Pengalaman Mengikuti OGN 2017 di Yogyakarta


dcd74765-1adc-4a9d-94ba-072d8b539c4aSepulang dari jamaah shalat subuh pagi ini, Ahad, 23 Juli 2017, keinginan untuk menuliskan pengalaman saya mengikuti OGN (Olimpiade Guru Nasional) 2017 Bidang Sosiologi alhamdulillah dapat saya mulai. Ini adalah pengalaman pertama saya, dan mungkin terakhir, mengikuti lomba. Ada banyak rasa yang terlintas di pikiran saya, terkadang merasa lucu dan kurang percaya diri, dalam usia yang kurang lebih tiga tahun lagi harus menjalani purna tugas atau pensiun sebagai seorang guru pegawai negeri sipil, masih sempat mengikuti sebuah lomba. Tapi juga merasa dapat memotivasi dan menginspirasi guru lain terutama kepada para guru yang masih berusia muda untuk  selalu bersemangat dalam menjalani profesi guru. Dalam perjalanan ke Mesjid Mujahidin Kampus UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) setelah acara penutupan OGN 2017 untuk menjalankan ibadah Jumat, pundak saya ditepuk oleh seorang guru muda yang berasal dari Bogor, “Bapak, saya kagum dan sekaligus malu kepada Bapak, saya yang lebih muda ini kalah semangat dari Bapak. Terimakasih, pak. Bapak telah menginspirasi saya untuk tetap bersemangat”.  Saya menoleh dan tersenyum, serta mengucap spontan “kita harus tetap bersemangat, itu penting. Kalau kita tampak nglokro di depan  murid-murid kita, sangatlah tidak indah”, tanpa berfikir bahwa guru muda dari Bogor yang saya lupa menanyakan namanya itu tidak tahu apa arti kata dalam bahasa Jawa nglokro itu. Saya bersyukur, telah dapat menginspirasi setidaknya kepada seorang guru matematika muda itu.

Menang WO di tingkat Kota Yogyakarta

Kronologi mengikuti OGN 2017, berawal dari menang “W.O.” (Walk Over, meminjam istilah di pertandingan olah raga dan lainnya, seseorang atau sekelompok peserta lomba dianggap menang karena “lawan”-nya tidak hadir) di tingkat Kota Yogyakarta. Pada kurang lebih bulan April 2017, sebagai Ketua MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kota Yogyakarta, saya mendapatkan pesan melalui aplikasi WA (WhatsApp) dari salah seorang staf Balai Dikmen (Pendidikan Menengah) Kota Yogyakarta – Mbak Rini, bahwa ketua MGMP diminta mengadakan seleksi guru untuk mengikuti OGN sesuai bidang ilmunya masing-masing di Tingkat DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta). Saya pun akhirnya membuat semacam pengumuman melalui group WA Guru Sosiologi Kota Yogyakarta. Terjadi sahut-sahutan respon di group WA oleh para anggota group tentang siapa yang harus maju pada OGN DIY, walaupun sampai batas waktu akhir pengajuan nama tidak ada satu pun guru sosiologi yang bersedia. Saya pun melapor ke Balai Dikmen Kota Yogyakarta, melalui pesan WA kepada mbak Rini staf Balai Dikmen, bahwa MGMP Sosiologi belum bisa mengirimkan nama, dan oleh mbak Rini diberi toleransi waktu sampai Senin. Ketika itu hari Jumat.

Kembali saya menyampaikan kepada teman-teman guru Sosiologi Kota Yogyakarta tentang hal ini, tetapi hingga Senin saya belum berhasil mendapatkan nama atau memaksa salah seorang guru pun yang bersedia mengikuti OGN. Sampai akhirnya, Selasa, 25 April 2017, ketika itu saya dalam perjalanan pulang dari acara silaturahmi tentang penyusunan soal USBN dengan teman-teman MGMP Sosiologi Kabupaten Temanggung di SMA Negeri 1 Temanggung, mbak Rini menelpon saya bahwa untuk Sosiologi harus ada wakilnya, dan oleh Ibu Kepala Balai Dikmen diputuskan saya yang harus mewakili Kota Yogyakarta dalam OGN Sosiologi. Apapun alasan dan keberatan yang saya sampaikan kepada beliau tidak diterima, “Pokoknya Bapak yang saya daftarkan, sesuai dengan yang diputuskan ibu Kepala Balai Dikmen”, demikian kalimat terakhir mbak Rini melalui telepon pada waktu itu. Demikianlah, artinya saya menang “WO” dalam OGN di tingkat kota Yogyakarta.

Waktu terus bergulir, saya telah lupa tentang hal itu, sampai mendapat undangan dari Balai Dikmen Kota Yogyakarta untuk datang mengikuti pengarahan kepala Balai Dikmen kepada peserta OGN, guru dan pengawas berprestasi yang akan maju di tingkat DIY, pada Jumat, 28 April 2017.  Saya pun memenuhi undangan itu, dengan tekat sekedar menjalankan tugas. Dinformasikan dalam pengarahan itu bahwa seleksi di tingkat DIY akan diselenggarakan pada antara  3 sampai dengan 4 Mei 2017. Saya pun senang, karena ketika pertemuan pengarahan berlangsung saya mendapat pesan Ibu Arie Tristiani dari Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jenderal Dikdasmen, bahwa saya diminta untuk menjalankan tugas dalam pendampingan penyegaran IK (Instruktur Kabupaten) Kurikulum SMA 2013 di Propinsi NTB (Nusa Tengggara Barat),  saya berfikir tugas ini dapat menjadi alasan untuk tidak mengikuti seleksi OGN di DIY, karena hari tanggal pelaksanaannya berhimpitan. Ternyata, seleksi OGN DIY  dilaksanakan pada Selasa, 16 Mei 2017. Saya pun harus mengikutinya karena tidak memiliki alasan untuk menghindarinya.

Seleksi di tingkat DIY

Tanpa persiapan yang berarti, saya mengikuti seleksi OGN di DIY, pada Selasa, 16 Mei 2017. Datang tepat waktu, artinya begitu sampai di tempat pelaksanaan di Kantor Dinas Dikpora (Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga) DIY, tes seleksi pun dimulai. Tidak sempat berlama-lama ngobrol dengan teman-teman dari kabupaten lain atau bidang lain. Terus terang pada kesempatan ini saya tidak percaya diri, karena merasa sudah tidak pada waktunya lagi mengikuti lomba. Kesadaran tentang usia saya membuat saya berperasaan seperti ini. Ini mestinya kesempatan bagi yang masih muda. Dengan semangat “sekedar menjalankan tugas” dari Ibu Rr. Suhartati (saya memanggilnya mbak Tatik)  Kepala Balai Dikmen Kota Yogyakarta, saya mengikuti seleksi OGN Bidang Sosiologi tingkat DIY.

Tidak mau (takut) malu di tingkat Nasional

Saya lupa tepatnya hari dan tanggal, tetapi itu terjadi di pertengahan Juni 2017, sepulang dari kerja, seperti biasanya saya duduk di kursi kerja di rumah dan membuka HP (Handphone), ternyata banyak ucapan selamat dari teman-teman di grup WA dan pesan pribadi, bahwa saya masuk menjadi salah satu dari 15 finalis OGN Tingkat Nasional bidang Sosiologi. Mengapa 15? Mengapa tidak semua provinsi ada wakilnya?  Ternyata, nominasi itu didasarkan pada pemeringkatan secara nasional. Nilai dari tes seleksi di tingkat provinsi diolah secara nasional kemudian diambil 15 terbaik. Kembali perasaan tidak nyaman muncul di pikiran dan hati saya, dan itu terbawa sampai saya tidur dan bangun kembali pada kurang lebih pukul 03 pagi, bahkan sampai perjalanan saya ke Mushola Kampung untuk berjamaah shalat subuh.

