Pejuang (Pahlawan) Modern


November identik dengan pahlawan. Pada 10 November, di banyak tempat diselenggarakan upacara peringatan hari pahlawan dan tabur bunga di makam para pahlawan patriot bangsa. Seberapa besar hal ini menggelitik emosi dan memori kita tentang kepahlawanan? Sebuah tulisan di Harian Kompas, Sabtu 9 November 2013 kemarin mengingatkan bahwa, semoga ingatan kita tentang pahlawan tidak sekedar berhenti dengan makam pahlawan dan tugu pahlawan di Surabaya saja. Walaupun memang, pada banyak orang, setelah tujuh Pahlawan Revolusi, sudah tidak dapat lagi mengidentifikasi secara gamblang siapa patriot bangsa yang dapat dielu-elukan sebagai pahlawan nasional. Bukan saja karena tidak ada perang yang nyata atau dalam arti sebenarnya, tetapi publikasi mengenai pejuang modern, seperti penjaga perbatasan yang mempertaruhkan nyawa, sangat sedikit. Jangankan anak sekolahan, orang dewasa pun banyak yang tidak menyadari adanya pejuang-pejuang yang mengorbankan jiwa, raga, dan keluarganya demi membela negara.

Perang tidak lagi selalu antar-negara. Bayangkan betapa teroris dapat membunuh ratusan orang tak bersalah. Bahaya narkoba. Tidak saja mengancam remaja, tetapi juga orang dekat sekitar kita. Kejatuhan moral, seperti pornografi remaha, yang bisa membuat semua orang kecut dan tidak tahu bagaimana melindungi remajanya. Penggerogotan terhadap harta negara sudah dilakukan oleh oleh para koruptor yang masih bisa tersenyum lebar di depan kamera media masa. Persaingan ekonomi antar-negara yang bisa menyebabkan bangsa lain dengan semena-mena menjajah negara tanpa disadari oleh rakyatnya.  Perang yang kita hadapi sekarang sungguh bersifat multidimensional, sehingga sesungguhnya lebih berbahaya daripada perang fisik yang nyata di masa lalu. Pejuang bangsa Indonesia masa kini harusnya lebih banyak dari zaman dulu dan bahkan lebih pintar dan lebih berkualitas.

Apabila sekarang ini kita rindu sosok pahlawan patriot bangsa, sesungguhnya kita pun perlu menyadari dan menumbuhkan pejuang modern di sekitar kita, bahkan dalam diri kita sendiri. Dari program “Heroes” Kick Andy (Metro TV), kita berkenalan dengan Gendu, pejuang yang merawat 10.000 orang sakit jiwa. Kita tahu ada pahlawan ekologi seperti Babah Akong yang belasan tahun menanam bakau di Maumere sampai 23 hektare. Ada juga guru-guru sekolah di daerah terpencil dan pembuat kaki palsu yang berhasil membantu orang-orang cacat kaki dengan kaki palsu murah. Kita bisa bangga kepada walikota Surabaya yang berusaha memperbaiki hidup para wanita yang terikat utang kepada para mucikari sehingga tidak pernah terbebaskan dari profesi tercela. Kita juga punya Ignasius Jonan yang berupaya memikirkan dan memperjuangkan kebutuhan karyawan, memberi jaminan kesehatan kepada seluruh karyawan, memperbaiki sistem perkereta-apian sehingga baik penumpang, masinis, dan kepala stasiun mempunyai penghargaan diri yang lebih baik dan bisa berdampak positif kepada kualitas kerja dan kehidupan keluarganya. Bukankah mereka ini nyata sebagai pejuang walaupun tanpa senjata?

