memakai norma folkways dan mores saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s