Sosiologi: dari yang sepele sampai dengan yang besar


Setelah hampir 30 tahun, sejak 1987 hingga sekarang (2016) , mengajarkan Sosiologi di tingkat SMA, ditambah beberapa kali kesempatan bertemu dengan teman-teman sesama guru yang mengajarkan Sosiologi di DI Yogyakarta, Surakarta, Magelang, Purworejo, Malang, Madiun, Sidoarjo, dan Sawahlunto di Sumatera Barat, juga kesempatan bertemu dengan para ahlinya di beberapa kampus, terutama di kampus besar UGM dan yang ada di dekatnya – UNY, saya merasa semakin tidak tahu apa-apa tentang Sosiologi. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan anak SMA yang sangat sederhana – sebenarnya Sosiologi itu ilmu murni apa ilmu terapan? Saya pun tak mampu menjawab secara sebaik-baiknya. Soerjono Soekanto, tokoh “perintis” Sosiologi di Indonesia, nyaris semua orang yang belajar Sosiologi pernah membaca salah satu karyanya, Sosiologi Suatu Pengantar, yang sampai sekarang sudah naik cetak lebih dari 35 kali dan beberapa kali berganti Edisi dan model sampul sejak 1980-an, dengan tegas menyatakan bahwa Sosiologi itu ilmu murni. Namun, melihat dan memperhatikan beberapa Sosiolog yang tidak puas bahwa karya-karya Sosiologi itu hanya mengisi halaman-halaman pada jurnal penelitian yang hanya dibaca oleh orang-orang yang ahli di bidangnya, atau paling-paling menjadi wacana perencanaan dan penyelesaian masalah dalam pembangunan, para Sosiolog menjadi semacam pemadam kebakaran ketika masyarakat terbakar oleh api konflik sosial yang tak kunjung selesai, kemudian beberapa Sosiolog mulai merambah pada upaya-upaya pemberdayaan masyarakat, bahkan –lingkungan, seperti yang dilakukan oleh Sosiolog muda alumni UGM – teman facebook saya, Rahmad K. Dwi Susilo dari Universitas Muhammdiyah Malang, atau Muhammad Jacky dari Universitas Negeri Surabaya, yang sangat peduli pada Gerakan Bela Islam, atau langkah-langkah Sosiolog yang lebih senior, Arie Djito dari UGM, yang kiprahnya di gerakan sosial dan pemberdayaan masyarakat tidak diragukan lagi, tampaknya Sosiologi akan bergerak menjadi ilmu terapan, sehingga memberikan manfaat langsung pada penyelesaian masalah-masalah dalam hidup bermasyarakat.

Sosiologi memang ilmu dengan paradigma ganda. Terdapat bermacam-macam teori. Banyak perspektif. Banyak madzab. Ruang dan waktu yang berbeda menegaskan tentang relativitasnya. Apapun akhirnya dapat jadi benar, ketika konteks dan paradigma yang digunakan sejalan.

Sosiologi memang unik. Segala hal dapat dianilisis melalui Sosiologi. Di sosiologi dapat berbicara tentang banyak hal, baik hal-hal yang baik ataupun hal-hal yang buruk, bahkan hal-hal yang terkutuk. Walaupun definisi tentang baik buruk itu pun bersifat kontekstual, karena mengenai baik atau buruknya suatu hal harus merujuk pada sistem nilai yang dianut oleh sebuah masyarakat.

Sosiologi juga berbicara mengenai hal-hal yang besar, tapi juga hal-hal yang kecil.  Dapat saja dua orang sosiolog berdebat tentang sekelompok waria yang mengamen di perempatan ber-apill (alat pengatur isyarat lalu-lintas). Misalnya tentang mereka ini menjadi waria dulu apa menjadi pengamen lebih dulu. Perdebatan dimulai. Sosiolog pertama menyatakan mereka itu jadi waria terlebih dahulu. Karena waria mereka banyak ditolak dalam banyak hal oleh masyarakat, termasuk dalam mencari nafkah. Satu-satunya peluang ya menjadi pengamen itu. Sosiolog lainnya berbeda pendapat, mereka itu menjadi pengamen terlebih dulu, agar menjadi unik dan beda dari yang lain, maka ia menampilkan diri sebagai waria. Kurang kecil apa masalah itu? Walaupun topik perdebatan itu mungkin juga penting. Misalnya untuk menggambarkan tentang pembentukan perilaku sosial.

Namun, sosiologi juga berbicara tentang hal-hal yang besar. Dalam banyak kajian Sosiologi kita mendapatkan pembicaraan tentang lembaga keluarga, agama, pendidikan, ekonomi, dan juga politik pemerintahan. Permasalahan keteraturan sosial dalam masyarakat, misalnya tentang aksi protes dan demonstrasi, berbagai macam konflik yang berlatar belakang perbedaan kepribadian, perbedaan kebudayaan, perbedaan agama, benturan kepentingan ekonomi maupun politik, terorisme, dampak bencana alam, bagaimana membangkitkan masyarakat yang baru saja mengalami bencana, banyak harta miliknya yang luluh-lantak oleh bencana, adalah persoalan-persoalan yang sangat sosiologis.