Setelah adzan dan shalat sunnat, dalam duduk menunggu waktu iqomat, pikiran tidak nyaman karena berbagai alasan itu pun masih terasakan. Tapi, tiba-tiba muncul pikiran lain, bahwa saya tidak boleh, atau tepatnya takut, mendapatkan malu di OGN Tingkat Nasional. Maka saya berniat dan bertekat untuk mengikutinya dengan sebaik-baiknya dan tidak sekedar menjalankan tugas. Saya pun menyiapkan diri, langkah pertama yang saya lakukan mencari tahu tentang OGN  di internet. Informasi dari internet tidak memuaskan. Saya pun menghubungi seorang teman  di MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta, Ririn Wahyu Priyanti – Guru Sosiologi di SMA Negeri 5 Yogyakarta, yang pada OGN 2016 meraih prestasi mendapatkan Medali Perak. Dari mbak Ririn saya mendapatkan informasi yang cukup memadai. Saya pun bertekat menyiapkan diri sebaik-baiknya, sampai akhirnya mendapatkan undangan mengikuti OGN Tingkat Nasional dari Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan yang akan diselenggarakan di Yogyakarta mulai Selasa sampai dengan Jumat, tanggal 18 sampai dengan 21 Juli 2017. Sebenarnya saya mengharapkan OGN Tingkat Nasionalnya diselenggarakan di kota lain, sehingga sekaligus saya dapat menikmati perjalanan ke kota lain.

Pada undangan jelas disampaikan apa saja yang harus disiapkan oleh peserta, kurang lebih ada 13 poin. Kembali perasaan tidak percaya diri muncul di pikiran dan hati saya. Di antara 13 poin persyaratan, yang kemudian membuat gundah adalah bahwa setiap peserta harus membuat tulisan Best Practice, sebuah tulisan tentang praktik baik yang pernah dilakukan guru dalam menjalankan profesi keguruannya. Sepanjang menjalankan profesi guru sejak 1987, saya belum pernah menuliskan praktik baik ini. Agar tidak mendapatkan malu di tingkat nasional, saya pun harus belajar tentang penulisan praktik baik ini.

Menuliskan Best Practice

Sadar belum pernah mendapatkan ilmu tentang bagaimana menuliskan praktik baik menjadi sebuah tulisan BP (best practice), saya pun mencari tahu tentang hal ini, dan seperti biasanya, langkah pertama adalah mencarinya di internet. Kecuali itu, saya pun bertanya kepada guru-guru di sekolah tempat saya mengajar yang menurut pengetahuan saya tahu banyak tentang BP.  Pertama kepada pak Didik Purwaka, guru pembimbing OSN dan OPSI, cukup banyak informasi dari pak Didik. Banyak hal tentang BP juga saya dapat dari Guru Pembimbing TIK, Bu Devy Estu Anna Putri yang baru saja menyelesaikan studi S2-nya, juga dari pak Ichwan dan bu Nanik Rahayu. Merujuk pada seluk-beluk per-BP-an yang telah saya dapatkan, saya pun mengingat-ingat, tepatnya mencari-cari, praktik baik apa yang pernah saya lakukan di sekolah ini.

Suatu pagi saya mengungkapkan tentang kebingungan saya, tepatnya mengeluh, kepada pak Ichwan Aryono, guru fisika dan wakasek kurikulum yang meja kerjanya di samping saya. “aku ra duwe praktik baik sik tau tak lokoni nggon mulangke sosiologi, je. Padahal nggon OGN kudu gawe best practice” demikian keluhan saya dalam bahasa Jawa kepada pak Ichwan pagi itu. Dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya, saya tidak punya pengalaman praktik baik dalam mengajarkan sosiologi, padahal dalam mengikuti OGN harus punya tulisan tentang BP. Spontan pak Ichwan menjawab dalam  bahasa Jawa, “lha nek bocah-bocah do klarahan nang ngisor kae, jarene iso luwih detail memperhatikan murid”, artinya kurang lebih “kalau anak-anak belajar sosiologi sambil lesehan di lantai itu, katanya menjadi lebih punya waktu untuk memperhatikan murid”.  Saya memang sering dan cenderung membelajarkan siswa-siswa saya dalam suasana yang santai dan dengan rasa senang. Para murid belajar sosiologi dapat di mana saja, kadang duduk-duduk lesehan di sepanjang teras (koridor) di depan kelas, kadang di taman kotak, taman bundar, atau di bawah pohon yang sangat rindang di halaman tengah sekolah. Kadang yang lain, menonton film di ruang multi media 1.

Suatu malam, tiba-tiba saya mendapatkan ide tentang apa yang harus saya tulis menjadi tulisan BP. Ketika itu kurang lebih jam sembilan malam, saya teringat tentang kegelisahan saya yang tidak pernah saya tampakkan di hadapan siapa saja, bahwa anak-anak IPS SMA Negeri 3 Yogyakarta itu adalah anak-anak yang berpotensi untuk prestasi tinggi, tetapi mengapa hasil UN (Ujian Nasional)-nya, khususnya sosiologi, akhir-akhir ini tidak pernah menjadi yang terbaik di DIY. Saya merasa pembelajaran sosiologi kurang menarik bagi anak-anak murid saya dari segi konten atau materinya. Murid-murid pun kurang aktif dalam belajar. Di kelas sosiologi saya masih sering mendapatkan beberapa murid saya yang tidak konsen dalam belajar, bahkan di kelas pembelajaran sosiologi masih saja ada yang membicarakan hal-hal yang di luar topik pembelajaran. Mereka –anak-anak-anak murid saya itu– hanya tertarik oleh gaya kesantaian saya dalam membelajarkan sosiologi kepada mereka. Pemahaman mereka tentang sosiologi kurang maksimal. Dalam penilaian harian maupun penilaian akhir semester, masih saja ada yang capaian kompetensinya di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum). Sangat jarang yang mencapai kriteria nilai AMAT BAIK. Paling banyak pada nilai BAIK atau CUKUP saja. Padahal mereka adalah murid-murid terbaik di DIY,

Saya ingat, dalam silaturahmi dan berbagai pakai informasi antara MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta dengan para dosen Departemen Sosiologi UGM pada sekitar bulan Nobember 2016, hari tanggalnya lupa,  ada Pak Arie Djito, pak Najib Azca, pak Andreas, mbak Wahyu, mbak atau bu Amel, pak Muhammad Supraja, dan lain-lainnya, kami sempat mendapatkan pencerahan dan juga tentang ketegasan tentang “kebenaran konsep” sosiologi yang ada di buku-buku sosiologi SMA yang beredar di pasaran buku sekolah. Pada pertemuan itu juga, kami mendapatkan beberapa film dokumenter yang dapat digunakan sebagai media untuk lebih memahamkan murid terhadap konsep-konsep bahan-bahan kajian sosiologi. Saya ingat bahwa beberapa film dokumenter dari UGM itu pernah saya gunakan sebagai media membelajarkan anak-anak murid saya tentang konflik, kekerasan, dan perdamaian.  Dua film yang saya gunakan, yaitu “Di Belakang Hotel”, sebuah film tentang permasalah seputar dampak dari menjamurnya hotel-hotel di Yogyakarta, dan “Samin versus Semen”, yaitu film tentang konflik yang muncul sebagai dampak dibangunnya pabrik Semen di kawasan Gunung Kendeng Jawa Tengah. Pembelajaran dengan media film ini saya pikir merupakan praktik baik yang pernah saya lakukan. Model pembelajaran yang saya gunakan ketika itu adalah student created case study, atau studi kasus. Model pembelajaran ini menyerupai Problem Based Learning, tetapi dalam bentuk yang lebih sederhana, objeknya adalah peristiwa yang secara nyata terjadi dalam masyarakat. Maka, saya tulis BP tentang itu.

