Sosiologi: dari yang sepele sampai dengan yang besar


Setelah hampir 30 tahun, sejak 1987 hingga sekarang (2016) , mengajarkan Sosiologi di tingkat SMA, ditambah beberapa kali kesempatan bertemu dengan teman-teman sesama guru yang mengajarkan Sosiologi di DI Yogyakarta, Surakarta, Magelang, Purworejo, Malang, Madiun, Sidoarjo, dan Sawahlunto di Sumatera Barat, juga kesempatan bertemu dengan para ahlinya di beberapa kampus, terutama di kampus besar UGM dan yang ada di dekatnya – UNY, saya merasa semakin tidak tahu apa-apa tentang Sosiologi. Bahkan, untuk menjawab pertanyaan anak SMA yang sangat sederhana Continue reading

Pejuang (Pahlawan) Modern


November identik dengan pahlawan. Pada 10 November, di banyak tempat diselenggarakan upacara peringatan hari pahlawan dan tabur bunga di makam para pahlawan patriot bangsa. Seberapa besar hal ini menggelitik emosi dan memori kita tentang kepahlawanan? Sebuah tulisan di Harian Kompas, Sabtu 9 November 2013 kemarin mengingatkan bahwa, semoga ingatan kita tentang pahlawan tidak sekedar berhenti dengan makam pahlawan dan tugu pahlawan di Surabaya saja. Walaupun memang, pada banyak orang, setelah tujuh Pahlawan Revolusi, sudah tidak dapat lagi mengidentifikasi secara gamblang siapa patriot bangsa yang dapat dielu-elukan sebagai pahlawan nasional. Bukan saja karena tidak ada perang yang nyata atau dalam arti sebenarnya, tetapi publikasi mengenai pejuang modern, seperti penjaga perbatasan yang mempertaruhkan nyawa, sangat sedikit. Jangankan anak sekolahan, orang dewasa pun banyak yang tidak menyadari adanya pejuang-pejuang yang mengorbankan jiwa, raga, dan keluarganya demi membela negara. Continue reading

Islam dan Politik


lambang-partai1Sumber tulisan ini dari yang ditulis oleh Yudi Latif dalam kolom di Harian Republika, 18 Mei 2013. Saya merasa penting untuk mengutip karena sangat bermanfaat sebagai referensi atau perluasan wawasan dalam kajian pembelajaran di kelas Sosiologi mengenai keanekaragaman masyaraka Indonesia sebagai masyarakat majemuk atau multikultural atau plural.  Diuraikan dalam tulisan tersebut bahwa dari sejumlah survei dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Masyarakat Indonesia saat ini jauh lebih “religius” (taat beribadah) dibanding pada dekade 1950-an.

Survei Nasional Reform Institute belum lama ini menemukan, rata-rata 73 persen dari total pendukung 10 partai terbesar menyatakan selalu menjalankan ibadah. Dengan gambaran tersebut, sulit melakukan kategorisasi aliran kepartaian berdasarkan ketaatan keagamaannya, seperti dalam tipologi Clifford Geertz. Dengan alasan, baik pengikut partai-partai Islam maupun partai nasionalis, memiliki tingkat ketaatan beribadah yang relatif sama. Meskipun, masyarakat Indonesia berkembang ke arah yang lebih religius, tidaklah otomatis mengarah pada meningkatnya dukungan terhadap partai-partai Muslim (berasas Islam maupun Pancasila). Continue reading

Nilai, Norma, dan Sanksi


28330_1466537586607_1328553993_31252599_4765338_nApabila kita hendak mempelajari kebudayaan suatu masyarakat, pada dasarnya kita mempelajari nilai (value) yang dianut oleh sebagian besar warga masyarakat tersebut. Nilai merupakan ide atau gagasan mengenai kehidupan yang dikehendaki. Jika kita mengungkapkan nilai yang dianut oleh seseorang, maka kita    sama saja dengan mengungkapkan anggapan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, yang pantas dan tidak pantas, yang mulia atau yang hina, menurut orang tersebut. Nilai akan menjadi preferensi dan menjadi pedoman atau panduan bagi para penganutnya dalam melakukan pilihan-pilihan, dan mengindikasikan apa yang dianggap berharga bagi orang tersebut.