Diri yang sudah selesai

Para pejuang modern yang rela mengorbankan diri demi orang lain atau negara adalah orang-orang yang “sudah selesai” dengan dirinya sendiri. Artinya, sebagai individu sudah mengenal apa yang dibutuhkan olehnya, sudah merasa cukup dengan dirinya. Pada saat inilah ua kemudian mempunyai kelonggaran untuk memikirkan hal-hal yang lebih besar, seperti lingkungan, negara, dan kemanusiaan. Determinasinya tidak personal lagi, sehingga mereka kuat mengasah kekuatan mentalnya, seperti toleransi, disiplin diri, komitmen, dan kontrol diri. Dari sinilah kita bisa menyaksikan betapa seorang anak muda misalnya bisa berfikir untuk daerah rumahnya yang kumuh dan ingin memperbaiki nasib anak-anak di area itu. Ia ingin anak-anak di daerahnya lebih cerdas dari rata-rata dan bangga bahwa mereka itu berasal dari daerah kumuh. Ini hanya bisa dilakukan oleh individu yang telah benar-benar sudah tahu apa yang mereka mau. Orang-orang seperti ini sudah mengasah diri dengan latihan-latihan dan belajar dari lingkungannya. Apabila pada suatu saat pejuang-pejuang ini tidak mencapai apa yang ia cita-cita dan canangkan, mereka tidak kehilangan keyakinan karena menang, kalah, atau seri sekalipun adalah bagian dari latihan-latihan yang dia kembangkan setiap hari.

Menumbuhkan Mental Pejuang

Apabila kita menjadi orang yang ikut berteriak dan mencacimaki koruptor, tetapi tidak berperanserta menyingsingkan lengan baju untuk memberantas korupsi, jelas kita belum bisa mengklaim diri sebagai orang yang berguna untuk negara dan masyarakat yang lebih luas. Banyak orang, bahkan kita sendiri pun, bisa kehabisan energi untuk menyingsingkan lengan baju, bila terbiasa membiarkan diri kita ada di zona nyaman, tidak menikmati lagi berkeringat, mengotori tangan dengan bekerja keras. Padahal kemampuan, talenta, keahlian, dan kepintaran kita, tidak akan jadi apa-apa apabila tidak diikuti dengan tempaan latihan, disiplin, turun ke lapangan, kepekaan dan mawas diri. Banyak orang tidak terlatih untuk mengamati posisi dirinya terhadap lingkungan sosial, dan berusaha menerima dan memahami kebutuhannya. Kita harus sadar bahwa hanya dengan kekuatan mawas diri, spirit untuk menjadi pejuang baru akan tubuh.

Kita bisa menjadi pejuang pekerja, tetapi bukan menjadi demonstran yang tidak mau tahu keadaan saat minta kenaikan upah buruh. Banyak orang yang masih mengaitkan perjuangan dengan kekerasan, padahal sebenarnya kekerasan, apalagi terhadap orang-orang tak berdaya adalah bullying. Menjadi pejuang bangsa pada saat sekarang ini dapat dalam berbagai bentuk, misalnya memperbaiki mental individu, mental sebagai pekerja, mental sebagai apapun kita dalam masyarakat, sehingga bisa hidup secara lebih cerdas dan layak. Orang-orang yang dikategorikan sebagai pejuang sebenarnya adalah orang-orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanan dalam membela kepentingan orang yang lebih banyak, tidak melulu memikirkan atau memperkaya diri dan lingkungannya sendiri.

Setiap orang dari lingkungan dan profesi apa pun, mempunyai kesempatan untuk melatih diri agar peka pada lingkungan, mengembangkan mentalitas yang tidak memikirkan diri sendiri melainkan kepentingan yang lebih luas untuk orang banyak.  Orang-orang yang setia pada profesi atau lingkup bidang kerjanya sampai lebih banyak tidak memikirkan dirinya sendiri, inilah para pejuang modern.

Demikian. Terimakasih pada Kompas yang telah menurunkan tulisan tentang Pejuang Modern. Semoga di antara kita banyak yang akhirnya menjadi pejuang, walaupun tidak lagi dengan senjata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s