Tulisan BP  versi pertama sejumlah 13 halaman, mengikut ketentuan sistematika yang wajib diikuti oleh peserta OGN yang ditetapkan oleh panitia di Kesharlindung (Kesejahteraan dan Perlindungan) Dirjen GTK. Saya belum yakin tentang BP saya. Saya pun konsultasi dengan guru muda di sekolah saya, pertama naskah itu saya tunjukkan ke pak Didik Purwaka. Beberapa masukan saya dapatkan dari pak Didik, sehingga tulisan saya memenuhi kriteria sebagai BP yang baik.

Pada kesempatan diberikan pengarahan dan pembekalan oleh Dinas Dikpora DIY, dalam forum itu dihadirkan untuk memberikan informasi adalah guru-guru yang pernah mengikuti dan mendapatkan kejuaraan di OGN tahun sebelumnya, saya tunjukkan BP yang saya tulis dan telah saya perbaiki kepada peraih perak OGN Sosiologi 2016, Bu Ririn Wahyu Priyanti. Tak ada masukan darinya, kecuali ucapan “Ya, seperti ini. Ok. Siap maju OGN dan mendapatkan medali emas”. Saya tahu maksud teman saya yang juga sekretaris di MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta itu untuk memberikan semangat, tetapi justru ini menjadikan saya dalam tekanan berat karena merasa tidak akan mampu mewujudkan itu.

Tulisan BP saya insya Allah semakin baik setelah saya dipertemukan dengan Prof. Idris Harta, MA, Ph.D. dalam pertemuan yang difasilitasi Dinas Dikpora DIY.  Walaupun hanya dalam waktu singkat, Prof. Idris telah memberikan arahan, bimbingan, pembetulan, dan juga melakukan tes similarity atas karya BP dari semua finalis OGN dari DIY. Berdasarkan bimbingan yang berlangsung kurang lebih hanya dua jam itu, saya membenahi BP yang saya tulis. Hasil tes similarity BP yang menunjukkan angka 5 persen (konon kabarnya kalau dari tes similarity dihasilkan angak 20 persen atau lebih, maka karya itu dinyatakan hasil plagiarisme)  membuat saya memiliki kepercayaan diri atas BP yang saya tulis. Pada dua hari menjelang deadline pengiriman BP, saya merasa telah cukup dalam membenahi BP, maka saya kirimkan BP ke panitia pusat melalui e-mail pada 13 Juli 2017. Plong rasanya. Tinggal menyiapkan diri dan menunggu waktu untuk datang di Arena OGN 2017 di Hotel UNY Yogyakarta.

Di Arena OGN: Mengikuti OGN dalam tekanan pikiran

Tibalah hari yang ditentukan. Selasa, 18 Juli 2017, kurang lebih pukul 12.20 WIB, setelah shalat dhuhur berjamaah di Masjid Kampus UNY yang megah, saya pun check in di Hotel UNY. Kepada panitia saya menyerahkan persyaratan peserta, termasuk BP. Perasaan deg-degan pun muncul, telah hadir banyak finalis dari provinsi lain. Sambil menunggu acara ceramah penguatan karakter peserta didik yang akan disampaikan oleh Prof. Suyanto, dosen senior UNY, mantan Rektor UNY,  dan mantan Dirjen Mandikdasmen, saya sempat bertemu dengan para finalis Bidang Sosiologi yang ternyata beberapa saya telah mengenalnya. Ada pak Abdul Wahab, Guru SMA Madania Bogor, kebetulan pernah bertemu pada acara Diklat IN Kurikulum 2013 di Sawangan Bogor pada Januari 2016, ada Bu Widi Hidayati, anggota MGMP Sosiologi Kabupaten Banjar Negara yang pernah mengundang saya pada acara Workshop USBN MGMP Sosiologi Banjar Negara, ada Bu Rita Indawatik, dari SMA Negeri 2 Sragen, teman yang aktif di grup WA IGMP Sosiologi Indonesia, ada Pak Iwan Priyono dari Magelang, dengan pak Iwan saya pernah bertemu di Kegiatan MGMP Sosiologi Kabupaten Magelang, ada pak Ismail dari SMA N 12 Semarang, seorang IP (Instruktur Propinsi) Kurikulum 2013. Dengan beberapa teman yang lain belum pernah bertemu. Saya mulai mengenal mereka pada acara esuk hari sebelum menuju ke kampus FIS UNY untuk mengikuti workshop eksperimen, ada mbak Asteria, seorang guru yang masih sangat muda dari SMAN CMBBS Banten, ibu Sukarlin dari SMAN 3 Bengkulu, Ibu Vivih Hartati dari SMA Dwi Warna Bogor, Pak Firman Fajar dari SMA IT Nurul Fikri Depok, Ibu Nurul Khatimah, dari SMAN 1 Karangrejo Tulungagung, pak Haryadi orang Bantul yang mengajar di SMAN 4 Pangkal Pinang, Ibu Rina Hermana yang juga finalis OGN 2016 dari SMAN 1 Sumatera Barat, serta Ibu Guru cantik dari SMA Negeri 1 Tigapanah Karo Sumatera Utara, Ibu Des Syofianti.

Hari Pertama: tes teori

Tes teori dilaksanakan pada hari pertama, Selasa, 18 Juli 2017, mulai pukul 20.00 sampai dengan 21.30. Setiap peserta diharuskan duduk di kursi yang telah ditentukan di Ball Room Hotel. Peserta tidak boleh menggunakan alat hitung apapun. HP harus dalam keadaan mati dan dimasukkan dalam tas masing-masing. Pengawasan sangat ketat, oleh Bapak/Ibu dari Puspendik Balitbang Kemdikbud. Setiap peserta dalam tes ini harus menyelesaikan 100 soal pilihan ganda yang terdiri atas 50 butir soal sesuai dengan bidang keilmuan dan 50 soal pedagogik. Waktu yang disediakan 90 menit. Peserta menjawab menggunakan LJK (Lembar Jawab Komputer). Saya memulai dengan doa dalam mengerjakan soal-soal tes teori ini. Menghitamkan bundaran dalam LJK dengan pensil 2B yang dipinjamkan oleh panitia ternyata cukup merepotkan bagi saya. Saya lupa kapan terakhir melakukan pekerjaan ini, pasti sudah lebih dari lima tahun yang lalu.

Detik demi detik berlalu, soal-soal bidang keilmuan relatif menguras pikiran. Dengan stam (pernyataan) pada beberapa soal yang sukar dipahami dan panjang-panjang cukup melelahkan mata dan pikiran. Beberapa soal bahkan membuat saya tidak dapat menemukan jawabannya. Beberapa soal lagi membuat saya gemas, karena permasalahan pada aspek materi, konstruksi, dan bahasa yang menurut hemat saya tidak memenuhi kriteria sebagai soal yang baik. Hampir saja saya memosisikan diri sebagai reviewer soal, lupa kalau ini tes yang sebagai peserta saya harus mengerjakan dan menyelesaikannya. Kegemasan juga muncul ketika saya mendapatkan soal dengan tingkat kognitif yang rendah, yaitu mengingat, “Perubahan sosial adalah … Definisi tersebut dikemukakan oleh … muncul empat option: A. Kingsley Davis, B. Emmile Durkheim, C. … “. Kalau dalam tugas review soal, jelas soal demikian saya serahkan kembali kepada pembuat untuk dirombak total. Apalagi sekarang ini sedang gencar-gencarnya pelatihan penyusunan soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Saya berprasangka baik, barangkali memang soal-soal ini dibuat dengan tuntutan presisi kebenaran yang sangat tinggi, sehingga hanya peserta yang benar-benar faham yang dapat menjawabnya secara benar.

Kerepotan dalam menjawab soal juga saya alami ketika harus mengerjakan soal-soal pedagogik. Beberapa soal masih merujuk pada Kurikulum 2013 generasi pertama, padahal Pusat Kurikulum dan Perbukuan telah merevisinya, dan beberapa permendikbud tentang itu sudah digantikan dengan permendikbud baru. Tetapi tetap saja, soal harus dikerjakan. Saya tetap berprasangka baik, panitia menguji peserta dengan semua ketentuan pada kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia.

