Nilai, Norma, dan Sanksi


28330_1466537586607_1328553993_31252599_4765338_nApabila kita hendak mempelajari kebudayaan suatu masyarakat, pada dasarnya kita mempelajari nilai (value) yang dianut oleh sebagian besar warga masyarakat tersebut. Nilai merupakan ide atau gagasan mengenai kehidupan yang dikehendaki. Jika kita mengungkapkan nilai yang dianut oleh seseorang, maka kita    sama saja dengan mengungkapkan anggapan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang pantas dan tidak pantas, yang mulia atau yang hina, menurut orang tersebut. Nilai akan menjadi preferensi dan menjadi pedoman atau panduan bagi para penganutnya dalam melakukan pilihan-pilihan, dan mengindikasikan apa yang dianggap berharga bagi orang tersebut.

Setiap kelompok atau masyarakat mengembangkan harapan mengenai cara-cara yang benar untuk merefleksikan nilai-nilainya. Para sosiolog menggunakan norma (norm) untuk menggambarkan harapan-harapan tersebut, atau aturan perilaku, yang berkembang dari nilai-nilai suatu kelompok/masyarakat. 

Mereka menggunakan istilah sanksi (sanction) untuk merujuk reaksi yang diperoleh orang karena menaati atau melanggar norma. Sanksi positif (positive sanction) diberikan kepada orang-orang yang menaati norma sebagai ungkapan persetujuan atas tindakan/perilaku yang mengikuti norma. Sanksi negatif (negative sanction) diberikan untuk mencerminkan ketidaksetujuan terhadap pelanggaran norma. Sanksi positif dapat berupa materi, misalnya hadiah, piala, atau uang, atau dapat pula berupa tindakan-tindakan seperti pelukan, senyuman, tepukan di punggung, kata-kata hiburan, jabatan tangan, atau salam dengan saling menepuk telapak tangan (high fives).

Sanksi negatif dapat berupa materi, misalnya dikenakan denda oleh pengadilan, atau dapat pula berupa hal-hal yang simbolik, misalnya kata-kata keras, atau isyarat-isyarat seperti dahi yang mengkerut, tatapan mata, rahang terkatup rapat, atau acungan kepalan tinju.

Memperoleh kenaikan gaji di pekerjaan merupakan suatu sanksi positif yang menandakan bahwa yang bersangkutan telah mengikuti norma dalam bidang pekerjaannya. Namun, dipecat merupakan sanksi negatif yang menandakan yang bersangkutan telah melanggar norma.

Dengan adanya norma-norma tersebut, hidup bermasyarakat memang bukan hidup yang merdeka. Peter Berger menyatakan bahwa masyarakat adalah penjara bagi anggota-anggotanya. Bahkan, banyak orang yang menganggap norma bersifat mencekik. Maka di beberapa kebudayaan melonggarkan cekikan atau tekanan norma tersebut melalui event yang disebut dalam sosiologi sebagai “moral holiday” atau “liburan moral”. Dalam moral holiday tersebut anggota masyarakat diberi kesempatan/waktu (diizikan) untuk melanggar norma.

Liburan Moral bukan berarti  menjalankan kerusuhan, berbohong, menipu, mencuri, atau berselingkuh tanpa rasa bersalah. Ini berarti santai, menikmati situasi, menikmati kesenangan bersama-sama. Misalnya,  “mardi gras” di beberapa masyarakat Eropa yang sering berupa semacam karnaval atau aksi bermabuk-mabukan dan bugil dalam batas-batas tertentu di depan umum. Dalam keadaaan normal, aksi-aksi tersebut akan menyebabkan pelakunya ditangkap, tetapi ketika moral holiday, norma-norma yang ada dikendorkan, dilonggarkan sedikit, bukan dilonggarkan semuanya. Jika ada yang melampui batas, maka polisi sebagai agen pengendalian sosial akan menangkapnya.

Sumber:

James M. Henslin. 2006. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi. Diterjemahkan oleh Prof. Kamanto Soenarto. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

William James;  http://delightsprings.blogspot.com/2009/07/moral-holiday.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s