Hal tersebut sebenarnya mengandung arti bahwa sosiologi jelas-jelas mempelajari semua persoalan penting yang ada dalam kehidupan sosial, seperti masalah terorisme, bencana alam, teknologi informasi terbaru, perdagangan obat-obatan, atau perpindahan penduduk. Itu adalah persoalan-persoalan besar dalam kehidupan sosial. Tetapi, sebagaimana disebut di atas, sosiologi juga tertarik untuk berbicara persoalan-persoalan kecil dalam kehidupan sosial. Jadi dengan sosiologi – yang telah kurang lebih 30 tahun saya mengajarkannya untuk para siswa SMA di tempat saya mengajar – kita dapat menemukan pembicaraan tentang banyak topik.

Kent Plummer, seorang guru besar Emeritus Sosiologi di Universitas Essex, Inggris Raya, dalam bukunya Sociology The Basic, — Buku ini saya dapatkan di toko buku Social Agency di Yogyakarta setelah berbulan-bulan mencarinya, atas saran dari Mas Miko – doktor sosiologi di UNY – kata Mas Miko, saya harus membaca buku ini agar tidak terjebak menjadi Soerjono Soekantonian dalam mengajarakan Sosiologi ke murid-murid saya, menyatakan bahwa Sosiologi merupakan tempat yang tepat untuk menemukan beberapa topik secara cepat. Ada sosiologi mengenai Australia, sosiologi mengenai tubuh, sosiologi mengenai konsumsi, sosiologi mengenai obat-obatan dan penyimpangan, ada sosiologi mengenai pendidikan, makanan, sepakbola, dan sebagainya.

Para sosiolog mengadakan penelitian tentang banyak hal, termasuk cinta kasih, musik, dan norma-norma sosial. Mereka berbicara tentang patriarchi, sistem politik, perkosaan, bunuh diri, transgender, golongan-golongan atas dan kehidupan perkotaan, sikap dalam pemungutan suara, kesejahteraan, olahraga ekstrem, kepemudaan, sikap-sikap dan kebijakan intoleran, dan masih banyak lagi. Pada dasarnya semua persoalan yang mencakup orang-orang yang berinteraksi sosial, maka hal itu merupakan objek kajian sosiologi. Di mana pun terdapat permasalahan sosial, maka para sosiolog dapat menelitinya. Karenanya, kadang teman-teman yang non-sosiologi menertawakan sosiologi karena kadang mempelajari hal-hal yang kelihatannya tidak masuk akal, aneh, atau tampak sepele.

Seorang profesor teknik dari UNY yang menjabat sebagai ketua komte sekolah pada sebuah SMA di Yogyakarta, pada suatu kesempatan berbincang-bincang dengan saya, dan menanya pelajaran apa yang saya ajarkan di SMA, maka saya jawab Sosiologi. Beliau pun akhirnya bercerita bahwa telah dengan sangat cepat menyelesaikan studi ilmu sosialnya, karena kata beliau ilmu sosial itu dapat diterka-terka. Beliau ini memang dikenal memiliki gelar akademik yang cukup banyak, dan ketika gelar-gelar itu dilekatkan pada nama, sebuatan gelar-gelar itu lebih panjang dari nama beliau. Dan, ketika itu saya nyatakan kepada beliau bahwa, walaupun topik-topik dalam ilmu sosial itu tampak sepele dan mudah diterka-terka, tapi hal tersebut pasti merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia.

Jadi, apakah Sosiologi memang lucu?

Subjudul ini saya kutip dari Plummer. Sosiologi “Tiga T”. Plummer dalam buku tadi yang saya sebut, memberikan tiga contoh yang lucu, tiga T: Sosiologi Tomat, Sosiologi Toilet, dan Sosiologi Telepon. Benar, ketika membaca subjudul ini saya tertawa. Mosok, sih? Tomat, toilet, dan telepon, dan ini benar-benar membawa saya pada gambaran atau citra buruk Sosiologi. Tetapi setelah membacanya, tiga T itu sebenarnya berbicara tentang hal besar.