Ketika peringatan waktu tinggal 10 menit diberikan, saya baru selesai pada nomor soal 80. Masih ada 20 soal yang belum saya kerjakan. Berarti saya hanya punya waktu rata-rata setengah menit untuk mencermati setiap soal. Saya diuntungkan oleh sering ditugaskan oleh Direktorat Pembinaan SMA dalam pelatihan dan penyegaran kurikulum 2013 sebagai salah seorang IN (Instruktur Nasional). Permasalahan atau pertanyaan yang diungkap dalam soal  yang masih 20 butir itu sudah sering saya hadapi dalam tugas, maka selesai lah saya mengerjakan 100 butir soal dalam 90 menit. Tentang hasil, saya tidak begitu mempedulikan, yang penting bagi saya, saya telah mengerjakan dengan kemampuan maksimal jiwa raga saya, sampai pandangan mata gelap dalam melihat kejauhan karena selama 90 menit lebih banyak menundukkan wajah dan melihat kertas.

Hari kedua: Workshop Eksperimen di Fakultas Ilmu Sosial Kampus UNY

20046864_10211873511930832_3578365423708673503_nSetelah semalam “disiksa” dengan 100 butir soal yang harus selesai dalam 90 menit, di hari kedua OGN, peserta mulai pukul 07.00 sudah diarahkan untuk datang ke tempat workshop dan eksperimen di fakultas yang sesuai. Bidang Sosiologi dilaksanakan di  Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial UNY. Dulu saya kuliah di fakultas ini pada Jurusan Pendidikan Geografi ketika masih zamannya IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), dan fakultas ini bernama FPIPS (Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial).

Perasaan deg-degan muncul dan saya alami lagi ketika para peserta dipersilakan duduk di kursi yang telah disediakan. Penataan kursi membentuk model huruf “U”. Di bagian tengah ruang diletakkan kotak-kotak kardus bahan workshop yang bernomor 1 sampai dengan 15.

Ketua dewan yuri memulai dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan prosedur. Para peserta mendengarkan dan mengikutinya dengan cermat. HP harus dimatikan. Komunikasi internet di ruang workshop pun diputus. Workshop eksperimen dimulai tepat pada pukul 08.00. Kegiatan Pertama, peserta membuat analisis kebutuhan. Kepada peserta diberikan waktu 30 menit untuk menuliskan dengan tulisan tangan tentang analisis kebutuhan, yang meliputi profil guru, kelas dan kompetensi dasar yang akan dieksperimenkan, profil murid di sekolah yang diampu oleh guru, sarana dan prasaran sekolah yang tersedia, dan rencana dalam garis besar apa yang akan dilakukan. Saya menyelesaikan analisis kebutuhan ini dalam waktu kurang lebih 20 menit. Waktu yang tersisa, 10 menit, saya gunakan untuk membayangkan apa yang ada di dalam kotak-kotak yang ditata rapi di tengah ruangan, dan oleh ketua dewan yuri diinformasikan bahwa itulah bahan workshop yang berupa bahan-bahan bekas pakai. Ditegaskan oleh yuri bahwa media yang dibuat harus hanya menggunakan bahan-bahan yang disediakan, tidak diperkenankan menambah bahan atau menggunakan media yang dibawa dari rumah atau sekolah. Bahan-bahan media yang dibawa sendiri oleh beberapa peserta pun sementara disimpan oleh panitia.

Kegiatan Kedua, membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) lengkap sesuai ketentuan Kurikulum 2013 yang berlaku, merancang media pembelajaran yang disebut sebagai ecomedia sederhana, media ramah lingkungan, karena menggunakan bahan-bahan bekas pakai. Kesempatan ini juga kali pertama saya mendengar istilah ecomedia, media pembelajaran ramah lingkungan, yang tampaknya memang merupakan jenis media pembelajaran Non-IT yang dikembangkan di Jurusan Sosiologi FIS UNY. Barangkali para stakeholder di Jurusan Sosiologi UNY ini berpikiran bahwa karena bersifat Non-IT dan menggunakan bahan-bahan bekas pakai, menjadikan media ini dapat digunakan oleh semua sekolah dengan fasilitas apapun adanya. Demikian yang berkecamuk di pikiran saya.

Pukul 08.35, kegiatan yang akan berlangsung sampai dengan pukul 16.00 ini dimulai. Sesuai dengan analisis kebutuhan saya, saya akan merancang pembelajaran pada 2 X 45 menit pertemuan pertama tentang perubahan sosial dan dampaknya di kelas XII Semester 1. Saya mengingat apa yang saya tulis di analisis kebutuhan, kelas XII IPS terdiri atas 13 orang peserta didik, IQ di atas rata-rata plus, masuk di SMA Negeri 3 Yogyakarta dengan nilai pada SHUN di atas 379, berasal dari keluarga yang mengerti dan memahami pendidikan, sebagian besarnya adalah anak-anak aktivis event atau kegiatan sekolah, mereka memiliki pandangan kritis dan sebagian besarnya adalah ekstrovet, dan cepat bosan dengan keadaan. Saya berfikir: rancangan pembelajaran dan media yang akan saya buat harus sesuai dengan karakteristik mereka. Ini tafsiran saya terhadap apa yang di pikiran dewan yuri, pak Grendi Hendrastomo, Ketua Jurusan Sosiologi UNY, dan Ibu Indah Sri Pinasti, dosen senior Sosiologi UNY.

Saya mulai dengan membuka apa yang ada di kotak bernomor 3 yang oleh panitia telah ditempatkan di meja saya. Saya melihat dan tangan saya mencari-cari apa yang ada, tampak di bagian atas: Kalender Tahun 2016 UNY, tiga pak sedotan minum berwarna kuning, merah, dan hijau, kemudian satu pak gelas plastik untuk minum berwarna bening, jarum pentul, selembar kertas bungkus kado, tiga lembar kertas asturo berwarna kuning, hijau, dan jambon, dan sebuah solo-tip bening serta sebuah double-tip putih. Di luar kotak diberikan selembar gabus styrofoam putih yang begitu melihatnya saya kemudian teringat tentang bahayanya kalau bahan ini digunakan untuk mengemas makanan. Kritik diam saya kepada panitia adalah, bahan ini tidak ramah lingkungan.

Saya bingung apa yang akan saya lakukan. Lima sampai dengan 10 menit pertama saya tidak melakukan apa-apa. Grogi juga, karena 13 teman finalis yang lain telah menyentuh dan memulai membuat ecomedia. Saya belum menyentuh bahan-bahan itu, baru melihatnya. Belum tahu media macam apa yang akan saya buat dengan bahan-bahan itu, yang di pikiran saya baru, pertama, media yang akan dibuat harus sederhana, kedua, dengan media itu pesan tersampaikan dengan baik sesuai dengan karakteristik murid-murid saya, dan ketiga, saya mampu membuatnya dengan segala keterbatasan yang saya tuliskan di profil guru, antara lain tidak mampu menulis baik dan rapi.

Saya berniat memulai mengerjakan tugas ini dengan apa yang paling mampu saya lakukan, yaitu membuat RPP, sementara teman-teman finalis lain telah asyik dengan media pembelajaran. Saya melirik satu persatu 13 teman yang lain, karena memang tidak boleh saling komunikasi dan saling bantu atau saling mengganggu di antara para peserta.  Seorang teman, pak Haryadi, masih bengong seperti saya, tetapi pandangannya tertuju pada layar laptopnya. Sementara pak Abdul Wahab, tampaknya telah faham tentang media apa yang akan dibuatnya, ia telah memotong gabus styrofoam-nya. Teman-teman yang lain, bu Rita, Pak Firman, Pak Ismail, juga telah mulai asyik dengan bahan-bahan yang disediakan. Bahkan, bu Asteria yang tempatnya berjarak satu peerta di samping kanan saya telah duduk di lantai memotong-motong kardus bekas. Tapi saya tetap yakin bahwa harus mengerjakan dulu hal yang paling mampu saya lakukan: membuat RPP!