Setiap kelompok atau masyarakat mengembangkan harapan mengenai cara-cara yang benar untuk merefleksikan nilai-nilainya. Para sosiolog menggunakan norma (norm) untuk menggambarkan harapan-harapan tersebut, atau aturan perilaku, yang berkembang dari nilai-nilai suatu kelompok/masyarakat.  Continue reading

Folkways dan Mores


fwPada beberapa kesempatan pembelajaran di kelas sosiologi muncul pertanyaan siswa tentang sebenarnya apa perbedaan antara folkways dan mores. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini sehingga siswa memiliki pemahaman yang sebenarnya tentang folkways dan mores. Ketidakmudahan ini karena antara lain adanya relativitas norma, bahwa suatu tindakan pada masyarakat tertentu merupakan mores, tetapi di masyarakat yang lain bisa saja hanya sebatas folkways.

Dalam bukunya “Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi. Edisi 6. Jilid I”, James M. Henslin menjelaskan bahwa “norma-norma yang tidak ditegakkan secara tegas disebut folkways”.

Orang-orang mengharapkan untuk menaati folkways, tetapi orang-orang tidak mempermasalahkan ketika seseorang tidak Continue reading

Penyerderhanaan Masalah Dalam Konflik Horizontal


Ada artikel bagus yang saya temukan pagi hari ini di Koran Tempo. Artikel yang ditulis oleh Suhardi Alius, Kepala Divisi Humas POLRI ini kiranya akan dapat lebih menjelaskan tentang permasalahan yang muncul atau menjadi sumber dari konflik sosial horizontal, sebagaimana telah mulai dipelajari oleh anak-anak SMA pada kelas XI IPS.

“Konflik adalah fenomena sosial yang selalu ditemukan di dalam setiap masyarakat”, demikian Suhardi Alius memulai artikelnya. Konflik tidak pernah bisa dihilangkan karena setiap hubungan sosial mempunyai potensi menghasilkan konflik. Semakin demokratis sebuah negara, semakin besar kemungkinan terjadinya konflik di dalam masyarakat, karena gesekan-gesekan antar-kelompok di dalam masyarakat semakin intens. Continue reading

Ringkasan Materi Kelas XII: Modernisasi, Urbanisasi, Modernisasi dan Pembangunan


Pengertian Modernisasi

Modernisasi dapat diartikan sebagai proses perubahan dari corak kehidupan masyarakat yang “tradisional” menjadi “modern”, terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Teori modernisasi dibangun di atas asumsi dan konsep-konsep evolusi bahwa perubahan sosial merupakan gerakan searah (linier), progresif dan berlangsung perlahan-lahan, yang membawa masyarakat dari tahapan yang primitif kepada keadaan yang lebih maju. Continue reading

Sekilas Tentang Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru


Uji Kompetensi Guru -UKG- yang dalam masyarakat menimbulkan wacana pro kontra, akhirnya harus terlaksana juga dan diikuti oleh semua guru, baik yang telah bersertifikat pendidik maupun yang belum. Walaupun karena teknis pelaksanaannya, di waktu dekat (mulai 30 Juli sampai dengan 12 Agustus 2012) akan dilaksanakan (di DI Yogyakarta) bagi guru yang telah bersertifikat mulai tahun 2007 sampai dengan 2011, pada tahun 2012 belum memasuki masa pensiun, dan masih aktif menjadi guru atau guru yang diangkat dalam jabatan kepala sekolah atau pengawas, dengan sistem online. Continue reading

Menjadi Guru Untuk Apa?


Bukan karena saya guru sehingga tertarik oleh tulisan ini. Tapi memang judul tulisan ini benar-benar menarik. Menjadi guru untuk apa? Saya sendiri yang telah lebih dari 20 tahun menjadi guru, belum satu kalipun bertanya pada diri sendiri, apalagi kepada orang lain, menjadi guru untuk apa. Dan, tulisan Asep Sapa’at, Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa, di harian Republika 11 Januari 2012 ini memang benar-benar menginspirisi saya untuk setidaknya merenung-renung, untuk apa saya menjadi guru. Atau, bahkan saya berfikir bahwa saya ini guru tapi tampaknya bukan guru, atau tampaknya guru, tapi jangan-jangan saya ini bukan guru ….. Continue reading

Jogja Education Club #2 di UII


Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi, Universitas Islam Indonesia (UII) mempunyai tanggung jawab sosial, terlebih berbagai hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Seperti halnya beberapa issue yang muncul akhir-akhir ini. Diantaranya terkait permasalahan akan kualitas karakter manusia Indonesia yang semakin meningkat, lapangan pekerjaan yang semakin sempit serta efek yang timbul dari dinamika perubahan ekonomi, ungkap Rektor UII Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. pada diskusi Jogja Education Club  bertajuk Reorientasi dan Revitalisasi Pendidikan pada Selasa (7/12), di Kampus UII Jl. Cik Ditiro No. 1 Yogyakarta. Continue reading