T pertama: Tomat. Tomat ternyata hal besar. Seorang profesor menemukan sejarahnya dari tarian salsa Suku Aztec, menyambung ke botol kecap Heinz yang terkenal dan sampai pada pizza model terbaru dan koktail Mary yang berwarna seperti darah. Tomat ternyata selalu mengalami perubahan dalam hal produksi, harga, dan cara mengonsumsinya. Profesor tersebut juga melihat kegunaan tomat pada masyarakat kapitalis zaman sekarang, dan ternyata tomat merupakan pelopor produksi massal dan memberi kontribusi kontemporer dalam menciptakan resep-resep masakan dunia. Dan, ternyata sekarang ini jenis-jenis tomat yang dapat dijumpai di supermarket semakin terstandar dan banyak macamnya. Cerita singkatnya, ternyata tomat telah memberikan banyak uang kepada para pemilik supermarket. Dan ini sebenarnya adalah hakekat sejarah mengenai kapitalisme. Tomat itu menjadi alasan terjadinya interaksi antara petani tomat, tengkulak tomat, pemilah tomat mana yang masuk pasar tradisonal, mana yang masuk supermarket, mana yang akan dikonsumsi oleh kelas sosial bawah, menengah, dan atas, kelas bawah akan mengonsumsi tomat sebagai campuran mie godok Jawa di pinggir jalan, kelas menengah atas akan mengonsumsi tomat sebagai campuran makanan berlabel pizza, burger, dan semacamnya.

T Kedua: Toilet. Menganai apakah kiranya sosiologi toilet itu? Toilet ternyata menjadi dasar dunia modern kita saat ini. Siapa di antara Anda yang tidak menggunakannya? Toilet siram dikenal di seluruh dunia. Kita menyebutnya sebagai WC dan, sekali lagi, merupakan simbol modernitas. Di tahun 1960-an di masyarakat kita, WC merupakan simbol kekayaan. Hanya rumah-rumah orang kaya lah yang ada WC-nya. Kabarnya, ada sekitar dua setengah milliar orang yang membuang air besar dan air kecil di tempat terbuka, bisa kebun, sungai, kolam ikan, atau semak-semak. Bayangkan mengenai bau dan pemandangannya yang tentu saja tak sedap. Juga, ini adalah masalah kesehatan dan lingkungan. Sanitasi yang buruk, penyebar penyakit. Jadi, sosiologi toilet sebenarnya adalah mengenai kesehatan dan modernitas. Ternyata, perubahan sanitasi di Abad ke-19 merupakan faktor penentu perubahan tingkat kesehatan dan penyakit.

Toilet dapat berarti juga berbicara tentang kesenjangan sosial. Orang-orang kaya membangun toilet mewah di rumahnya dengan standar kebersihan yang sangat terjaga. Mereka dapat membaca buku, menonton televisi, mendengarkan musik, atau bahkan istirahat dan tidur di toilet. Lalu bagaimana dengan toilet orang miskin? Banyak orang tidak betah untuk berlama-lama di dalamnya. Bau khas toilet dan rokok.

Toilet juga berbicara tentang penyimpangan. Beberapa kasus dimuat di koran tentang orang-orang yang memanfaatkan toilet sebagai tempat mesum, dan mereka digrebek oleh petugas keamanan terminal. Sosiolog Laud Humphreys bercerita tentang bagaimana toilet digunakan oleh kaum heteroseksual, dan para pengguna rutin toilet tidak menyadari adanya aktivitas homoseksual di toilet laki-laki.

T terakhir: telepon. Bagaimana dengan Sosiologi telepon? Mungkin inilah alat komunikasi yang telah membawa perubahan besar pada kehidupan sosial. Setelah ditemukan pada sekitar tahun 1876, telepon secara bertahap mulai menyebar penggunaannya dari beberapa ribu pengguna dari kaum elit hingga berbagai lapisan masyarakat dan mendunia. Pada tahun 2007, ada lebih dari tiga milliar pengguna telepon genggam, dan itu merambah sekalipun di keluarga dengan penghasilan rendah. Ratusan juta orang sekarang ini telah memiliki telepon genggamnya masing-masing.

Telepon telah mengubah bagaimana orang-orang saling berinteraksi. Telepon genggam sekarang ini dikenal sebagai smart phone, telepon cerdas, dan telah membuat orang dalam keadaan kontak terus-menerus. Orang-orang dapat berinteraksi kapanpun dan di manapun. Kiranya banyak Sosiolog telah menulis tentang dampak dari penggunaan telepon seluler, termasuk perubahan bahasa, akhirnya orang-orang menjadi lebih terbiasa berkomunikasi dengan teks dari pada lisan. Banyak aktivitas bersama yang akhirnya tergantikan oleh komunikasi virtual. Jadilah masyarakat maya, jejaring sosial. Masyarakat facebook, twitter, instagram, dan semcamnya terbentuk setelah telepon berubah menjadi telepon pintar.

Demikianlah, tulisan ini mengawali saya dalam membangkitkan blog ini, setelah tulisan terakhir saya tulis di blog ini kurang lebih tiga tahun yang lalu. Semoga bermanfaat.

Salam

Agus Santosa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s