Memulai dengan RPP, membuat file, menulis identitas, mengkopi paste KI dari permendikbud 21 Tahun 2016, mengkopi paste KD dari permendikbud 24 Tahun 2016, dan ketika telah sampai pada tahap menyusun IPK (Indikator Pencapaian Kompensi), saya mulai mempunyai bayangan tentang media apa yang harus saya buat. Di IPK pertama, menjelaskan pengertian perubahan sosial, saya menemukan ide untuk memotong nama-nama bulan di kalender bekas. Tulisan nama-nama  bulan itu cukup besar. Saya beranggapan bahwa itu dapat saya gunakan untuk mengawali pembahasan tentang konsep perubahan. Sisa kalender yang kertasnya cukup tebal dan edisi luks, saya potong menjadi beberapa dengan ukuran setengah kertas kwarto. Saya mengambil beberapa, saya menuliskan beberapa angka tahun pada setiap lembarnya, 1908, 1928, 1945, 1966, 1988. Itu angka tahun penting yang menunjukkan titik-titik perubahan di Indonesia.

Saya lanjut dengan menuliskan IPK kedua, menjelaskan ruang lingkup perubahan sosial. Sepanjang pengalaman mengajarkan ruang lingkup perubahan, lingkup proses sosial cukup mudah difahami oleh siswa. Saya membayangkan ini akan lebih mudah dibelajarkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dituliskan di selembar kertas kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam gelas-gelas plastik yang disediakan. Inilah media yang akan saya buat, masih dalam bayangan. Tetapi tentang lingkup struktur sosial, cukup sulit memahamkan siswa. Saya kemudian memegang styrofoam  putih itu, mengambil sedotan minum, dan meletakkan beberapa untuk memvisualisasikan perubahan struktur sosial, dari stratifikasi berbentuk kerucut menjadi berbentuk diamond atau intan.  Telah ada dalam bayangan saya tentang media yang akan saya buat.

Saya lanjut dengan RPP. IPK ketiga, baik aspek pengetahuan (KD 3) maupun keterampilan (KD 4), KD 3: membandingkan jenis-jenis perubahan sosial, KD 4: mendiskusikan jenis-jenis perubahan sosial dan mengomunikasikan tentang perbandingan jenis-jenis perubahan sosial. Saya membayangkan proses diskusi kelas, ketemulah ide media yang akan digunakan. Lembaran digulung bertuliskan permasalahan yang akan didiskusikan di kelompok. Karena kelas hanya terdiri atas 13 peserta didik, maka permasalahan yang ada dibagi empat. Masing-masing kelompok nantinya akan mendiskusikan satu permasalahan. Akhirnya saya telah berhasil membuat satu media, dan membayangkan tiga media yang akan saya buat. Jadi di sini, semua IPK yang saya rumuskan saya buatkan medianya.

Ketika menuliskan langkah-langkah pembelajaran dalam satu pertemuan 2 kali 45 menit, bayangan tentang media yang akan saya buat semakin jelas, tetapi saya tidak akan tergesa-gesa membuatnya, saya memilih untuk menyelesaikan RPP yang lengkap terlebih dahulu, termasuk instrumen penilaian serta pedomannya dan lampiran yang berupa bahan ajar. RPP saya selesaikan dalam waktu sekitar 60 menit. Kurang lebih pukul 09.30 saya telah menyelesaikan pembuatan RPP yang benar-benar saya buat baru. Saya teruntungkan dalam laptop saya tersimpan dokumen-dokumen kurikulum dan bahan ajar, sehingga saya dapat melakukan salin-tempel untuk KI dan KD dan bahan ajar sebagai lampiran RPP mengenai pengertian, ruang lingkup, dan jenis-kenis perubahan sosial.

Saya istirahat sejenak, menggeliatkan badan. Saya melihat teman-teman saya masih asyik dengan proses membuat media pembelajaran. Semua asyik terdiam, komunikasi dan interaksi antar-teman hanya melalui pandangan mata atau saling tersenyum saja. Iseng saya melihat para dewan yuri sedang apa, dengan pak Grendy pandangan mata kami bertemu, begitu melihat saya beliau tersenyum, barangkali cukup terhibur melihat kebingungan saya.

Saya lanjut dengan membuat media tentang perubahan dalam lingkup struktur sosial. Selembar gabus putih itu saya letakkan di atas meja. Kemudian mengambil sepak sedotan minum, saya ambil beberapa untuk menggambarkan struktur sosial masyarakat. Saya letakkan sedotan-sedotan itu secukupnya sehingga membentuk dua macam bentuk stratifikasi sosial, pertama stratifikasi sosial masyarakat sederhana yang berbentuk kurucut dan pada masyarakat industri maju yang berbentuk diamond. Saya kemudian berfikir bagaimana merekatkan sedotan-sedotan itu di atas gabus. Saya oleskan lem pada sebatang sedotan, saya melekatkannya di permukaan styrofoam, ternyata tidak dapat melekat. Saya mencoba menggunakan staples kertas, cekrek, suara alat itu memecah keheningan, tidak dapat merekat. Jarum staples tidak dapat memegang sedotan minum itu di atas styrofoam. Saya eksperimen lagi, menggunakan jarum pentul, ternyata panjang jarum pentul melebihi ketebalan gabus, sehingga media menjadi tidak aman. Saya bingung. Melihat kiri kanan. Ada seorang teman yang sedang mengoleskan lem UHU di sebuah balon untuk direkatkan di styrofoam. Saya mengikuti jejak beliau, mengambil sebotol lem UHU yang disediakan oleh panitia sebagai fasilitas umum yang diletakkan di meja di tengah ruang, mengoleskan lem UHU di sebatang sedotan minum, mencoba melekatkan di permukaan styrofoam, dan berhasil. Yess. Puas. Plong rasanya. Kebingungan saya hilang. Saya memulai membuat media yang satu ini hingga selesai dalam bentuk kasarnya pada kurang lebih pukul 11.50. Dewan yuri mengumumkan bahwa 10 menit lagi waktu istirahat, semua peserta harus di berada luar ruang pada waktu istirahat. Pada 10 menit menjelang istirahat saya gunakan untuk melihat-lihat dan mencermati RPP yang telah saya ketik di laptop, dan melakukan perbaikan di beberapa bagian.

Waktu istirahat

Waktu Istirahat yang diberikan adalah 60 menit. Kami gunakan itu untuk makan siang sambil saling bercerita yang telah kami lakukan. Di antara kami terasa menjadi semakin dekat dan akrab. Mungkin ini karena nasib yang sama dalam membuat media. Peserta muslim dan muslimah pun kemudian berjamaah shalat dhuhur di mushola fakultas. Perjalanan menuju mushola pun masih dibumbui perbincangan tentang ecomedia. Ketika shalat, bahkan, di pikiran saya melayang-layang ingatan tentang ecomedia. Ecomedia benar-benar merupakan pengalaman pertama saya, maka saya merasakan betul tentang kegiatan ini yang dinamakan workshop eksperimen. Sebagai pengajar sosiologi, saya punya pemikiran bahwa ilmu-ilmu sosial itu jauh dari kegiatan-kegiatan yang sifatnya eksperimental, terkait dengan social cost yang ditimbulkannya.  Tetapi kali ini, saya dan teman-teman guru sosiologi harus bereksperimen tentang media pembelajaran.

Sesi dua workshop

Pukul 13.00 tepat, kami masuk lagi ke ruang workshop. Kami kembali menekuni tugas-tugas kami. Saya fokus pada menyelesaikan media pembelajaran dengan berbahan dasar gabus putih. Saya perindah media itu dengan memberi bingkai menggunakan batang-batang sedotan minum berwarna kuning. Juga atribut atau keterangan menggunakan kertas kalender bagian dalam berwarna putih yang telah dipotong-potong sesuai ukuran yang diperlukan, dan menuliskan menggunakan spidol “Masyarakat Industri Maju”, “Masyarakat Agraris Tradisional”, “Lapisan Atas”, “Lapisan Tengah”, “Lapisan Bawah”, dan simbol panah. Saya melekatkan dengan lem UHU atribut-atribut itu di tempat yang sesuai di atas styrofoam. Tulisan itu tampak khas, beberapa teman mengejek tulisan saya sebagai semacam tulisan dokter, atau lebih tepatnya menyerupai tanda tangan. Selesai.

Lanjut dengan membuat media berupa lembaran-lembaran bahan diskusi kelompok, tentang jenis-jenis perubahan sosial. Lembaran-lembaran itu, setelah dituliskan bahan diskusinya, digulung, diikat dengan karet gelang, dan dimasukkan dalam gelas-gelas plastik, yang akhirnya saya beri nama gelas-gelas konsep. Selesai.

Pandangan saya tertuju pada alat-alat yang ada di meja di tengah ruangan, ada bola-bola berwarna-warni, hijau – merah – kuning. Saya ambil satu bola berwarna hijau – saya tuliskan dengan spidol permanen hitam di permukaan bola itu “Bola Perintah”.  Media ini akan saya gunakan untuk memberikan perintah menjawab pertanyaan atau kegiatan lain yang harus dilakukan oleh siswa. Ini terinspirasi oleh apa yang dilakukan seorang mahasiswa PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) dari Jurusan Sosiologi UNY yang melakukan hal ini ketika melakukan praktek mengajar di kelas saya. Jadi, ketika ada mahasiswa PPL, yang belajar bukan saja mahasiswa terhadap guru pembimbingnya, tetapi juga guru terhadap mahasiswa yang dimbimbingnya.

Jam dinding di ruang workshop menunjukkan pukul 15.00 ketika dewan yuri memberi peringatan waktu masih satu jam lagi. Saya pun merasa telah cukup membuat media. Akan diapakan lagi, itu telah maksimal yang dapat saya lakukan. Beberapa sentuhan kecil dengan maksud memperindah media saya lakukan dengan tetap berpegang pada prinsip bahwa media yang dibuat harus sederhana. Saya kembali melihat ketikan RPP saya dengan mencermati apa yang tampak di layar laptop. Beberapa kesalahan ketik saya benahi, juga penataan tulisan. Pukul 15.20 saya memberi kode pada mahasiswa yang membantu kegiatan, bahwa RPP saya siap untuk diprint out. Mahasiswa yang bertugas dengan lincahnya menyalin dokumen dan kemudian mencetaknya. Hasil cetakan diserahkan kembali kepada saya untuk dilihat dan dicermati, kemudian membubuhkan paraf di setiap halaman dan tanda tangan di bagian akhir RPP. Saya pun melakukannya, dan saya berfikir bagaimana mendapatkan hasil cetak RPP yang dapat saya bawa ke hotel untuk dibaca ulang. Maka saya bilang kepada mahasiswa yang bertugas bahwa ada bagian yang salah dan harus dicetak lagi. Akhirnya saya mendapat cetakan RPP yang dapat saya bawa ke hotel.

Pukul 16.00 waktu untuk workshop berakhir. Setelah mendapatkan penjelasan tentang presentasi yang akan dilakukan pada hari ketiga, kami pun meninggalkan FIS UNY dengan lega. Saya pribadi merasa sangat lega, karena telah menyelesaikan pekerjaan yang di pagi hari menuju FIS tidak diketahui macam dan bentuknya. Dalam perjalanan menuju hotel, kami saling mengungkapkan yang kami rasakan, semuanya menyatakan telah lega karena telah mengerti dan menjalani apa yang sampai dengan pagi tadi menjadi tanda tanya besar: harus mengerjakan apa!

Hari kedua malam (19.00 – 00.30 dini hari ketiga)

Kegiatan malam ini presentasi BP. Peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang bercampur antar mata pelajaran, bahkan antara peserta OGN SMA/SMK dan LKG (Lomba Kompetensi Guru) SMK. Semua peserta harus berada di luar ruang presentasi. Satu per satu dipanggil masuk ke dalam ruang presentasi. Saya mendapat giliran nomor dua, dipanggil oleh peserta nomor pertama yang keluar dari ruang, “Bapak Agus Santosa dari SMA Negeri 3 Yogyakarta”, demikian sebutnya, saya pun kaget dibuatnya. Pelan-pelan saya masuk ke ruangan, file presentasi saya sudah terpasang di laptop yang disediakan. Dewan yuri menyampaikan bahwa presentasi dalam 10 menit, lima menit pertama untuk presentasi, dan lima menit kedua untuk pertanyaan-pertanyaan yang harus saya jawab. Saya menyelesaikan presentasi tepat dalam lima menit. Menghitungnya relatif mudah, karena sheet presentasi dibatasi hanya lima, sehingga kalau satu sheet satu menit, maka pastilah tepat waktunya.

Berikutnya adalah pertanyaan yuri pertama, seorang dosen bergelar doktor yang saya belum mengenalnya. “Pak Agus, dengan model atau strategi pembelajaran itu,  produk yang dihasilkan siswa berupa apa? Kemudian apa manfaat dari produk itu?” . Saya menjawab singkat, “siswa dalam kelompoknya membuat tayangan PPT dan harus mempresentasikan di depan kelas. Salah satu prinsip model pembelajaran yang saya pilih, adalah siswa memiliki kesempatan mengajarkan pemahamannya kepada siswa lain, sehingga pemahaman siswa yang melakukan presentasi akan semakin baik. Tentang manfaat, bagi guru adalah untuk evaluasi pembelajaran yang dilakukannya, bagi siswa akan semakin memahami hal yang dipelajarinya, juga barangkali bagi guru lain untuk dipertimbangkan digunakan dalam pembelajarannya”. Yuri pertama selesai, Yuri kedua bertanya dan pertanyaannya mengangetkan saya, “Pak Agus, model pembelajaran ini sangat baik. Apakah guru lain di sekolah Bapak juga melakukannya? Atau apakah bapak telah menularkan ini kepada guru lain di sekolah Bapak?” Saya bingung atas pertanyaan ini, “belum tahu pak, karena saya tidak punya otoritas untuk masuk dalam kelas pembelajaran guru lain, dan saya belum menularkan ini kepada teman-teman guru lain di sekolah saya”. Yuri kedua yang saya juga belum mengenal beliau, manggut-manggut saja, saya tidak tahu apa penafsirannya, tetapi ketika belau berkata, “model ini sangat bagus, sudah sepatutnya bapak menularkan ini kepada guru-guru lain di sekolah bapak.”. Selesai. Saya dipersilakan meninggalkan ruang dan memanggilkan peserta berikutnya.

Saya selesai presentasi sekitar pukul 20.30, tetapi karena setiap ruang presentasi dengan dua yuri harus menguji kurang lebih 17 sampai dengan 20 orang peserta, ada yang baru selesai presentasi pukul 00.30, seperti yang dialami oleh seorang finalis bidang Sosiologi, mbak Asteria dari Banten. Padahal bu guru ini telah menenteng laptopnya dalam keadaan terbuka sejak sehabis magrib.

Selesai presentasi, saya ke restoran hotel untuk sekedar menikmati kudapan dan minum kopi tanpa gula. Sudah beberapa waktu, kurang lebih satu tahun, saya memiliki kebiasaan kalau minum kopi tanpa gula, pahit memang. Tapi entah mengapa, saya suka. Barangkali terinspirasi oleh seorang teman saja. Kurang lebih pukul 22 saya masuk kamar hotel, dan tidur pulas. Terbangun kurang lebih pukul setengah empat pagi, dan saya menuju masjid kampus untuk shalat malam dan jamaah subuh.

Hari ketiga

20245646_10211873514850905_4337552450872606576_nPagi hari, mulai jam 07.30 adalah presentasi workshop atau hasil eksperimen di kampus. Saya mendapat giliran berdasarkan undian nomor 10. Sehingga datang ke kampus FIS agak siang, kurang lebih pukul 08.45. Bersama beberapa teman, bu Rita dan bu Desyofianti, kami berjalan pelan-pelan menuju FIS. Di perjalanan menuju kampus, kami tidak lagi bicara media pembelajaran. Tapi justru bicara tentang kampus UNY dan jurusan Sosiologi. Kebetulan saya cukup tahu tentang Jurusan Sosiologi UNY dan kerjasama serta dukungannya terhadap MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta dan DIY, saya banyak menceritakan kepada kedua teman saya itu, dan mereka membandingkannya dengan kampus di mana mereka kuliah.

Tiba giliran presentasi nomor undian 10. Menjelang itu, dua mahasiswa menghampiri meja saya, dan menyatakan sekarang giliran bapak. Degs. Saya merasakan seperti dijemput penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).

Masuk ruang presentasi, saya mengucap, “Assalamu ‘alaikum, selamat pagi”, dijawab oleh kedua Yuri. Di dalam ruang telah siap dua orang dewan yuri dan seorang mahasiswa yang merekam dengan kamera proses presentasi dan seorang mahasiswa yang membantu menyiapkan dan memegangkan alat-alat yang dipresentasikan. Waktu presentasi 20 menit, 10 menit pertama untuk presentasi, dan 10 menit kedua untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan yuri. Yuri pertama bertanya, “Pak Agus, mengapa media yang bapak buat itu, kok bukan TTS atau lainnya?”. Saya menjawab, “Ini saya buat dengan merujuk pada analisis kebutuhan yang saya buat, pak. Sesuai dengan karakteristik murid-murid saya dan profil guru. Saya tidak mampu menulis dengan tangan secara rapi. Sehingga saya membatasi banyak tulisan di media yang saya buat. Media saya buat yang sederhana, di samping ini sesuai dengan judul workshop, ecomedia sederhana, saya memperhatikan karakteristik murid-murid saya, kalau medianya rumit untuk pesan yang sebenarnya dengan mudah mereka fahami, maka justru akan kontraproduktif. Mereka cepat bosan dengan penyampaian pesan yang bertele-tele dalam istilah Jawanya”. Saya berusaha menemukan kata ganti bertele-tele dalam bahasa Indonesia, tetapi tidak menemukan.

Giliran  Yuri kedua bertanya, “dari profil bapak saya mengerti bahwa bapak lebih banyak menggunakan media IT dalam pembelajaran dan ini adalah pengalaman bapak membuat media non-IT, bagaimana perasaan bapak ketika harus membuat ecomedia non-IT?

“Sebenarnya bukan pertama, Ibu. Pada tahun-tahun awal menjadi guru, 1987 sd 1990an awal, saya mengajar di sebuah sekolah yang tidak memiliki jaringan listrik. Saya menggunakan kertas-kertas manila yang saya tempel di papan tulis hitam kelas saya. Tentang kesan saya setelah cenderung menggunakan IT, media ini ramah lingkungan dan siap dengan segala situasi, karena tidak tergantung pada ketersediaan listrik. Keramahan terhadap lingkungan saya rasakan, karena dibuat dengan bahan-bahan yang murah atau bekas pakai”. Ketika menjawab tentang keramahan terhadap lingkungan, sebenarnya saya ingat tentang gabus putih itu. Tapi pikiran saya tentang styrofoam tidak saya ungkapkan.

Yuri pertama mengajukan pertanyaan, “apakah bapak yakin dengan media yang bapak buat dapat memudahkan siswa terhadap materi yang diajarkan?”. Jawab saya: “Yakin”.  “Menurut bapak,  apakah media ini apabila digunakan di kelas yang murid-muridnya berkemampuan di bawah murid-murid Bapak di SMA 3 juga dapat digunakan?” “Bisa. Media ini cukup sederhana, simpel, mudah dibuat, dan merupakan visualisasi yang tepat dari struktur sosial, yang merupakan konsep abstrak dalam sosiologi.

Selesai. Plong. Saya sudah menyelesaikan semua kegiatan dan pekerjaan yang harus dilakukan dalam OGN tingkat Nasional ini.

20264609_10211873504730652_657875389947329727_nPada sore harinya kami diberi kesempatan dan diantarkan ke tempat rekreasi. Dengan enam bus, kami diantarkan ke objek wisata sejarah dan budaya, Candi Prambanan. Karena saya orang DIY, rekreasi ini terasa tidak istimewa, Namun, ketika sadar bahwa teman-teman finalis lain berasal dari luar DIY, saya kemudian menjadi bersemangat mengikuti tour ini. Saya sudah berniat menjadi tour guide bagi teman-teman saya tentang objek wisata DIY. Niat ini tidak terwujudkan, karena teman-teman saya akhirnya lebih banyak berfoto dengan latar belakang Candi Prambanan.

Sore terakhir yang melegakan

Pada hari ketiga malam setelah presentasi workshop dan rekreasi, kami para finalis cenderung santai. Di antara mereka banyak yang kemudian mengunjungi Malioboro yang menjadi ikonnya Yogyakarta, dan ada beberapa juga yang duduk-duduk santai di lobi hotel. Saya termasuk yang santai duduk-duduk di lobi hotel, sambil mengkopi file foto-foto kegiatan workshop yang diberikan oleh mbak Endah, dosen Sosiologi UNY yang sepanjang workshop mendampingi dan melayani kami, ke beberapa flashdisk teman-teman yang memerlukan.  Namun, akhirnya saya merasa mempunyai kewajiban mengantarkan beberapa teman dari Banten yang walaupun sudah cukup malam, tetapi berkeinginan mendapatkan oleh-oleh berupa makanan khas Yogyakarta sebagai buah tangan bagi keluarga dan teman-teman di sekolahnya. Penerbangan pulang yang agak awal, pukul 13.40, diperkirakan menjadikan tidak cukup waktu untuk belanja pada hari terakhir, karena diperkirakan pengumuman dan penutupan kegiatan baru berakhir di menjelang waktu ibadah Jumat. Saya antarkan mereka menggunakan Corolla tua saya ke sebuah pusat oleh-oleh makanan khas Yogyakarta. Ini muncul sebagai kesadaran pribadi saya, didorong oleh ucapan-ucapan saya kalau sedang bertugas menerima kunjungan tamu sekolah di SMA Negeri 3 “Padmanaba” Yogyakarta, saya selalu menyampaikan pesan, “habiskan uang bapak ibu di Yogyakarta”. Kontribusi yang barangkali cukup atau sangat kecil untuk imbauan yang semoga berdampak pada meningkatnya kesejahteraan orang Yogyakarta.

Hari keempat: Pengumuman pemenang dan penutupan

Saat yang dinanti-nantikan, barangkali oleh semua finalis. Termasuk saya. Jujur: malamnya saya tidak bisa tidur nyenyak setelah masuk kamar sekitar pukul 23.00. Jadi, sore dan petang kemarin yang melegakan, sebenarnya berlanjut dengan malam dan pagi berikutnya yang menegangkan, atau menggelisahkan. Di upaya tidur malam yang sangat susah itu, saya berfikir, apa besuk pagi yang akan saya raih di event lomba ini. Sementara dalam pikiran saya teringat akan dukungan dan semangat yang diberikan oleh orang-orang dekat saya, antara lain ibu Dwi Rini Wulandari, kepala Sekolah saya di SMA Negeri 3 Yogyakarta yang ketika saya pamit untuk segera ke hotel UNY di hari pertama mengucapkan, “Selamat berjuang, ya Dik. Harus medali emas yang dibawa pulang, dan saya yakin itu!”.  Pesan ini sangat menekan sebenarnya. Maka saya hanya menjawab dengan senyum dan mohon diri dengan jabat tangan. Beberapa pesan di grup WA dan percakapan pribadi dengan beberapa teman pun demikian, membuat saya merasakan beban yang luar biasa. “Sukses, pak. Seorang IN pasti menguasai apapun yang diujikan dalam OGN”, “Guru senior pasti telah banyak makan asam dan garam”, “Kalau njenengan (Anda) memenangkan lomba, sebernarnya bagi saya itu hal biasa”, sebutan “Suhu Sosiologi” dari teman-teman guru Sosiologi di grup WA IGMP Sosiologi Indonesia itu pun menjadi hal yang menambah beban saya. Sebutan “abah” bagi saya lebih menenangkan daripada “suhu sosiologi”. Saya menanggapi itu semua dengan kalimat pernyataan, “saya akan meramaikan arena saja, biarkan teman-tema yang lebih muda untuk memenangkannya, saya akan berada di belakang mereka”. Sebenarnya ini pernyataan saya agar saya tetap “aman” kalau dalam OGN ini saya tidak meraih apa-apa. Dan, hal ini ditangkap oleh guru muda peraih medali medali emas bidang Sosiologi dalam OGN 2016, Jerry Wicksson dari Jepon Blora, ia menanggapi pernyataan saya di grup WA dengan: “ini sebuah postingan untuk mengamankan diri”. Jerry itu memang guru muda yang cerdas. Walau saya belum pernah bertemu langsung, tetapi saya merasakan aura kecerdasannya.

Acara penutupan jam 09.00, tetapi para finalis harus masuk ruang ballroom pada pukul 08.00, ada acara evaluasi. Diberi kesempatan kepada empat orang untuk menyampaikan pendapatnya tentang pelaksanaan OGN tahun ini, juga masukan dan saran. Walau saya sebenarnya mempunyai bahan-bahan masukan, tetapi tidak saya lakukan. Bahkan, saya tidak cukup konsentrasi mendengarkan empat teman yang menyampaikan evaluasi, saran, dan masukan.

Pukul 09.15, mundur 15 menit dari waktu yang direncanakan. Upacara penutupan dimulai. Pembawa acara menyampaikan susunan acara. Diawali dengan laporan ketua panitia, kemudian sambutan dari wakil UNY, dan pengumuman oleh wakil dewan yuri. Dengan cermat para finalis mendengarkan, beberapa mungkin merasakan seperti apa yang saya rasakan, deg-degan.

Yang pertama diumumkan oleh Dewan Yuri adalah, peraih best perfomance dalam best practice. Disebutkan nama-nama. Bidang sosiologi bukan saya, tetapi bu Widi Hidayati dari SMAN 1 Bawang Banjar Negara. Saya apresiasi kepada beliau, karena saya yakin bu Widi ini guru yang tekun. Saya mulai mengenalnya ketika saya diundang untuk workshop penyusunan soal USBN 2017 di MGMP beliau, Banjar Negara.

Selanjutnya pengumuman tentang peraih Best Eksperimen dalam Workshop, disebutkan nama-nama satu persatu mulai dari Bidang Matematika. Sampai pada Bidang Sosiologi, Agus Santosa, dari SMA Negeri 3 Yogyakarta. Plong rasanya, saya merasa mempunyai modal untuk tidak begitu mengecewakan harapan-harapan orang-orang dekat saya, terutama Bu Dwi Rini Wulandari, kepala sekolah saya. Kalau dari istri dan anak-anak saya tidak ada harapan apapun, bahkan anak perempuan saya, Fahma Ainurrizka yang sekarang duduk di kelas XII SMA, menyatakan, “Kalah juga tidak apa-apa, pak. Kan tidak ada ruginya apa-apa”. Kalimat ini cukup menenangkan saya.

Pengumuman peraih medali peranggu. Bidang Sosiologi diraih oleh Ibu Rita Indawatik, dari SMA Negeri 2 Sragen. Karena saya telah mendapatkan penghargaan sebagai best eksperimen atau best workshop, saya tidak begitu merasa sentimental pada pengumuman peraih medali perunggu ini. Demikian juga ketika pengumuman medali perak, yang untuk Bidang Sosiologi diraih oleh Bu Asteria, guru muda dari SMA N CMBBS Banten, saya pun netral-netral saja. Barangkali karena sudah cukup puas dengan penghargaan best workshop.

Ketika pengumuman siapa yang mendapatkan juara pertama atau medali emas, perasasan saya kembali bergejolak, dengan penilaian pribadi yang sangat terbatas dan tanpa dasar yang jelas atas teman-teman finalis bidang Sosiologi yang dengan cepat melintas di pikiran saya, kalau Bu Rita mendapatkan Perunggu dan bu Asteria mendapatkan Perak, dengan cukup percaya diri saya memprediksi, maka yang mendapatkan medali emas adalah saya. Dan benar, ketika bidang sosiologi disebutkan nama pemenangnya, “Agus Santosa dari SMA Negeri 3 Yogyakarta”, maka saya terbayang ibu Kepala Sekolah saya, istri saya, kedua anak saya, dan sedikit menitikkan air mata haru. Dengan cepat saya menulis pesan WA kepada grup WA pimpinan sekolah, “Saya mendapatkan best eksperimen dan emas”, pesan yang sama saya teruskan ke grup WA keluarga, dan seorang teman baik saya. Dan saya sadar, prestasi ini atas dukungan dan doa dari banyak pihak sehingga di usia saya yang menjelang pensiun ini dapat meraih medali emas dalam event yang cukup bergengsi di kalangan guru, OGN, Olimpade Guru Nasional 2017.

Akhirnya, terimakasih kepada istri saya, dua anak saya, Bu Rini, Kepala SMA Negeri 3 Yogyakarta, teman sejawat di SMA Negeri 3 Yogyakarta, Bu Devy, pak Ichwan, Pak Didik, pak Maryoto, pak Wahid, Bu Susilowati, Bu Muslimah, pak Rudy, Bu Nanik, bu Eko Sulis, dan semua teman-teman guru dan karyawan sekolah, Bu Tatik, kepala Balai Dikmen Kota Yogyakarta yang telah memaksa saya mengikuti kegiatan ini melaui Bu Ngatini  dan mbak Rini, pak Yun Arif dan mbak Yunty dari Subbag Kepegawaian Dinas Dikpora DIY, Profersor Idris Harta, Ph.D., teman-teman TPK SMA DIY, Bapak-ibu sesama Fasilitator dan Tim Penyegaran Instruktur DitPSMA Kemdikud, bu Ririn Wahyu Priyanti dan teman-teman MGMP Sosiologi Kota Yogyakarta dan DIY, semua teman-teman anggota grup WA IGMP Sosiologi Indonesia, dan masih banyak lagi yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Terimakasih juga saya sampaikan kepada segenap panitia OGN 2017 di UNY atas semua fasilitas yang diberikan, Dewan yuri teori, dewan yuri BP, dewan yuri workshop dan eksperimen, civitas akademika Jurusan Sosiologi UNY: Bu Endah, Bu Aris, Bu Indah, Pak Grendy, juga Astri -mahasiswa sosiologi UNY- dan teman-temannya yang telah sangat banyak membantu kelancaran workshop. Tak lupa dan sangat penting, terimakasih dan penghargaan yang sangat tinggi kepada teman-teman sesama finalis Sosiologi, bidang-bidang lainnya, dan disebut terakhir tetapi sangat penting: Kontingen DIY, Bu De Ha (Dwi Hartini) Matematika, Bu Uminingsih dan Bu Sutartinah Ekonomi,  Bu Eny Farhaini Sejarah, Bu Vivit Bahasa Inggris, dan Pak Agung Nugroho PJOK yang juga teman satu kamar dengan saya, dalam OGN 2017 di Yogyakarta.

Demikian, dan segala puji hanya kepada Allah Tuhan Sekalian Alam.

 

Minggir, 23 Juli 2017

Salam

Agus Santosa

Advertisements

8 thoughts on “Pengalaman Mengikuti OGN 2017 di Yogyakarta

  1. Wuiiiis siiiip dan menukik sampai ke akar2nya. Selamat mas Agus atas kerja keras telah terbukti dengan prestasi nomer siji.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s